Wartabuana.com | Pembangunan di Papua dinilai telah menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan, hingga penguatan konektivitas antarwilayah, berbagai program pemerintah disebut telah memberikan dampak positif bagi masyarakat di wilayah paling timur Indonesia tersebut.
Namun di balik capaian itu, penggiat demokrasi dan hak asasi manusia (HAM), Erik Fitriadi, mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya dapat diukur dari banyaknya jalan, jembatan, atau fasilitas publik yang berdiri.
Menurutnya, pembangunan akan memiliki dampak yang lebih kuat dan berkelanjutan apabila berjalan beriringan dengan penguatan rasa aman, perlindungan warga sipil, serta tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Infrastruktur berkembang, layanan publik semakin terbuka
Pandangan tersebut disampaikan Erik dalam Diskusi Publik Merah Putih Stratejik Institut (MPSI) bertajuk “Perlindungan Warga Sipil, Stigmatisasi Konflik, dan Tantangan Pembangunan Papua” yang berlangsung di Jakarta Timur, Jumat (12/6/2026).
Dalam forum tersebut, Erik memberikan apresiasi terhadap berbagai langkah pemerintah yang dinilainya terus berupaya mempercepat pembangunan Papua.
“Saya mengapresiasi berbagai langkah pemerintah yang terus berupaya mempercepat pembangunan Papua. Infrastruktur semakin berkembang, akses layanan publik semakin terbuka, dan perhatian terhadap pembangunan sumber daya manusia juga semakin besar,” ujarnya.
Menurut Erik, berbagai capaian tersebut menjadi modal penting bagi Papua untuk tumbuh sebagai kawasan yang lebih maju, kompetitif, dan mampu berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan nasional.
Kepercayaan masyarakat menjadi fondasi pembangunan jangka panjang
Meski demikian, Erik menilai pembangunan fisik tidak boleh berjalan sendiri tanpa dibarengi pembangunan sosial yang kuat.
Ia menegaskan bahwa kehadiran negara akan semakin dirasakan masyarakat apabila pembangunan juga mampu menghadirkan rasa aman, rasa memiliki, dan keyakinan bahwa aspirasi masyarakat didengar serta dihargai.
Karena itu, ruang dialog dan partisipasi publik perlu terus diperluas, termasuk melibatkan berbagai unsur masyarakat Papua dalam proses pembangunan.
“Pembangunan yang berhasil bukan hanya yang terlihat secara fisik, tetapi juga yang mampu menghadirkan rasa aman, rasa memiliki, dan kepercayaan masyarakat terhadap negara,” katanya.
Dialog dengan tokoh adat dan masyarakat dinilai penting
Erik juga mengapresiasi langkah pemerintah yang selama ini membuka ruang komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat Papua, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, pemuda, perempuan, hingga komunitas lokal lainnya.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif menjadi salah satu kunci agar program pembangunan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Dengan melibatkan masyarakat sebagai bagian dari proses pembangunan, berbagai kebijakan yang dijalankan diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan.
Hindari stigmatisasi, mayoritas masyarakat Papua menginginkan kedamaian
Dalam kesempatan tersebut, Erik turut menyoroti pentingnya menghindari berbagai bentuk stigmatisasi terhadap masyarakat Papua.
Ia menilai pelabelan yang mengaitkan Papua semata-mata dengan konflik justru dapat menghambat upaya membangun kepercayaan dan persatuan.
Menurutnya, mayoritas masyarakat Papua memiliki harapan yang sama dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, yakni hidup dalam suasana damai, aman, dan sejahtera.
“Kita harus menghindari stigmatisasi konflik Papua. Mayoritas masyarakat Papua menginginkan kehidupan yang damai, aman, dan sejahtera sehingga pendekatan yang mengedepankan penghormatan, dialog, dan kebersamaan akan lebih efektif dalam memperkuat persatuan nasional,” tegasnya.
Papua dinilai memiliki masa depan yang menjanjikan
Lebih lanjut, Erik meyakini Papua memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kawasan timur.
Potensi sumber daya alam, posisi strategis, serta meningkatnya pembangunan infrastruktur menjadi modal penting untuk mempercepat kemajuan daerah tersebut.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga situasi yang kondusif agar agenda pembangunan dapat berjalan optimal dan manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.
“Papua memiliki masa depan yang cerah. Dengan pembangunan yang terus berlanjut, perlindungan warga sipil yang semakin kuat, serta tumbuhnya kepercayaan antara masyarakat dan negara, saya optimistis Papua akan semakin maju, aman, dan sejahtera,” tuturnya.
Pada akhirnya, Erik menegaskan bahwa pembangunan Papua bukan hanya tentang membangun jalan, bandara, jembatan, atau fasilitas publik lainnya. Lebih dari itu, pembangunan harus mampu menghadirkan harapan baru, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan memperkuat hubungan antara negara dengan warganya.
Ketika pembangunan fisik dan pembangunan sosial berjalan seiring, fondasi kemajuan Papua dinilai akan menjadi semakin kokoh dan berkelanjutan.













