Wartabuana.com | Suara kelas pekerja tak selalu harus terdengar melalui aksi di jalan. MADFEST Merah Putih 2026 menawarkan medium berbeda: film pendek sebagai ruang untuk menyampaikan aspirasi, kegelisahan, dan persoalan sosial secara kreatif tanpa kekerasan.
Ketua Penyelenggara MADFEST Merah Putih, Sonny Pudjisasono, mengatakan festival ini lahir untuk menghadirkan alternatif penyampaian aspirasi melalui media digital.
“Medfest Merah Putih ini adalah kamera mengganti megafon, layar menggantikan jalanan, dan visualisasi menggantikan slogan,” ujar Sonny di Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2026).
Angkat Realitas Kelas Pekerja
MADFEST bukan kompetisi konvensional karena tidak menetapkan juara pertama, kedua, maupun ketiga. Dari 10 film nominasi, panitia menyiapkan lima kategori penghargaan berdasarkan kekuatan karya dalam merekam persoalan masyarakat.
Isu yang diangkat beragam, mulai dari sengketa lahan pertanian, kehidupan pengemudi ojek online, nelayan, persoalan upah, PHK, hingga hak pekerja.
Panitia juga menggandeng Lembaga Sensor Film (LSF) untuk memastikan karya tetap berada dalam koridor sinematografi serta terhindar dari hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif.
Diluncurkan pada 1 Mei 2026, malam puncak penganugerahan MADFEST Merah Putih dijadwalkan berlangsung 18 Agustus 2026.
Festival ini mengusung tagline: “Saya adalah pekerja, pekerja adalah saya, sudah merdekakah?”













