Mbah WP
Mbah WP
NEWS

Gejolak Timur Tengah Picu Kekhawatiran Global, IARMI Ingatkan Peran Strategis Alumni Menwa Jaga Ketahanan Nasional

×

Gejolak Timur Tengah Picu Kekhawatiran Global, IARMI Ingatkan Peran Strategis Alumni Menwa Jaga Ketahanan Nasional

Share this article

Wartabuana.com — Eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah kini menjadi perhatian serius berbagai negara di dunia. Ketegangan yang melibatkan sejumlah kekuatan global dinilai tidak hanya berdampak pada stabilitas regional, tetapi juga berpotensi menguji ketahanan nasional negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI), Prof. Bahrullah Akbar, menilai dinamika konflik yang terjadi saat ini menunjukkan meningkatnya tensi politik global yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi, energi, hingga keamanan informasi.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Dialog Nasional bertajuk “Tantangan Kedaulatan Nasional di Tengah Gejolak Geopolitik Timur Tengah” yang digelar di Auditorium Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) RI, Kalibata, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Konflik Israel–Iran Dinilai Berpotensi Memicu Konfrontasi Lebih Luas

Dalam pandangannya, konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan sekutunya dengan Iran menunjukkan bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah telah bergerak dari sekadar ketegangan regional menuju potensi konfrontasi yang lebih luas.

Menurut Bahrullah, dinamika tersebut memperlihatkan bagaimana politik kekuatan kembali menjadi faktor dominan dalam hubungan internasional modern.

Eskalasi militer bergerak sangat cepat dan sering kali melampaui kecepatan diplomasi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perang modern tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga berdampak pada psikologi publik, stabilitas ekonomi global, hingga persepsi politik di tingkat internasional.

Ancaman Energi Global hingga Ekonomi Indonesia

Meski Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut, dampaknya tetap dapat dirasakan karena keterkaitan ekonomi global yang semakin kuat.

Bahrullah mencontohkan kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat sistem energi dunia. Jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu akibat konflik, maka dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor.

Beberapa risiko yang mungkin terjadi antara lain:

  • Lonjakan harga minyak dan gas dunia

  • Peningkatan biaya logistik internasional

  • Tekanan terhadap stabilitas ekonomi negara pengimpor energi

Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi nasional.

Artinya kedaulatan negara saat ini tidak hanya diuji oleh ancaman militer langsung, tetapi juga oleh ketergantungan terhadap sistem global yang sedang terguncang,” jelasnya.

Ancaman Disinformasi dan Perang Narasi

Selain aspek ekonomi dan militer, Bahrullah juga menyoroti meningkatnya perang informasi yang memanfaatkan disinformasi serta narasi identitas untuk memicu polarisasi sosial di berbagai negara.

Dalam era digital, konflik geopolitik sering kali juga dipertaruhkan melalui ruang informasi, di mana propaganda dan manipulasi opini publik menjadi bagian dari strategi geopolitik.

Menurutnya, kondisi ini menuntut masyarakat memiliki literasi geopolitik dan kemampuan menyaring informasi secara kritis.

Alumni Menwa Diminta Perkuat Kesadaran Geopolitik

Dalam konteks tersebut, Bahrullah menilai alumni Resimen Mahasiswa (Menwa) memiliki posisi strategis untuk membantu memperkuat ketahanan nasional.

Ia menjelaskan bahwa kader Menwa sejak awal dididik dengan nilai bela negara, kedisiplinan, dan wawasan kebangsaan, sehingga memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi menjaga stabilitas nasional.

Alumni Menwa tersebar di berbagai sektor strategis. Mereka memiliki tanggung jawab moral untuk memperkuat kesadaran geopolitik masyarakat, menangkal disinformasi, dan menjaga persatuan bangsa,” katanya.

Ia menegaskan bahwa ketahanan nasional bukan semata tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tugas bersama seluruh elemen masyarakat.

Dialog Nasional Hadirkan Sejumlah Pakar Geopolitik

Dialog nasional tersebut dihadiri lebih dari 500 peserta secara hybrid, yang terdiri dari keluarga besar Resimen Mahasiswa dan para alumni.

Sejumlah tokoh turut hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut, di antaranya:

  • Prof. Ermaya Suradinata, mantan Gubernur Lemhannas

  • Ulta Levenia, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden

  • Aryo Wibowo, Wakil Sekretaris Jenderal FSPPB

  • Heri Herdiawanto, peneliti Pusat Kajian Geopolitik Universitas Al Azhar

  • Rasminto, akademisi Universitas Muhammadiyah Indonesia

Diskusi ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman publik mengenai dinamika geopolitik global serta dampaknya terhadap Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *