MUSIK

Yura Yunita Rilis “Pertiwi”, Lagu yang Mengajak Berani Bersuara

5
×

Yura Yunita Rilis “Pertiwi”, Lagu yang Mengajak Berani Bersuara

Sebarkan artikel ini

Wartabuana.com | Ada lagu yang selesai ketika musik berhenti. Namun, “Pertiwi”, karya terbaru Yura Yunita, justru terasa baru dimulai ketika nada terakhir menghilang. Lagu ini mengajak pendengar masuk ke ruang sunyi dalam diri dan menemukan keberanian yang mungkin selama ini disimpan.

“Pertiwi” resmi dirilis pada 2 September 2026 di berbagai platform streaming musik, bersamaan dengan peluncuran video musiknya. Bukan sekadar menawarkan komposisi musikal, karya ini membawa tema tentang ketakutan, keberanian, hingga keputusan untuk tidak lagi diam.

“Pertiwi” dan Keberanian yang Lahir dari Ketakutan

 

Lagu ini ditulis oleh Donne Maula dengan notasi dari Yura Yunita. Produksi musik dipercayakan kepada Iwan Popo, yang menghadirkan aransemen megah tetapi tetap memberi ruang bagi emosi untuk berkembang secara perlahan.

Vokal Yura menjadi pusat kekuatan lagu. Ia terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha tetap tegak meski tangan dan suaranya masih bergetar. Dari sanalah “Pertiwi” menemukan kekuatannya: keberanian tidak selalu lahir dari suara paling lantang, tetapi dari seseorang yang memilih tetap berbicara meski masih takut.

Menariknya, Yura tidak mengunci lagu ini dalam satu tafsir. “Pertiwi” dapat membawa pendengar pada berbagai pengalaman—tentang ibu, perempuan yang memilih diam, ketidakadilan, lingkungan sekitar, atau bahkan pergulatan dengan diri sendiri.

Video Musik Hadir Bersamaan

Pesan emosional tersebut kemudian diterjemahkan melalui video musik yang juga dirilis pada 2 September 2026. Yura berkolaborasi dengan Kathleen Malay sebagai sutradara dan Siko Setyanto sebagai koreografer.

Kolaborasi tersebut menghadirkan visual yang berangkat dari emosi lagu, sekaligus memperkuat pengalaman yang ingin dibangun Yura bersama para pendengarnya.

Yura pun tidak meminta publik buru-buru mencari makna tunggal dari “Pertiwi”. Ia justru mengajak pendengar menikmati lagu dalam suasana hening, lalu memperhatikan siapa atau apa yang muncul dalam pikiran setelah musik berhenti.

Sebab, mungkin “Pertiwi” memang bukan lagu yang membutuhkan penjelasan panjang. Ia hanya ingin didengarkan—dan dibiarkan menemukan maknanya sendiri di dalam diri setiap orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *