Wartabuana.com | Komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam membangun pemerintahan yang responsif dan dekat dengan masyarakat kembali mendapat pengakuan nasional. Pada ajang Cita Loka Festival 2026 yang digelar di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat, Pemprov DKI Jakarta berhasil meraih Anugerah Daerah Terbaik dalam Membangun Tata Kelola yang Mendengar.
Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan pembangunan Jakarta tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga menempatkan suara warga sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan publik.
Hampir 300 Ribu Aduan Warga Berhasil Dituntaskan
Salah satu indikator utama yang mengantarkan Jakarta meraih penghargaan ini adalah keberhasilan Sistem Cepat Respons Masyarakat (CRM) dalam menangani laporan warga.
Data menunjukkan bahwa sepanjang Januari 2025 hingga Mei 2026, sebanyak 299.410 laporan berhasil diselesaikan dari total 305.658 aduan yang masuk. Angka tersebut setara dengan tingkat penyelesaian mencapai 98 persen.
Aduan tersebut berasal dari 71.112 warga yang memanfaatkan berbagai kanal pengaduan resmi pemerintah.
Berbagai persoalan yang dilaporkan mencakup layanan publik, fasilitas kota, kebersihan lingkungan, ketertiban umum, infrastruktur, hingga berbagai gangguan pelayanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pramono Anung: Membangun Kota Tidak Cukup Hanya dengan Beton dan Infrastruktur

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga kemampuan pemerintah untuk memahami kebutuhan masyarakat.
“Kalau Jakarta mau menjadi kota yang baik, maju, nyaman, dan aman, maka yang paling utama selain membangun infrastrukturnya adalah mendengar apa yang menjadi keinginan warganya,” ujar Pramono.
Menurutnya, pembangunan yang hanya berorientasi pada proyek fisik tanpa memahami kebutuhan masyarakat berpotensi kehilangan relevansi dan manfaat jangka panjang.
Konsep Collaborative City Making Jadi Kunci
Dalam membangun Jakarta, Pemprov DKI menerapkan konsep collaborative city making, yakni model pembangunan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat sebagai mitra strategis.
Pendekatan ini mendorong keterlibatan aktif warga, komunitas, akademisi, dunia usaha, hingga pemerintah dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan perkotaan.
Melalui pola kolaboratif tersebut, kebijakan yang lahir diharapkan lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus mampu menjawab tantangan perkotaan yang semakin kompleks.
Media Sosial Jadi Sumber Aspirasi dan Evaluasi
Pramono juga mengungkapkan bahwa dirinya secara rutin memantau berbagai masukan masyarakat, termasuk yang disampaikan melalui media sosial.
Menurutnya, banyak persoalan yang dapat diidentifikasi lebih cepat melalui keluhan maupun laporan yang beredar di ruang digital.
Mulai dari kasus pencurian fasilitas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), pemotongan kabel utilitas, kebakaran, hingga gangguan layanan publik lainnya menjadi perhatian pemerintah setelah mendapat sorotan masyarakat.
“Saya bersyukur selalu bisa merespons dengan cepat karena mendengar itulah menjadi kata kunci utama untuk membangun Jakarta,” katanya.
Menuju Kota Global yang Lebih Responsif dan Inklusif
Selain memperkuat sistem penanganan aduan masyarakat, Pemprov DKI Jakarta juga terus melanjutkan berbagai program pembangunan yang belum terselesaikan dari periode sebelumnya.
Sejumlah inovasi baru juga terus dihadirkan untuk mempercepat transformasi Jakarta menuju kota global yang modern, aman, nyaman, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan warganya.
Pemerintah daerah menilai bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari capaian fisik semata, tetapi juga dari tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan publik yang diterima.
Cita Loka Festival Jadi Ruang Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat
Dalam kesempatan tersebut, Pramono turut mengapresiasi penyelenggaraan Cita Loka Festival yang dinilai berhasil menjadi wadah dialog antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Menurutnya, forum seperti ini penting untuk memperkuat budaya keterbukaan dan kolaborasi dalam pembangunan daerah.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan Jakarta ke depan sangat bergantung pada kemampuan seluruh elemen untuk bekerja bersama dalam menciptakan solusi yang berdampak langsung bagi warga.
Penghargaan yang Menjadi Cermin Transformasi Jakarta
Anugerah Daerah Terbaik dalam Membangun Tata Kelola yang Mendengar tidak hanya menjadi simbol keberhasilan birokrasi Jakarta, tetapi juga mencerminkan perubahan paradigma pemerintahan yang semakin terbuka terhadap kritik, aspirasi, dan partisipasi masyarakat.
Dengan tingkat penyelesaian aduan yang mencapai 98 persen dan komitmen memperkuat kolaborasi warga, Jakarta berupaya menunjukkan bahwa kota modern bukan hanya tentang gedung tinggi dan infrastruktur megah, tetapi juga tentang kemampuan pemerintah hadir, mendengar, dan merespons kebutuhan masyarakat secara nyata.













