Wartabuana.com — Industri film horor Indonesia kembali menghadirkan warna baru. Film Kuyank resmi menggelar gala premiere nasional di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (23/1/2026), menjelang penayangannya di bioskop seluruh Indonesia.
Acara ini sekaligus menandai kehadiran Kuyank sebagai prekuel dari Saranjana Universe, sebuah semesta horor yang terinspirasi dari mitologi dan folklor Nusantara. Kehadiran film ini menjadi langkah awal dalam membuka kisah besar yang telah lama dinanti penggemar horor lokal.
Prekuel yang Berdiri Sendiri
Meski menjadi bagian dari Saranjana Universe, Kuyank dirancang sebagai film yang dapat dinikmati secara mandiri. Ceritanya mengambil latar tujuh tahun sebelum terbukanya gerbang kota gaib Saranjana, menjadikannya fondasi penting bagi pengembangan semesta horor tersebut.
Pendekatan ini membuat Kuyank ramah bagi penonton baru, sekaligus memberikan lapisan cerita tambahan bagi mereka yang sudah akrab dengan mitologi Saranjana.
Horor dari Konflik Manusia, Bukan Sekadar Kejutan
Berbeda dari horor konvensional yang mengandalkan jumpscare, Kuyank memilih jalur yang lebih subtil. Teror dalam film ini lahir dari konflik manusia—tekanan adat, keluarga, serta norma sosial—yang perlahan berkembang menjadi kengerian psikologis.
Pendekatan ini membuat horor terasa lebih dekat dengan realitas, sekaligus meninggalkan efek yang membekas setelah film berakhir.
Pendekatan Emosional Jadi Kunci Cerita
Produser Kuyank, Victor G. Pramusinto, menegaskan bahwa ikatan emosional dengan karakter menjadi kunci utama dalam membangun teror film ini.
“Horor akan terasa jauh lebih kuat ketika emosi penonton sudah terikat dengan perjalanan karakter,” ujar Victor.
Menurutnya, penonton tidak langsung disuguhkan ketakutan, melainkan diajak memahami konflik batin tokoh-tokohnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya dihadapkan pada teror yang intens dan mengguncang psikologis.
Respons Awal Penonton Positif
Gala premiere menjadi momen perdana bagi publik merasakan atmosfer gelap dan tekanan emosional yang ditawarkan Kuyank. Respons awal penonton menunjukkan ketertarikan terhadap perpaduan drama keluarga dan horor folklor yang dihadirkan.
Banyak yang menilai film ini menawarkan sensasi horor berbeda—lebih sunyi, menekan, dan relevan dengan isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Langkah Strategis Memperkuat Horor Lokal
Sebagai pembuka cerita dalam Saranjana Universe, Kuyank dipandang sebagai langkah strategis dalam memperluas narasi horor lokal berbasis budaya Indonesia. Film ini sekaligus memperkuat identitas sinema horor nasional di tengah persaingan genre yang semakin ketat.
Dengan menggabungkan mitologi Nusantara dan drama manusia, Kuyank hadir bukan hanya sebagai tontonan menakutkan, tetapi juga sebagai refleksi sosial yang menghantui.













