Mbah WP
Mbah WP
FILM

“Kafir: Gerbang Sukma” Siap Lebih Brutal dan Emosional, Horor Psikologis yang Tak Sekadar Menakutkan

×

“Kafir: Gerbang Sukma” Siap Lebih Brutal dan Emosional, Horor Psikologis yang Tak Sekadar Menakutkan

Share this article

Wartabuana.com —  Ambisi film “Kafir: Gerbang Sukma” sebagai sekuel horor psikologis ditegaskan melalui pendekatan penyutradaraan yang lebih berani dan sinematik. Sutradara Azhar Kinoi Lubis menyebut film ini dirancang untuk melampaui atmosfer film pertamanya, dengan storytelling yang lebih emosional, eksplorasi gore yang diperluas, serta misteri yang dipadatkan agar terasa lebih menghantui.

Azhar menyadari tantangan terbesar dalam menggarap sekuel ini terletak pada ekspektasi penonton. Ia berupaya menjaga identitas horor “Kafir” sambil mendorong batas visual dan emosi, sehingga penonton tidak hanya menjadi saksi teror, tetapi ikut terperangkap dalam dinamika batin keluarga Sri.

Horor yang Tumbuh dari Relasi dan Trauma

Berbeda dari horor konvensional yang mengandalkan kejutan semata, “Kafir: Gerbang Sukma” membangun atmosfer kelam secara perlahan melalui relasi antarkarakter. Rasa takut tidak hadir secara instan, melainkan sebagai akumulasi trauma, konflik, dan tekanan emosional yang saling bertumpuk.

Pendekatan ini membuat pengalaman menonton terasa lebih intens dan melelahkan secara psikologis. Horor bukan lagi sekadar efek visual, melainkan beban emosional yang terus menghantui hingga layar gelap.

Drama Keluarga dan Dosa Masa Lalu

Tema trauma keluarga dan konsekuensi dosa masa lalu menjadi benang merah yang konsisten dalam film ini. Produser Chand Parwez Servia mengungkapkan bahwa struktur keluarga Sri diperluas dengan kehadiran kakek-nenek serta anggota keluarga baru.

Dengan struktur keluarga yang lebih luas, konflik emosional bisa dieksplorasi lebih dalam dan berlapis,” ujarnya.

Pendekatan tersebut membuat film bergerak di dua jalur sekaligus: horor supranatural dan drama keluarga. Ritual mistik dan teror gaib berjalan beriringan dengan rasa bersalah, dendam, dan luka batin yang diwariskan secara tak disadari dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Rumah sebagai Simbol Trauma

Dari sisi visual, sinematografi dan tata produksi dirancang untuk memperkuat nuansa muram. Set rumah keluarga tidak sekadar menjadi latar cerita, tetapi tampil sebagai simbol ruang trauma—menyimpan memori, ketakutan, dan rahasia kelam.

Rumah tersebut seolah menjadi karakter tersendiri, mengikat para tokoh dalam lingkaran masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.

Horor yang Dibawa Pulang Penonton

Bagi Azhar Kinoi Lubis, “Kafir: Gerbang Sukma” adalah upaya menghadirkan horor yang tidak mudah dilupakan. Ketakutan tidak dibiarkan selesai di bioskop, melainkan dibawa pulang oleh penonton dalam bentuk pertanyaan tentang keluarga, dosa, dan pilihan hidup.

Dengan pendekatan emosional dan psikologis tersebut, film ini diproyeksikan menjadi salah satu horor Indonesia paling intens di awal 2026, mempertemukan teror visual dengan beban batin yang berat sekaligus relevan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *