RAGAM

Legasi WS Rendra Dihidupkan Kembali di Solo Lewat “Reaktulisasi”

8
×

Legasi WS Rendra Dihidupkan Kembali di Solo Lewat “Reaktulisasi”

Sebarkan artikel ini

Wartabuana.com | Jejak pemikiran dan semangat berkesenian WS Rendra akan kembali dihidupkan di kota kelahirannya. Para murid, sahabat, dan komunitas seni bakal menggelar konser “Reaktulisasi Mengolah Daya Hidup dan Daya Cipta” di Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah, Jebres, Surakarta, Senin, 9 November 2026.

Pertunjukan musikalisasi puisi persembahan Yayasan Bengawan Solo Gong ini menghadirkan sejumlah nama besar lintas generasi. Di antaranya Iwan Burnani Toni, Sawung Jabo, Setiawan Djody, Butet Kartaredjasa, Toto Tewel, Didi Nini Thowok, Dewo, Rere Grass Rock, Oppi Andresta, hingga Sruti Respati dan Ine Arini Bastaman.

Inisiator sekaligus show director pertunjukan, Iwan Burnani Toni, mengatakan acara tersebut bukan sekadar pertunjukan mengenang sosok Rendra. Lebih dari itu, konser menjadi upaya menghidupkan kembali metode latihan dan nilai kreativitas yang diwariskan sang maestro.

Bengkel Teater Yogyakarta dan Bengkel Teater Rendra bukan sekadar tempat latihan, melainkan rahim spiritual tempat puluhan seniman lintas generasi menempa jiwa,” ujar Iwan di Solo, Minggu (30/8/2026).

Menghidupkan Kembali “Daya Hidup” Rendra

Menurut Iwan, konsep mengolah daya hidup merupakan salah satu fondasi latihan keaktoran yang diajarkan Rendra. Bagi sang penyair dan dramawan, manusia perlu mengolah daya hidup sebelum mengembangkan daya cipta, seni, filsafat maupun ilmu pengetahuan.

Karena itu, membawa gagasan tersebut kembali ke Solo dinilai memiliki makna khusus. Solo bukan hanya kota kelahiran Rendra, tetapi juga bagian penting dari perjalanan spiritual dan kreatifnya.

Solo memiliki arti penting dalam perjalanan spiritual dan kreatif Mas Willy. Menghidupkan kembali ingatan ini di Solo merupakan sebuah laku kebudayaan,” katanya.

Menyusuri Jejak Sang “Burung Merak”

Humas dan Publikasi pertunjukan, Eddie Karsito, menjelaskan konser akan dikemas secara artistik dengan menggabungkan musik dan puisi. Narasi pertunjukan juga akan membawa penonton menyusuri rekam jejak sejarah serta proses kreatif WS Rendra.

Pergelaran ini sekaligus menjadi momentum memperingati 91 tahun kelahiran WS Rendra, yang lahir pada 7 November 1935.

Semangat serupa sebelumnya pernah hadir melalui pertunjukan “Kesaksian Rendra” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 9 Agustus 2016. Saat itu, sejumlah murid dan sahabat Rendra turut terlibat.

Kini, satu dekade kemudian, semangat tersebut kembali dipertemukan di Solo—kota yang menjadi salah satu akar penting perjalanan hidup sang “Burung Merak”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *