RAGAM

Bukan Demo, Dua Film Ini Bawa Suara Pekerja Indonesia ke Inggris

0
×

Bukan Demo, Dua Film Ini Bawa Suara Pekerja Indonesia ke Inggris

Sebarkan artikel ini

Wartabuana.com | Suara pekerja Indonesia kini tak hanya terdengar melalui aksi massa, ruang perundingan, atau mimbar kebijakan. Lewat layar lebar, kegelisahan dan harapan mereka dibawa ke panggung internasional melalui dua film, Antrean Nomor Kematian dan Kandang yang Tak Menunduk.

Kedua karya sineas muda tersebut resmi dilepas untuk mewakili Indonesia dalam Working Class Film Festival di Sheffield, Inggris, setelah sebelumnya terpilih melalui kurasi Mayday Merah Putih (MADFEST Merah Putih) 2026.

Pertama Kali Film Kelas Pekerja Indonesia Dikirim ke Inggris

Ketua Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) sekaligus Ketua Penyelenggara MADFEST Merah Putih 2026, H. Sonny Pudjisasono, menyebut keberangkatan dua film tersebut sebagai momentum penting.

Ini sangat penting karena pertama kali film-film kelas pekerja kita kirim ke festival internasional,” ujar Sonny saat pelepasan di Gedung PPHUI, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (6/9/2026).

Menurut Sonny, Antrean Nomor Kematian memiliki kekuatan dalam menyampaikan kritik dan aspirasi pekerja. Film tersebut bersama Kandang yang Tak Menunduk akan menjadi bagian dari percakapan mengenai kehidupan kelas pekerja dari perspektif Indonesia.

Bukan Sekadar Mengejar Piala

Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo menilai film memiliki kekuatan lebih dari sekadar hiburan. Menurutnya, sinema dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan, merekam realitas sosial, sekaligus memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia.

Menariknya, Working Class Film Festival di Sheffield tidak mengenal konsep “the winner” yang menempatkan satu karya di atas karya lainnya.

Ketua kurator film MADFEST, Joko Santoso, mengatakan semangat tersebut sejalan dengan nilai kesetaraan yang dibawa festival.

Di Working Class Film Festival di Sheffield tidak ada yang namanya the winner. Kita setara,” katanya.

Ada Syarat Khusus untuk Tembus Festival Internasional

Pengiriman film juga memiliki persyaratan khusus. Karya yang diajukan harus mendapatkan endorsement dari serikat pekerja atau serikat buruh.

Dukungan terhadap dua film tersebut diberikan Serikat Pekerja Kreatif Perfilman Indonesia (SPKPI), yang berafiliasi dengan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI).

Setelah proses administrasi dan submission selesai, kedua film akan dikirim secara fisik ke Sheffield. Bagi penyelenggara, langkah ini bukan semata mengejar penghargaan, melainkan membuka jejaring dan memperkenalkan cerita pekerja Indonesia kepada dunia.

MADFEST Diproyeksikan Jadi Festival Internasional

Perjalanan MADFEST Merah Putih juga tidak berhenti pada 2026. Festival ini ditetapkan sebagai agenda tahunan dengan peluncuran setiap 1 Mei bertepatan dengan May Day.

Untuk 2027, puncak acara dijadwalkan pada 20–21 Agustus. Panitia juga menyiapkan ekspansi kategori menjadi 21 kategori serta menargetkan Indonesia menjadi tuan rumah Working Class Film Festival International pada 2028.

Dari Jakarta menuju Sheffield, dua film tersebut membawa pesan sederhana tetapi kuat: pekerja Indonesia juga memiliki cerita, suara, dan pengalaman yang layak didengar dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *