Mbah WP
Mbah WP
NASIONAL

Jakarta Tancap Gas Jadi Kota Sinema! Gandeng Busan, Siap Jadi Magnet Industri Film Dunia

×

Jakarta Tancap Gas Jadi Kota Sinema! Gandeng Busan, Siap Jadi Magnet Industri Film Dunia

Share this article

Wartabuana.com —  Langkah ambisius Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menjadikan ibu kota sebagai pusat industri film global kian nyata. Melalui kolaborasi strategis dengan Busan Film Commission, Jakarta mulai menata diri sebagai “Kota Sinema” yang siap bersaing di panggung internasional.

Kolaborasi Internasional: Dari Busan untuk Jakarta

Kunjungan delegasi Busan Film Commission pada 9–10 April 2026 menjadi momentum penting dalam percepatan pembangunan ekosistem perfilman di Jakarta. Delegasi yang dipimpin Kang Sung Kyu disambut langsung oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno di Balai Kota.

Dalam pertemuan tersebut, Pemprov menegaskan komitmennya untuk membentuk Jakarta Film Commission—lembaga yang akan menjadi tulang punggung layanan industri film di ibu kota.

Jakarta Film Commission: Pintu Masuk Sineas Dunia

Pembentukan Jakarta Film Commission diproyeksikan sebagai solusi atas berbagai tantangan produksi film, mulai dari perizinan hingga akses lokasi syuting.

Menurut Rano Karno, lembaga ini akan menjadi “one-stop service” bagi sineas lokal maupun internasional. Artinya, proses produksi film di Jakarta diharapkan menjadi lebih efisien, transparan, dan kompetitif dibanding kota-kota lain di Asia.

Bidik Jaringan Global Lewat AFC Net

Tak hanya berhenti pada kerja sama bilateral, Jakarta juga tengah bersiap bergabung dengan Asian Film Commission Network (AFC Net). Keanggotaan ini dinilai krusial untuk membuka akses ke jaringan produksi global.

Melalui AFC Net, Jakarta berpeluang besar untuk:

  • Menarik produksi film internasional
  • Mengembangkan skema co-production lintas negara
  • Meningkatkan kualitas sumber daya manusia perfilman
  • Mengadopsi praktik terbaik dari kota-kota film dunia

Langkah ini sekaligus mempertegas posisi Jakarta dalam peta industri kreatif global yang semakin kompetitif.

Menata Ekosistem: Dari Kampus hingga Ruang Kreatif

Selama kunjungan, delegasi Busan juga meninjau sejumlah pusat seni dan pendidikan seperti Institut Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuki.

Kunjungan ini membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan talenta muda serta penguatan ruang kreatif. Pemerintah daerah pun menekankan pentingnya sinergi lintas sektor—mulai dari penyederhanaan perizinan, pemanfaatan aset publik, hingga dukungan keamanan dan lalu lintas saat produksi berlangsung.

Belajar dari Busan: Mulai dari Hal Sederhana

Salah satu pelajaran penting dari Busan adalah membangun industri film dari fondasi dasar: kemudahan akses lokasi syuting. Dari sana, ekosistem berkembang secara organik menjadi industri yang terintegrasi.

Pendekatan ini kini coba diadopsi Jakarta, dengan fokus pada:

  • Kemudahan perizinan
  • Optimalisasi lokasi milik pemerintah
  • Dukungan nonfinansial bagi produksi film

Film sebagai Mesin Ekonomi dan Identitas Kota

Lebih dari sekadar hiburan, film dinilai sebagai instrumen strategis untuk membangun identitas kota sekaligus menggerakkan ekonomi dan pariwisata.

Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, industri, komunitas, dan swasta, Jakarta diharapkan tidak hanya menjadi lokasi syuting, tetapi juga pusat produksi dan distribusi konten global.

Menuju 500 Tahun Jakarta: Visi Kota Sinema

Inisiatif “Jakarta Kota Sinema” menjadi bagian dari visi besar menuju 500 tahun Jakarta. Pemerintah optimistis, dengan kolaborasi internasional dan penguatan ekosistem, Jakarta mampu bertransformasi menjadi kota global berbasis industri kreatif.

“Ini bukan hanya soal film, tapi bagaimana Jakarta menceritakan dirinya ke dunia,” menjadi semangat besar di balik langkah strategis ini.

(Ib / artwork: Dok.Pemprov DKI Jakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *