Wartabuana.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memulai pembangunan entrance Stasiun MRT Harmoni dengan dilaksanakannya peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Proyek ini menandai langkah lanjutan Pemprov DKI dalam memperkuat integrasi transportasi publik melalui pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD).
Gubernur Pramono meyakini Stasiun Harmoni akan menjadi salah satu stasiun tersibuk di Jakarta, mengingat posisinya yang strategis sebagai pusat mobilitas pegawai pemerintahan, kawasan bisnis, serta sentra kuliner.
MRT Tersambung ke Kota Tua, Harmoni Jadi Titik Krusial

Menurut Pramono, ketika jalur MRT tersambung hingga Kota Tua pada 2029, kawasan Harmoni akan menjelma menjadi simpul TOD utama dengan tingkat aktivitas naik-turun penumpang yang sangat tinggi.
“Hampir 25 tahun saya cukup mengenal tempat ini. Saya meyakini, jika pada tahun 2029 TOD Harmoni telah selesai, kawasan ini akan menjadi TOD yang sangat strategis,” ujar Pramono.
Ia menambahkan, di sekitar kawasan tersebut terdapat sejumlah kantor pemerintahan vital, seperti Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Sekretariat Kabinet, Kantor Staf Presiden, serta berbagai perkantoran di sekitar Istana Negara.
“Tentu stasiun ini akan dimanfaatkan secara optimal,” tegasnya.
Bangkitkan Kembali Harmoni sebagai Pusat Aktivitas Kota
Gubernur Pramono juga menyinggung sejarah Harmoni sebagai kawasan bisnis utama Jakarta pada masa lalu. Melalui pembangunan MRT dan pengembangan TOD, kawasan ini diharapkan kembali hidup sebagai pusat aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat, dengan karakter yang berbeda dibandingkan TOD lain seperti Blok M.
“Harmoni nantinya akan memiliki entrance MRT yang terkoneksi langsung dengan Transjakarta,” jelasnya.
Ia menyebut MRT Fase 2A ditargetkan mencapai kawasan Monas dan mulai beroperasi pada 2027, sebelum dilanjutkan hingga Kota Tua.
Tujuh Stasiun Menuju Kota Tua
Rute MRT menuju Kota Tua akan melewati tujuh stasiun, yaitu:
Thamrin
Monas
Harmoni
Sawah Besar
Mangga Besar
Glodok
Kota Tua
Integrasi ini diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat untuk beralih ke transportasi publik.
Konektivitas Sudah 92 Persen, Pemanfaatan Terus Didorong
Pramono mengungkapkan bahwa tingkat konektivitas transportasi publik Jakarta saat ini telah mencapai sekitar 92 persen. Namun, tingkat pemanfaatannya masih perlu ditingkatkan.
Untuk itu, Pemprov DKI terus membuka rute-rute baru Transjabodetabek, termasuk rencana pengembangan rute Bandara–Blok M guna memperluas jangkauan layanan transportasi publik.
Apresiasi untuk MRT Jakarta dan Mitra Kawasan
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Pramono menyampaikan apresiasi kepada PT MRT Jakarta serta seluruh pihak yang mendukung pembangunan entrance Stasiun Harmoni, termasuk pengelola kawasan Duta Merlin.
“Kami berharap seluruh tahapan pembangunan dapat berjalan sesuai jadwal, bahkan jika memungkinkan lebih cepat, dengan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” tuturnya.
Spesifikasi Stasiun Harmoni

Sementara itu, Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menjelaskan bahwa pembangunan MRT Fase 2 merupakan tahapan penting pengembangan sistem transportasi massal modern Jakarta.
Ia memaparkan spesifikasi Stasiun Harmoni sebagai berikut:
Panjang stasiun: 252 meter
Lebar stasiun: 18 meter
Kedalaman: 17 meter
Jumlah lantai: 2 lantai (concourse dan platform)
Jumlah entrance: 7 pintu masuk
2 di sisi barat
2 di sisi timur
3 di bagian tengah yang terintegrasi dengan halte Transjakarta
Menuju Jakarta Kota Global
Pembangunan entrance Stasiun Harmoni menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang Pemprov DKI Jakarta dalam menciptakan sistem transportasi publik yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan, sekaligus menyiapkan Jakarta sebagai kota global yang ramah mobilitas dan berdaya saing internasional. (© Ib / artwork. Dok. Pemprov DKI Jakarta)













