Wartabuana.com — Industri film horor Indonesia kembali bersiap menghadirkan cerita baru yang menggali kengerian dari akar tradisi lokal. Film terbaru berjudul Hajatan Setan siap menghantui layar bioskop dengan kisah ritual desa yang menyimpan misteri dan rahasia turun-temurun yang perlahan terkuak.
Diproduksi oleh MBK Productions bersama Drias Film dan didistribusikan oleh Mockingbird Pictures, film ini tidak hanya menargetkan pasar domestik. Tim produksi bahkan telah menyiapkan langkah ekspansi untuk penayangan di luar Indonesia, memperluas jangkauan horor berbasis budaya lokal ke pasar internasional.
Menggabungkan horor tradisi dengan drama sosial
Hajatan Setan mengambil latar sebuah desa di Jawa yang menyimpan tradisi misterius. Ceritanya mengikuti kepulangan seorang perempuan muda ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun pergi.
Namun, kepulangan tersebut justru membuka kembali luka lama yang selama ini tersembunyi. Sejumlah kejadian ganjil mulai bermunculan, memicu rasa takut sekaligus kecurigaan di antara warga desa. Dari sinilah lapisan demi lapisan rahasia tentang sebuah ritual yang disebut “hajatan setan” perlahan terungkap.
Premis ini menjadikan film tersebut tidak sekadar mengandalkan jump scare, tetapi juga menghadirkan ketegangan psikologis yang berakar pada tradisi, stigma sosial, dan pengorbanan yang harus dibayar oleh masyarakatnya.
Deretan aktor lintas generasi memperkuat atmosfer cerita
Film ini menghadirkan jajaran pemain lintas generasi seperti Ari Irham, Alika Jantinia, Gisellma Firmansyah, Tanta Ginting, Indra Birowo, Asri Welas, Bima Zeno, Karina Suwandi, serta Sita Permata Sari.
Kombinasi para aktor tersebut menghadirkan dinamika akting yang diharapkan mampu memperkuat atmosfer cerita, terutama dalam memadukan elemen horor dengan konflik sosial yang kuat.
Ari Irham mengungkapkan bahwa karakter yang ia perankan memiliki tekanan emosional yang cukup kompleks.
“Yang membuat saya tertarik adalah horornya terasa sangat dekat dan personal. Ada trauma dan tekanan sosial, sehingga ketakutannya terasa lebih nyata,” ujar Ari.
Pengalaman intens bagi para pemain
Bagi Asri Welas, keterlibatannya dalam film ini menjadi salah satu pengalaman paling intens sepanjang kariernya di dunia akting.
“Begitu membaca naskahnya, saya langsung merinding. Istilah ‘hajatan setan’ saja sudah membuat kita membayangkan sesuatu yang tidak wajar, padahal hajatan biasanya identik dengan kebahagiaan,” ungkapnya.
Kontras antara makna hajatan sebagai perayaan dengan unsur ritual kelam menjadi salah satu kekuatan dramatis yang ingin dihadirkan film ini.
Pertanyaan tentang harga sebuah kemakmuran
Film ini digarap oleh sutradara Bambang Drias bersama Eko Kristianto, dengan produser eksekutif Budi Yulianto serta produser Rendy Gunawan. Naskahnya ditulis oleh tim kreatif yang terdiri dari Andhy Pulung, B.W. Purba Negara, Vidya T. Ariestya, dan Novia Anggi.
Menurut Bambang Drias, ide cerita Hajatan Setan berangkat dari pertanyaan sederhana tentang tradisi yang dipercaya membawa kemakmuran bagi suatu komunitas.
“Kami ingin mengajak penonton mempertanyakan makna di balik sebuah tradisi. Bagaimana jika kemakmuran itu ternyata memiliki harga yang harus dibayar?” ujarnya.
Sementara itu, Eko Kristianto menambahkan bahwa pendekatan film ini dibuat sedekat mungkin dengan realitas kehidupan masyarakat desa agar terasa lebih autentik.
Dengan pendekatan horor yang berpijak pada tradisi, trauma sosial, serta rahasia masa lalu, Hajatan Setan diprediksi menjadi salah satu film horor Indonesia yang paling dinantikan tahun ini.











