Mbah WP
Mbah WP
FILM

FFH Edisi ke-5 Bongkar “Sensor Tersembunyi” Film Horor, Suzanna Jadi Film Terpilih

×

FFH Edisi ke-5 Bongkar “Sensor Tersembunyi” Film Horor, Suzanna Jadi Film Terpilih

Share this article

Wartabuana.com —  Fenomena sensor dalam film horor ternyata tak hanya terjadi saat tayang di bioskop, tetapi sudah dimulai sejak tahap ide. Hal ini terungkap dalam diskusi Festival Film Horor (FFH) edisi ke-5 yang sekaligus menetapkan Suzanna: Santet Dosa Di Atas Dosa sebagai film terpilih.

Sensor film horor dimulai sejak “bayangan” produksi

Festival Film Horor (FFH) yang digagas oleh para jurnalis kembali digelar di Pictum Cafe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (13/04). Mengangkat tema “Horor, Sensor, Promosi Film Horor”, diskusi ini menghadirkan sejumlah pelaku industri seperti Alkis Surya Pati, Ryan Fadilah, dan Rama Djunarko, dengan Irfan Handoko sebagai moderator.

Dalam diskusi, terungkap bahwa praktik sensor ternyata sudah terjadi sejak tahap awal produksi—bahkan sebelum film benar-benar dibuat.

Seorang pelaku industri yang telah lebih dari satu dekade berkecimpung di perfilman mengungkapkan bahwa kerahasiaan menjadi bentuk “sensor awal”. Judul film hingga nama sutradara kerap disembunyikan demi menghindari pencurian ide.

Bahkan sutradara saja kadang belum tahu judul film yang akan digarap,” ungkapnya.

Strategi sineas agar lolos sensor

Sutradara Rama Djunarko membagikan strategi yang kerap digunakan agar film dapat lolos sensor. Salah satunya adalah dengan mengangkat kisah nyata.

Menurutnya, pendekatan ini cenderung lebih “aman”, meski tetap memiliki tantangan tersendiri—terutama dari pihak keluarga tokoh yang kisahnya diangkat.

Ia mencontohkan kasus ketika adegan kekerasan dalam kisah nyata harus dihilangkan karena dianggap terlalu sensitif oleh keluarga korban, meskipun adegan tersebut merupakan bagian penting dari alur cerita.

Horor, kejutan, dan “bahasa sensor”

Sementara itu, kritikus film Alkis Surya Pati menekankan pentingnya memahami “akar” film agar dapat lolos sensor sekaligus diterima penonton.

Menurutnya, genre horor memiliki kekuatan pada elemen kejutan yang bisa dikemas secara cerdas tanpa melanggar batas sensor.

Horor itu soal kejutan. Di Indonesia, kejutan itu sering dibungkus dengan unsur mistik. Ini jadi strategi agar tetap menarik sekaligus aman,” jelasnya.

Sensor juga berlaku dalam promosi

Tak hanya dalam produksi, sensor juga berlaku dalam tahap promosi. Para pembicara sepakat bahwa materi promosi tetap harus mengikuti aturan dan tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.

Artinya, meskipun film sudah lolos dari lembaga sensor, strategi pemasaran tetap berada dalam pengawasan norma dan regulasi yang berlaku.

Suzanna jadi film terpilih FFH edisi ke-5

Selain diskusi, FFH edisi ke-5 juga memberikan penghargaan kepada insan perfilman. Film Suzanna: Santet Dosa Di Atas Dosa terpilih sebagai film terbaik dan meraih Nini Suny Award.

Adapun daftar pemenang lainnya:

  • Pemain wanita terpilih: Sandrinna Michelle (Danur)
  • Pemain pria terpilih: Iwa K (Suzanna)
  • Sutradara terpilih: Awi (Danur)
  • DoP terpilih: Muhammad Firdaus (Suzanna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *