RAGAM

Anak Pemulung di Cibubur, Antara Sekolah dan Kerasnya Jalanan

0
×

Anak Pemulung di Cibubur, Antara Sekolah dan Kerasnya Jalanan

Sebarkan artikel ini

Wartabuana.com | Selepas bel sekolah berbunyi, sebagian anak mungkin segera pulang untuk bermain atau beristirahat. Namun, pemandangan berbeda terlihat di sekitar Jalan Raya Transyogi Cibubur–Cileungsi. Sejumlah anak dari keluarga pemulung dan pengamen harus kembali ke sisi jalan, menyusul orang tua yang masih berjuang mencari penghasilan.

Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Eddie Karsito, melihat langsung kondisi tersebut. Menurutnya, anak-anak itu menjalani keseharian di tengah keterbatasan ekonomi, tetapi tetap menyimpan harapan untuk masa depan.

Selepas dijemput dari gerbang sekolah, langkah-langkah kecil mereka langsung berkejaran menuju pelukan orang tua yang tengah mengais rezeki di sepanjang aspal,” ujar Eddie.

Pendidikan di Tengah Keterbatasan

Eddie menilai persoalan keluarga pemulung dan pengamen tidak berhenti pada pendapatan yang tidak menentu. Kebutuhan pendidikan anak, mulai dari perlengkapan sekolah hingga biaya sehari-hari, turut menjadi tantangan.

Dalam kondisi tertentu, penghasilan yang diperoleh keluarga bahkan harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan makan. Situasi tersebut membuat pendidikan menjadi perjuangan tersendiri bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Tumbuh di Tengah Debu dan Lalu Lintas

Selain persoalan ekonomi, lingkungan sekitar jalan raya juga menjadi perhatian. Anak-anak tersebut beraktivitas di tengah debu, polusi kendaraan dan risiko keselamatan lalu lintas.

Meski demikian, Eddie melihat semangat belajar dan cita-cita tetap tumbuh di tengah kondisi tersebut.

“Mereka tumbuh di antara deru kendaraan, kepulan debu, dan panas jalanan. Namun di balik semua itu, mereka tetap memiliki semangat untuk belajar dan meraih cita-cita,” katanya.

Menguatkan Kepedulian untuk Anak Rentan

Eddie mengajak masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kebijakan memberikan perhatian lebih terhadap anak-anak dari keluarga rentan.

Menurutnya, dukungan terhadap pendidikan, kesehatan, serta perlindungan anak diperlukan agar keterbatasan ekonomi tidak terus diwariskan antargenerasi.

“Mereka bukan sekadar angka statistik kemiskinan. Mereka adalah generasi masa depan yang membutuhkan perhatian, kepedulian, dan kesempatan untuk hidup lebih baik,” tegasnya.

Kisah anak-anak di sekitar Cibubur tersebut menjadi gambaran bahwa di balik pesatnya pembangunan kawasan perkotaan, masih terdapat keluarga yang membutuhkan dukungan agar anak-anak mereka memiliki ruang tumbuh yang lebih aman dan kesempatan pendidikan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *