Mbah WP
Mbah WP
NEWS

Pramono Anung Ungkap Jurus Atasi 9.000 Ton Sampah Jakarta per Hari, Biopori Jumbo Pondok Kelapa Disiapkan Jadi Role Model Zero Waste

×

Pramono Anung Ungkap Jurus Atasi 9.000 Ton Sampah Jakarta per Hari, Biopori Jumbo Pondok Kelapa Disiapkan Jadi Role Model Zero Waste

Share this article

Wartabuana.com | Di tengah tantangan pengelolaan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mendorong solusi yang lahir dari lingkungan warga. Salah satu yang kini menjadi sorotan adalah program Biopori Jumbo di RW 014 Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, yang dinilai berpotensi menjadi model penanganan sampah berbasis komunitas untuk seluruh Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, bahkan turun langsung meninjau lokasi pada Minggu (7/6) dan menyebut inisiatif warga tersebut sebagai contoh nyata bagaimana persoalan lingkungan dapat diselesaikan dari tingkat paling dasar, yakni rumah tangga.

“Atas nama Pemerintah DKI Jakarta, kami mengapresiasi apa yang dilakukan RW 014 dengan enam RT yang berinisiatif mengelola sampah melalui metode biopori jumbo. Gerakan ini menunjukkan solusi lingkungan dapat dimulai dari tingkat komunitas,” ujar Pramono.

Dari Dapur Rumah Tangga Menjadi Kompos Bernilai Manfaat

Program Biopori Jumbo yang dikembangkan warga RW 014 berfokus pada pengolahan sampah organik rumah tangga seperti sisa makanan dan limbah dapur.

Sampah tersebut dimasukkan ke dalam lubang biopori berukuran besar untuk diurai secara alami hingga menjadi kompos. Dengan metode ini, sampah tidak perlu seluruhnya diangkut ke tempat pengolahan akhir sehingga mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke sistem pengangkutan kota.

Saat ini warga telah menyiapkan sekitar 150 titik Biopori Jumbo yang dirancang melayani sekitar 300 rumah tangga. Dari jumlah tersebut, sebanyak 130 titik sudah terealisasi dan aktif digunakan.

Menurut Pramono, konsep tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah tidak harus selalu bergantung pada fasilitas besar, tetapi dapat dimulai dari kesadaran masyarakat.

Pramono: Bisa Jadi Role Model untuk Seluruh Jakarta

Gubernur Pramono menilai keberhasilan program ini berpotensi menjadi contoh bagi wilayah lain di ibu kota.

Menurutnya, penanganan sampah yang efektif harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga. Sampah organik yang selama ini mendominasi volume sampah Jakarta perlu ditangani sejak awal agar tidak membebani sistem pengolahan di hilir.

Kalau ini berjalan baik, ini bisa menjadi role model penanganan sampah di Jakarta. Saya sengaja ingin menunjukkan bahwa penanganan sampah oleh Pemerintah DKI Jakarta tidak dilakukan setengah hati,” katanya.

Ia menegaskan bahwa konsep Jakarta zero waste hanya dapat tercapai apabila masyarakat ikut berpartisipasi aktif dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.

Kolaborasi Warga dan Swasta Dinilai Jadi Kunci Keberhasilan

Tak hanya fokus pada sampah organik, warga RW 014 juga mulai mengelola sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi melalui bank sampah.

Botol plastik, kardus, dan berbagai material daur ulang lainnya dipilah untuk kemudian disalurkan kepada pengepul. Sementara itu, sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) ditangani melalui mekanisme khusus yang melibatkan berbagai pihak.

Pramono menyambut baik kolaborasi tersebut dan menilai kerja sama antara warga dan sektor swasta menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.

Kolaborasi seperti ini menjadi kunci pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ujarnya.

Jakarta Perkuat Sistem Hilir untuk Menangani 9.000 Ton Sampah per Hari

Selain mengembangkan pengelolaan berbasis warga, Pemprov DKI Jakarta juga terus memperkuat fasilitas pengolahan sampah berskala besar.

Pramono menjelaskan bahwa sebagian sampah Jakarta saat ini telah dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui berbagai fasilitas pengolahan, termasuk di Bantargebang, Marunda, dan Sunter.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan dan Bantargebang untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif.

Bahkan, pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi fuel energy di Bantargebang juga terus dilakukan guna meningkatkan kapasitas penanganan sampah Jakarta di masa depan.

Sebagian besar sampah digunakan untuk pembangkit listrik tenaga sampah di Bantargebang, Marunda, dan Sunter. Sebagian lagi untuk RDF di Rorotan dan Bantargebang,” jelasnya.

Warga Ingin Hilangkan Tong Sampah, Semua Sampah Dikelola dari Sumbernya

Ketua RW 014 Pondok Kelapa, Teguh Husaini, mengungkapkan bahwa gerakan pemilahan sampah sebenarnya sudah dimulai warga sejak tiga tahun lalu, jauh sebelum terbitnya Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.

Menurut Teguh, keberadaan regulasi tersebut semakin memperkuat komitmen warga untuk mewujudkan lingkungan minim sampah.

Bahkan, ia memiliki target yang cukup ambisius, yakni menghilangkan keberadaan tong sampah konvensional di wilayahnya.

Kami berharap nanti sampah organik rumah tangga bisa masuk ke dalam biopori sehingga target zero waste dapat tercapai. Saya juga punya rencana menghilangkan tong sampah di sini. Semua sampah akan dikelola di dalam tanah,” ungkapnya.

Ke depan, RW 014 berencana menambah jumlah Biopori Jumbo hingga mencapai 200 unit. Biopori tersebut tidak hanya digunakan untuk sampah rumah tangga, tetapi juga sampah organik yang berasal dari taman dan ruang publik.

Dengan dukungan penuh warga, kawasan ini berpeluang menjadi laboratorium hidup pengelolaan sampah perkotaan yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Jakarta.

Menuju Jakarta Zero Waste

Keberhasilan Jakarta mengatasi persoalan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi dan fasilitas berskala besar. Pengalaman RW 014 Pondok Kelapa menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana di tingkat lingkungan.

Jika model Biopori Jumbo berhasil diterapkan secara luas, Jakarta berpeluang mempercepat pencapaian target zero waste sekaligus mengurangi beban ribuan ton sampah yang selama ini menjadi tantangan utama ibu kota.

[Ib / Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *