Wartabuana.com — Film anak fiksi ilmiah Pelangi di Mars langsung mencuri perhatian setelah official trailer-nya dirilis ke publik. Respons positif dari pecinta film Tanah Air mengalir deras, terutama terhadap kualitas visual yang dinilai melampaui standar film anak Indonesia.
Film produksi Mahakarya Pictures ini disutradarai Upie Guava, sineas yang dikenal berani mengeksplorasi pendekatan teknis baru. Di balik trailer berdurasi singkat itu, tersimpan proses panjang lebih dari lima tahun yang penuh tantangan.
Ambisi menghadirkan mimpi besar untuk anak Indonesia

Bagi Upie Guava, proyek ini bukan sekadar produksi film anak biasa. Ia membawa misi personal: menghadirkan tontonan yang mampu menumbuhkan imajinasi generasi muda Indonesia.
Terinspirasi dari film-film sci-fi ikonik seperti Jurassic Park dan Star Wars, Upie ingin anak Indonesia memiliki figur heroik dari negeri sendiri.
“Saya ingin dari menonton Pelangi di Mars, anak-anak Indonesia bisa berpikir kalau mereka boleh bermimpi setinggi langit, dan mereka mampu menggapainya,” ujar Upie.
Visi tersebut melahirkan karakter Pelangi — sosok anak pertama yang lahir di Planet Mars — yang menjadi pusat narasi sekaligus simbol harapan dan keberanian.
Bertaruh dengan teknologi XR yang nyaris belum dikenal

Salah satu faktor yang membuat produksi film ini memakan waktu panjang adalah keputusan tim menggunakan teknologi Extended Reality (XR) atau virtual production — pendekatan yang pada 2020 masih sangat minim di industri film Indonesia.
Produser Dendi Reynando mengakui tim tidak hanya membuat film, tetapi juga membangun fondasi teknologi dari nol.
“Di saat yang bersamaan kami mengembangkan cerita Pelangi di Mars, kami juga memperkenalkan dan mengembangkan teknologi ini di Indonesia. Dari awal kami tahu risikonya, dan kadang kami bahkan mikir kalau membuat film ini hampir mustahil,” ungkap Dendi.
Ia menggambarkan proses lima tahun tersebut seperti perjalanan tersesat di hutan yang asing—penuh ketidakpastian namun akhirnya menemukan jalan keluar.
Momentum Lebaran jadi panggung pembuktian
Setelah melalui proses panjang, Pelangi di Mars dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan libur Lebaran.
Momentum ini dinilai strategis karena pasar film keluarga biasanya menguat pada periode tersebut. Film ini diposisikan bukan hanya sebagai hiburan anak, tetapi juga sebagai bukti kemampuan sineas Indonesia menembus batas teknis produksi.
Jika respons penonton sejalan dengan antusiasme trailer, Pelangi di Mars berpotensi menjadi salah satu game changer untuk genre film anak di Indonesia.
Untuk informasi terbaru, behind the scene, dan perkembangan penayangan, publik dapat mengikuti akun resmi @pelangidimars dan @mahakaryapictures.













