wartabuana.com — Nama Manohara Odelia Pinot kembali menjadi perbincangan publik seiring menguatnya isu child grooming yang ramai dibahas di media sosial. Fenomena ini mencuat usai aktris Aurelie Moeremans mengungkap pengalaman traumatisnya dalam memoar Broken Strings, yang kemudian memicu netizen menyoroti kembali kisah pahit sejumlah figur publik, termasuk Manohara.
Trauma masa lalu mantan menantu Kerajaan Kelantan itu pun kembali mencuat, terutama terkait pernikahan yang dijalaninya di usia sangat belia.
Menikah di Usia 15 Tahun dan Berujung KDRT
Manohara mengungkap bahwa pernikahannya dengan Tengku Muhammad Fakhry Petra, Pangeran Kelantan Malaysia, pada 2008, terjadi ketika ia baru berusia 15 tahun. Usia tersebut dinilainya belum memungkinkan seseorang memberikan persetujuan secara sadar, baik secara hukum maupun psikologis.
Pernikahan di bawah umur itu, menurut Manohara, justru berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang meninggalkan trauma mendalam hingga kini.
“Apa yang terjadi selama masa remaja saya, bukanlah hubungan romantis, bukan hubungan atas persetujuan bersama, dan bukan pernikahan yang sah,” tegas Manohara melalui unggahan Instagram.
Bantah Disebut “Mantan Istri”
Manohara secara tegas menolak label “mantan istri” yang kerap dilekatkan kepadanya. Menurutnya, istilah tersebut justru menyesatkan dan berpotensi menormalisasi praktik kekerasan terhadap anak.
“Ketika pelecehan berulang kali digambarkan sebagai suatu hubungan, itu mengajarkan masyarakat melihat paksaan sebagai persetujuan, dan anak-anak sebagai peserta, bukan korban,” ungkapnya.
Ia menilai bahasa dan istilah memiliki peran besar dalam membentuk cara pandang publik terhadap kasus pelecehan dan eksploitasi anak.
Konflik dengan Ibu Kembali Mencuat
Isu ini semakin memanas setelah muncul akun Instagram aisyah_nadawi yang diduga merupakan akun palsu milik ibundanya, Daisy Fajarina, atau orang suruhannya. Akun tersebut mencoba membela keputusan menikahkan Manohara di usia dini.
Manohara pun merespons keras dan menuding akun tersebut sebagai kedok sang ibu.
“I have a feeling this fake account is my mom or one of her ‘flying monkeys’. Same patterns same words,” tulis Manohara di akun @manodelia.
Ia bahkan secara terbuka menyebut sang ibu memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder (NPD) dan menyatakan telah memutus hubungan sepenuhnya demi menjaga kesehatan mentalnya.
Manohara Akui Alami Manipulasi Sejak Remaja
Lebih jauh, Manohara mengungkap bahwa keputusan memutus komunikasi dengan sang ibu dilakukan secara sadar dan bertahap selama bertahun-tahun. Ia mengaku mengalami manipulasi dan eksploitasi sejak remaja.
“Saya berulang kali dimanipulasi dan dimanfaatkan. Sebagai remaja, saya dipaksa masuk ke dalam situasi berbahaya demi keuntungan dirinya,” tuturnya.
Ia juga membongkar bahwa kedekatan yang selama ini terlihat antara dirinya dan sang ibu hanyalah citra yang sengaja dibangun, bukan hubungan yang sehat.
“Citra itu berfungsi sebagai bentuk kontrol,” katanya.
Dukungan Netizen Mengalir Deras
Meski mendapat serangan balik dari akun yang diduga terkait sang ibu, dukungan publik justru mengalir deras. Banyak netizen menyebut Manohara sebagai penyintas nyata child grooming yang berani bersuara setelah bertahun-tahun memendam trauma.
Viralnya pengakuan Manohara pun memperkuat diskusi publik tentang eksploitasi anak oleh orang terdekat, sekaligus menegaskan bahwa kasus serupa masih relevan untuk dibahas hingga hari ini.
Isu Lama, Relevansi Baru
Pengakuan Manohara menambah daftar panjang figur publik yang berani mengungkap luka lama demi membuka mata publik. Di tengah meningkatnya kesadaran soal child grooming, suaranya menjadi pengingat bahwa perlindungan anak tak boleh kalah oleh dalih tradisi, kekuasaan, maupun hubungan darah.













