Wartabuana.com — Di tengah derasnya arus informasi digital, citra Papua dinilai masih kerap terjebak dalam bayang-bayang konflik. Akademisi menilai, sudah saatnya narasi tentang Papua digeser—dari stigma negatif menuju kekuatan budaya yang kaya dan berdaya saing.
Papua di Persimpangan Disrupsi Digital dan Identitas Budaya
Akademisi Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI), Dr. Rasminto, menilai Papua saat ini berada di titik krusial antara disrupsi digital, perubahan sosial, dan kebutuhan menjaga identitas budaya.
Hal itu disampaikannya dalam forum diskusi kelompok terarah (FGD) Komunikasi Sosial (Komsos) TNI bertema Peran Konten Kreator dalam Membangun Citra Positif tentang Papua untuk Mendukung Indonesia Maju yang digelar Kogabwilhan III di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Menurut Rasminto, perkembangan teknologi telah membuka ruang luas bagi siapa saja untuk membangun narasi tentang Papua. Namun, ruang yang sama juga dipenuhi isu kekerasan, konflik, dan stigma yang terus berulang.
“Papua tidak boleh hanya dikenal karena konflik. Papua harus dikenal karena budaya, kreativitas, dan kontribusinya bagi Indonesia,” ujarnya.
Dominasi Narasi Negatif di Dunia Maya

Rasminto menyoroti bahwa percakapan digital tentang Papua masih didominasi isu pembunuhan, separatisme, hingga demonstrasi. Akibatnya, kekayaan budaya dan kekuatan sosial masyarakat Papua kerap tenggelam.
Di era disrupsi digital, lanjutnya, informasi menyebar tanpa batas dan siapa pun bisa menjadi “media”. Sayangnya, batas antara fakta, opini, dan hoaks sering kali menjadi kabur.
“Yang diperebutkan di era digital bukan hanya perhatian publik, tapi juga makna tentang Papua,” kata dia.
Budaya Papua: Modal Strategis yang Terabaikan
Rasminto menegaskan bahwa budaya Papua harus ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan citra masa depan. Ia menyebut budaya bukan sekadar simbol seremonial, melainkan sumber identitas dan kekuatan sosial.
Papua, menurutnya, memiliki kekayaan luar biasa:
- 262 bahasa daerah
- Keragaman etnik
- Seni, musik, dan tarian tradisional
- Sistem kekerabatan dan kepemimpinan adat
Tak hanya itu, Papua juga memiliki empat tipe kepemimpinan tradisional seperti big man, ondoafi, kerajaan, dan sistem campuran yang mencerminkan kedalaman pengetahuan sosial-politik masyarakatnya.
“Budaya Papua menyimpan nilai musyawarah, solidaritas, hingga harmoni dengan alam,” jelasnya.
Peran Strategis Konten Kreator: Dari Stigma ke Kebanggaan
Dalam konteks ini, konten kreator dinilai memegang peran penting sebagai “penjaga persepsi publik”. Mereka dapat mengangkat sisi lain Papua yang jarang terekspos.
Beberapa konten yang dinilai potensial antara lain:
- Kisah adat dan tokoh lokal
- Bahasa daerah dan tradisi lisan
- Musik, tarian, dan seni ukir
- Kuliner khas dan arsitektur kampung
- Cerita sukses generasi muda Papua
“Konten kreator bisa mengubah stigma menjadi kebanggaan,” tegas Rasminto.
Citra Positif Bukan Propaganda
Meski mendorong narasi positif, Rasminto mengingatkan pentingnya kejujuran dalam membangun citra. Papua masih menghadapi berbagai tantangan seperti ketimpangan, konflik, dan keterbatasan layanan dasar.
Namun, menurutnya, Papua tidak boleh direduksi hanya sebagai wilayah bermasalah.
“Citra positif harus dibangun dengan data, kejujuran, dan martabat budaya—bukan propaganda,” ujarnya.
Dorongan Literasi Digital dan Kolaborasi Nasional
Untuk memperkuat narasi positif, Rasminto mendorong peningkatan literasi digital bagi kreator muda Papua agar mampu memilah informasi secara kritis.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, TNI, akademisi, komunitas adat, hingga pelaku ekonomi kreatif.
“Gerakan konten positif Papua harus menjadi upaya bersama, sistematis, dan berkelanjutan,” pungkasnya.













