Wartabuana.com — Di tengah gemerlap industri perfilman, ada suara yang selama ini kerap luput terdengar—suara para pekerja kreatif di balik layar. Lewat MAD FEST Merah Putih, suara itu kini menemukan panggungnya sendiri, bukan hanya untuk diapresiasi, tetapi juga diperjuangkan.
Festival Film dengan Misi Sosial yang Kuat
Ketua Panitia MAD FEST Merah Putih, Sonny Pujisasono, menegaskan bahwa festival film pendek ini tidak sekadar menghadirkan tontonan yang estetis, tetapi juga membawa pesan yang lebih dalam: keberagaman dan aspirasi pekerja kreatif.
Menurutnya, konsep festival dirancang untuk tetap menarik secara visual tanpa kehilangan substansi.
“Lebih atraktif dan estetis, tetapi misinya tetap tercapai—mengaspirasikan keberagaman para pekerja,” ujarnya.
Festival ini akan diluncurkan bertepatan dengan Hari Buruh Internasional dan dirancang menjadi agenda tahunan.
Puncaknya akan berlangsung setiap 8 Agustus, menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia—sebuah simbol perjalanan perjuangan pekerja kreatif bagi bangsa.
Lahir dari Keresahan Industri

MAD FEST Merah Putih diinisiasi oleh Serikat Pekerja Kreatif Perfilman Indonesia bersama Citra Film School dan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail.
Inisiatif ini muncul dari realitas pahit: masih minimnya perlindungan sosial dan jaminan kesejahteraan bagi pekerja film.
Baik pekerja senior maupun pendatang baru disebut masih banyak yang belum memiliki payung hukum dan perlindungan yang layak.
“Kami ingin serikat ini menjadi jangkar perlindungan sosial bagi seluruh pekerja kreatif,” tegas Sonny.
Masalah Lama: Arsip Film yang Terlupakan

Di luar isu kesejahteraan, persoalan pengarsipan film juga menjadi sorotan serius. Banyak film Indonesia yang sukses besar—ditonton hingga jutaan penonton—namun belum memiliki sistem dokumentasi yang memadai.
Akibatnya, karya-karya tersebut terancam hilang dari akses generasi mendatang.
“Film bukan hanya hiburan, tapi artefak budaya bangsa,” kata Sonny, menekankan pentingnya menjaga warisan sinema nasional.
Harapan pada Pemerintah: Lebih dari Sekadar Apresiasi
Ketimpangan antara apresiasi publik dan kesejahteraan pekerja menjadi ironi yang masih terjadi di industri ini.
Sonny berharap pemerintah, khususnya melalui Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, dapat menghadirkan kebijakan konkret.
“Bukan hanya harapan, tapi regulasi nyata yang melindungi pekerja kreatif,” ujarnya.
Kolaborasi Jadi Kunci Masa Depan

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa masa depan industri kreatif bergantung pada kolaborasi dan inovasi.
Ia mendorong pelaku industri untuk berani bermimpi dan membaca tren, sekaligus menciptakan solusi baru—termasuk kemungkinan hadirnya marketplace khusus karya kreatif.
“Kita harus membayangkan sesuatu yang berbeda dari hari ini,” katanya.
Langkah Nyata: Dari Stimulus hingga Ruang Kreatif
Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk mendukung pekerja kreatif, termasuk diskon 50 persen iuran jaminan sosial seperti JKK dan JKM.
Selain itu, balai pelatihan kerja di berbagai kota akan dimanfaatkan sebagai pusat pengembangan industri kreatif.
Yassierli bahkan mengusulkan hadirnya “creative corner” di setiap balai sebagai ruang kolaborasi bagi para kreator.
Program ini selaras dengan inisiatif Talent and Innovation Hub yang bertujuan mencetak talenta kreatif dan inovatif di Indonesia.
Menuju Ekosistem Film yang Lebih Berkelanjutan
Ke depan, MAD FEST Merah Putih diharapkan menjadi lebih dari sekadar festival—melainkan ruang dialog dan gerakan kolektif.
Dari pelatihan hingga sertifikasi berbasis SKKNI, festival ini bisa menjadi titik awal pembenahan industri perfilman nasional.
“Kolaborasi adalah kunci agar industri maju dan kesejahteraan pekerja meningkat,” tutup Yassierli.













