Wartabuana.com | Sebuah nama, sebuah klaim, dan sebuah konferensi pers yang berujung polemik. Ketika seseorang menyebut dirinya perwakilan BEM Fakultas Teknik Universitas BSI di hadapan publik dan media, pihak kampus justru menegaskan satu hal tegas: mereka tidak kenal siapa itu Ahmad, dan tidak pernah mengutus siapa pun ke sana.
UBSI Angkat Bicara: “Nama Kami Dicatut Tanpa Dasar”
Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) bergerak cepat memberikan respons resmi setelah nama institusinya terseret dalam pusaran konferensi pers kontroversial yang digelar kelompok mengatasnamakan BEM Bersatu di Jakarta, Selasa (16/6).
Dalam daftar peserta yang beredar luas di media massa dan media sosial, tercantum nama “Ahmad (BEM Fakultas Teknik Universitas BSI)” sebagai salah satu perwakilan. Pencantuman nama itulah yang memantik reaksi keras dari pihak kampus — karena menurut mereka, sosok tersebut tidak dikenal, tidak terdaftar, dan tidak pernah mendapat mandat apa pun dari organisasi maupun institusi.
BEM FTI UBSI: Tidak Ada Pengurus Bernama Ahmad
Klarifikasi pertama datang langsung dari internal: Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik dan Informatika (BEM FTI) UBSI secara resmi menegaskan bahwa mereka tidak pernah menghadiri, mengirimkan perwakilan, maupun memberikan mandat kepada pihak mana pun untuk tampil dalam forum tersebut.
Lebih jauh, BEM FTI UBSI memastikan bahwa tidak ada pengurus, anggota, maupun ketua bernama Ahmad dalam struktur organisasi mereka — menutup rapat kemungkinan bahwa pencantuman nama tersebut hanyalah kesalahan administrasi biasa.
Wakil Rektor UBSI: Ini Bisa Rugikan Reputasi yang Dibangun Bertahun-tahun
Pernyataan lebih keras datang dari level pimpinan kampus. Wakil Rektor II Bidang Non Akademik UBSI, Adi Supriyatna, menyampaikan keterangan pers resmi pada Rabu (17/6) dan tidak menyembunyikan kekecewaannya.
“UBSI menegaskan bahwa kami tidak memiliki keterlibatan dalam konferensi pers tersebut. Tidak ada mahasiswa yang mendapatkan mandat resmi dari organisasi kemahasiswaan maupun dari institusi untuk mewakili Universitas BSI dalam forum tersebut,” tegasnya.
Adi mengingatkan bahwa penggunaan nama institusi pendidikan tanpa persetujuan bukan perkara sepele — ini menyangkut reputasi yang dibangun melalui bertahun-tahun prestasi akademik dan non-akademik, dan bisa runtuh hanya karena satu pencantuman nama yang tidak bertanggung jawab.
“Kami menghormati hak setiap individu untuk menyampaikan pendapatnya. Namun, ketika seseorang membawa nama organisasi atau institusi, harus ada legitimasi dan mandat yang jelas,” tambahnya.
Bukan Hanya UBSI — Beberapa Kampus Lain Juga Membantah
Yang menarik, UBSI ternyata bukan satu-satunya institusi yang merasa namanya dicatut. Setelah pemberitaan konferensi pers BEM Bersatu beredar, sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lain juga menyampaikan klarifikasi serupa dan membantah keterlibatan mereka dalam forum tersebut.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan serius: seberapa akurat daftar peserta yang dipublikasikan BEM Bersatu? Dan siapa yang bertanggung jawab atas pencantuman nama-nama yang ternyata tidak memiliki dasar?
Peringatan untuk Publik: Jangan Telan Informasi Mentah-mentah
Menutup pernyataannya, Adi Supriyatna secara khusus mengimbau masyarakat untuk selalu mengacu pada sumber resmi sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi terkait sikap kampus maupun organisasi kemahasiswaan.
“Kami berharap seluruh pihak dapat lebih berhati-hati dalam menyantumkan nama perguruan tinggi dalam kegiatan publik. Nama kampus bukan sekadar identitas, tapi juga membawa tanggung jawab dan kredibilitas yang harus dijaga bersama,” pungkasnya.
UBSI menegaskan bahwa seluruh pernyataan yang disampaikan pihak yang mengatasnamakan BEM FTI UBSI dalam konferensi pers tersebut bukan merupakan sikap, pandangan, maupun pernyataan resmi dari organisasi maupun institusi Universitas Bina Sarana Informatika.













