Wartabuana.com — Upaya mendorong kemajuan film horor nasional kembali ditegaskan melalui Festival Film Horor (FFH) edisi ke-2, sebuah festival bulanan yang tak hanya memberi penghargaan, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi masa depan genre horor Indonesia di tengah dinamika selera penonton.
Berbeda dari festival film pada umumnya, FFH menghadirkan konsep yang lebih substantif dengan memberikan Nini Suny Award kepada film horor terpilih, sekaligus menggelar diskusi publik bertema “Tren Film Horor 2026” sebelum pengumuman pemenang. Pendekatan ini menegaskan posisi FFH sebagai forum evaluasi dan pengembangan film horor nasional.
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber lintas latar belakang, mulai dari Syaifullah Agam selaku Direktur Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nini L. Karim dosen psikologi Universitas Indonesia sekaligus artis senior, Arya Pramasaputra mahasiswa pascasarjana IKJ, hingga dua sutradara film horor yang tengah menunggu penayangan karya terbarunya, Ivan Bandhito dan Bayu Pamungkas.
Kelima pembicara sepakat bahwa film horor Indonesia harus semakin menghormati penontonnya. Salah satunya dengan menghadirkan karya yang meninggalkan kesan mendalam dan dapat diingat setidaknya dua hingga tiga hari setelah ditonton di bioskop, bukan sekadar mengandalkan efek kejut sesaat.
Mereka juga menyoroti pentingnya pembaruan tren. Film horor dinilai harus terus berkembang dan tidak terjebak pada formula yang itu-itu saja. Jika stagnasi terjadi, para pembicara mengingatkan perfilman Indonesia berpotensi kembali mengalami masa suram seperti periode sebelum tahun 2004.

Dalam paparannya, Syaifullah Agam mengungkapkan bahwa pada periode 2021–2023, film nasional bergenre horor dan komedi menjadi penyumbang penonton terbesar dengan total mencapai lebih dari 128 juta penonton, atau rata-rata 450 ribu penonton per judul. Angka tersebut menjadikan film horor sebagai lokomotif utama perfilman nasional.
Namun demikian, ia mencatat bahwa belakangan jumlah penonton film horor mulai menunjukkan penurunan. Karena itu, Syaifullah menekankan perlunya terobosan kreatif dari para sineas. Tanpa inovasi, film horor dikhawatirkan akan mengalami nasib serupa dengan genre film bernuansa Islami yang perlahan ditinggalkan penontonnya.
Sementara itu, Nini L. Karim menawarkan sudut pandang psikologis dengan menyebut film horor sebagai film mistik yang tetap harus berpijak pada akal sehat. Menurutnya, film horor idealnya mampu menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik penonton—sebuah tuntutan wajar dari penikmat film yang rela membayar untuk merasakan ketegangan dan ketakutan yang bermakna.

Puncak acara FFH edisi ke-2 ditandai dengan pengumuman penerima Nini Suny Award. Film Janur Ireng terpilih sebagai film terbaik, sekaligus mengantarkan Tora Sudiro sebagai Aktor Terpilih dan Kimo Stamboel sebagai Sutradara Terpilih. Sementara itu, Wavi Zihan dinobatkan sebagai Aktris Terpilih melalui film Qorin 2, dan Enggar Budiono meraih penghargaan DOP/Cameraman Terpilih lewat Dusun Mayit.
Selain penghargaan utama, FFH juga memberikan penghargaan khusus kepada Eppie Kusnandar atas dedikasi dan pengabdiannya yang panjang di dunia perfilman Indonesia.
Melalui edisi ke-2 ini, Festival Film Horor menegaskan perannya sebagai ruang dialog dan apresiasi yang mendorong film horor Indonesia agar terus berevolusi, relevan, dan mampu menjawab ekspektasi penonton di masa depan. (© Ib / artwork: DSP)













