Mbah WP
Mbah WP
NASIONAL

Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng: Pesta Budaya 3 Hari, dari Ondel-Ondel Hingga Kuliner Legendaris

×

Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng: Pesta Budaya 3 Hari, dari Ondel-Ondel Hingga Kuliner Legendaris

Share this article

Wartabuana.com —  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menghadirkan perayaan budaya akbar Lebaran Betawi 2026 yang akan digelar selama tiga hari di Lapangan Banteng, menjadi momentum penting mempererat persatuan warga sekaligus merawat identitas budaya Betawi di tengah modernitas ibu kota.

Lebaran Betawi, dari tradisi lokal menuju panggung kota global

Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Uus Kuswanto, menegaskan bahwa Lebaran Betawi bukan sekadar perayaan pasca-Idulfitri, tetapi ruang kolektif untuk memperkuat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat.

Digelar sejak 2008, tahun ini menjadi penyelenggaraan ke-18, menandai konsistensi Pemprov dalam menjaga budaya Betawi sebagai fondasi identitas Jakarta.

Dengan tema “Lebaran Betawi untuk Jakarta: Memperkokoh Persatuan dalam Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global”, acara ini juga menjadi simbol bagaimana kearifan lokal tetap relevan di tengah ambisi Jakarta sebagai kota global.

Lapangan Banteng dipilih, bukan tanpa alasan

Pemilihan Lapangan Banteng sebagai lokasi utama memiliki makna strategis sekaligus historis.

Selain dikenal sebagai salah satu ikon Jakarta, kawasan ini dinilai representatif untuk menampung ribuan pengunjung dan berbagai kegiatan budaya berskala besar.

Pemprov menargetkan sekitar 20.000 pengunjung hadir, mulai dari warga lokal hingga wisatawan domestik dan mancanegara.

Rangkaian acara: dari religius hingga hiburan rakyat

Selama tiga hari pelaksanaan (10–12 April 2026), pengunjung akan disuguhi berbagai kegiatan yang memadukan nilai religius, budaya, dan hiburan.

Hari pertama: syukuran dan doa bersama  (18.30–21.30 WIB)

Perayaan dibuka dengan malam religius berupa pengajian, maulid, tahlilan, hingga tausiah sebagai refleksi spiritual pasca-Lebaran.

Hari kedua: puncak atraksi budaya Betawi  (08.00–23.00 WIB)

Beragam kesenian khas seperti ondel-ondel, tanjidor, silat, hingga gambang kromong akan tampil. Tak ketinggalan hiburan rakyat seperti lenong Betawi dan layar tancep yang membawa nuansa nostalgia.

Hari ketiga: interaksi budaya dan keluarga  (06.00–22.00 WIB)

Kegiatan santai seperti senam bersama, permainan tradisional, dongeng rakyat, hingga karnaval budaya menjadi penutup yang ramah keluarga.

UMKM dan kuliner Betawi ikut terdongkrak

Selain pertunjukan budaya, Lebaran Betawi juga menjadi ruang ekonomi bagi pelaku usaha lokal. Bazar UMKM dan sajian kuliner khas Betawi diharapkan mampu meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat.

Momentum ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga ekonomi.

Makna tradisi: dari silaturahmi hingga “anter-anter”

Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi, Fauzi Bowo atau Bang Foke, menekankan bahwa esensi Lebaran Betawi terletak pada nilai-nilai kekeluargaan.

Tradisi seperti saling memaafkan, mengunjungi keluarga (ngider), hingga membawa oleh-oleh atau anter-anter menjadi simbol penghormatan kepada orang tua dan sesepuh.

Nilai-nilai inilah yang ingin terus dijaga agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.

Kolaborasi budaya, kunci keberlanjutan

Perhelatan ini terselenggara berkat kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dengan berbagai pihak, termasuk Bamus Betawi dan Majelis Kaum Betawi.

Pendekatan kolaboratif ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan budaya Betawi sekaligus memperkuat ekosistem budaya di Jakarta.

(Ib / artwork: Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *