Wartabuana.com — Fenomena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sering kali hadir tanpa suara. Di balik foto keluarga bahagia dan hubungan yang tampak harmonis, banyak perempuan diam-diam menyimpan luka fisik maupun trauma emosional yang sulit diungkapkan. Isu inilah yang diangkat secara kuat dan emosional dalam film terbaru produksi SinemArt, Suamiku Lukaku.
Menjelang penayangannya di bioskop pada 27 Mei 2026, film ini tak hanya hadir sebagai tontonan drama keluarga, tetapi juga membawa misi sosial lewat rangkaian Psychology Talkshow & Public Discussion bertema “Memahami Trauma dan Kekerasan dalam Relasi” yang digelar di Bekasi dan Bogor, Selasa (6/5).
Putri Ayudya Ajak Publik Berani Bicara Soal Luka dalam Relasi
Berlokasi di Universitas Bani Saleh Bekasi dan Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara Bogor, acara diskusi publik tersebut menghadirkan aktris Putri Ayudya sebagai pembicara utama. Kehadirannya menjadi ruang refleksi sekaligus edukasi tentang dampak panjang kekerasan verbal maupun fisik dalam sebuah hubungan.
Menurut Putri Ayudya, banyak korban kekerasan memilih diam karena merasa kehilangan ruang untuk bersuara.
“Banyak perempuan dibungkam oleh kekerasan dari orang terdekatnya. Kekerasan emosional dan fisik bertahun-tahun meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat, tapi dampaknya sangat dalam dan nyata,” ujar Putri Ayudya
Ia juga menegaskan bahwa diskusi publik seperti ini penting untuk membuka percakapan yang selama ini dianggap tabu.
“Saling berbagi melalui public discussion ini semoga menjadi ruang-ruang kecil untuk mulai membicarakannya. Karena seperti yang dialami Amina dalam film, selalu ada kesempatan untuk bangkit, sekecil apa pun langkah yang diambil,” lanjutnya.
Drama Rumah Tangga yang Menyimpan Teror

Disutradarai oleh Ssharad Sharaan dan Viva Westi, serta ditulis oleh Titien Wattimena bersama Beta Ingrid Ayu, Suamiku Lukaku menghadirkan cerita yang dekat dengan realitas sosial masyarakat Indonesia.
Film ini mengikuti kisah Amina, diperankan Acha Septriasa, seorang ibu yang hidup dalam tekanan dan ketakutan setelah menikah dengan Irfan, karakter yang dimainkan Baim Wong.
Di mata orang lain, Irfan terlihat sebagai sosok suami ideal. Namun di balik pintu rumah, ia menjadi figur yang penuh intimidasi dan kekerasan. Situasi semakin rumit ketika kesehatan putri mereka, Nadia, memburuk dan nyawanya terancam.
Dalam kondisi terpuruk itulah Amina bertemu Zahra, seorang pengacara pembela hak perempuan yang diperankan Raline Shah. Pertemuan tersebut menjadi titik balik yang menghadirkan harapan sekaligus keberanian untuk melawan.
Tak hanya menghadirkan konflik emosional, film ini juga dibintangi Ayu Azhari dan Putri Ayudya yang memperkuat lapisan dramatis cerita.
Bukan Sekadar Film, Tapi Refleksi Sosial
Sutradara Ssharad Sharaan menyebut Suamiku Lukaku sebagai refleksi dari realitas yang sering luput dari perhatian masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan cerita yang merupakan cerminan isu yang dekat dan nyata di masyarakat namun kerap luput dari perhatian. Pernikahan yang terlihat harmonis namun menyembunyikan kekerasan dalam hubungan rumah tangganya,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa film ini ingin menyuarakan keberanian korban untuk memutus rantai ketakutan dan mulai melawan.
Pesan tersebut terasa relevan dengan kondisi sosial saat ini, ketika isu kesehatan mental, trauma relasi, dan KDRT mulai semakin banyak dibicarakan publik, namun masih sering dianggap sebagai masalah privat yang tabu untuk diungkap.













