EKONOMI

Gula Aren Gasebu Garut Dilirik Eksportir, Berkat Pemberdayaan PNM

0
×

Gula Aren Gasebu Garut Dilirik Eksportir, Berkat Pemberdayaan PNM

Sebarkan artikel ini

Wartabuana.com | Dari sebuah rumah produksi di kaki perbukitan Bungbulang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Susanti perlahan membawa gula aren lokal menembus pasar yang lebih luas. Usaha yang dirintis sejak 2015 itu kini mulai dilirik eksportir setelah mendapat dukungan permodalan sekaligus pemberdayaan dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Berawal dari Usaha Sederhana, Kini Bersiap Menatap Pasar Ekspor

Susanti memberi nama usahanya Gasebu, singkatan dari Gula Semut Bungbulang. Pada awalnya, produk gula aren tersebut dijual tanpa merek dan masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari modal, promosi hingga pencatatan usaha.

Peluang ekspor sebenarnya sempat terbuka melalui sejumlah proses kurasi. Namun, keterbatasan kapasitas produksi dan sistem pemasaran membuat kesempatan tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Perubahan mulai terasa ketika Susanti bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar dengan pinjaman awal Rp4 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli hasil produksi petani aren di sekitar Bungbulang sekaligus mengembangkan jaringan kelompok usaha.

Dukungan PNM kemudian tidak berhenti pada pembiayaan. Susanti memperoleh pendampingan dalam pengembangan kemasan, branding, pemasaran digital hingga pemanfaatan penjualan daring dan live shopping.

Produk gula aren Bungbulang bahkan sempat mendapat perhatian luas di TikTok. Momentum tersebut menjadi salah satu pintu masuk bagi Gasebu untuk semakin dikenal konsumen dan calon mitra usaha.

Ini benar-benar suatu wadah yang sangat luar biasa. Saya pun merasa diapresiasi banget,” ujar Susanti.

Pesanan Sampel 30 Ton Jadi Sinyal Peluang Ekspor

Dampak dari semakin terbukanya akses pasar mulai terlihat ketika eksportir asal Cianjur, Mahkota Bumi, mendatangi rumah produksi Gasebu dan meminta sampel untuk penjajakan ekspor sebanyak 30 ton.

Bagi Susanti, permintaan tersebut menjadi momentum penting. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar kini mulai mendapat perhatian dari pasar yang lebih luas.

Pertumbuhan Gasebu juga membawa dampak bagi masyarakat sekitar. Sekitar 130 orang, terdiri dari 113 petani aren dan 17 pekerja rumah produksi, kini menggantungkan penghasilan dari usaha tersebut.

Melalui kolaborasi dengan AO PNM di lapangan, warga juga mendapat pelatihan membuat gula semut dari rumah masing-masing. Sebagian keuntungan usaha bahkan disisihkan untuk kegiatan sosial di lingkungan sekitar.

PNM Dorong Usaha Ultra Mikro Naik Kelas

Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Kindaris mengatakan, pengembangan usaha ultra mikro membutuhkan lebih dari sekadar tambahan modal.

Untuk membuat usaha ultra mikro berkembang bukan hanya butuh modal uang tetapi juga dibukakan jalan untuk bisa naik kelas,” jelas Kindaris.

Menurutnya, kombinasi pembiayaan dan pemberdayaan diperlukan agar literasi serta kualitas usaha masyarakat terus meningkat.

Kisah Gasebu menunjukkan bagaimana produk lokal dari pelosok Garut dapat memperoleh peluang lebih besar ketika permodalan dibarengi pendampingan, penguatan merek dan akses pasar.

Susanti berharap program pemberdayaan tersebut terus berlanjut sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh usahanya, tetapi juga semakin banyak masyarakat Bungbulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *