Wartabuana.com — Di tengah dorongan global menuju ekonomi inklusif, langkah konkret datang dari Bank Jakarta yang memilih merayakan ulang tahun ke-65 bukan sekadar seremoni, melainkan aksi nyata: memperkuat kapasitas ekonomi penyandang disabilitas melalui bantuan pelatihan kerja.
Komitmen Ekonomi Inklusif: Dari Seremoni ke Aksi Nyata
Bantuan penunjang pelatihan disalurkan kepada sahabat disabilitas binaan Yayasan Solidaritas Difabel Indonesia (YaSDI) dalam kunjungan ke Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Timur, Duren Sawit.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Direktur Kepatuhan Bank Jakarta, Ateng Rivai, kepada Ketua Pembina YaSDI, Suty Karno.
Langkah ini menegaskan pergeseran paradigma dalam dunia korporasi: dari sekadar tanggung jawab sosial (CSR) menuju investasi sosial yang berdampak langsung pada produktivitas dan kemandirian ekonomi kelompok rentan.
Disabilitas dan Ekonomi: Potensi yang Sering Terabaikan
Dalam perspektif ekonomi, pemberdayaan penyandang disabilitas bukan hanya isu sosial, tetapi juga peluang peningkatan partisipasi tenaga kerja.
Ateng Rivai menekankan bahwa akses terhadap pelatihan dan keterampilan menjadi kunci agar kelompok disabilitas mampu bersaing di pasar kerja.
“Dukungan ini adalah bentuk kepedulian agar sahabat disabilitas memiliki akses lebih baik terhadap pelatihan dan peluang mandiri,” ujarnya.
Pendekatan ini selaras dengan konsep inclusive growth, di mana pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi merata hingga ke lapisan masyarakat paling rentan.
YaSDI: Membangun Ekosistem Kemandirian
Sebagai mitra penerima manfaat, Yayasan Solidaritas Difabel Indonesia telah lama berfokus pada peningkatan kapasitas penyandang disabilitas melalui pelatihan kerja, advokasi kebijakan, hingga kegiatan sosial.
Didirikan oleh Suty Karno, yayasan ini aktif membangun ekosistem inklusif yang memungkinkan difabel tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara ekonomi.
Suty menilai dukungan dari sektor perbankan menjadi katalis penting dalam memperkuat program-program pemberdayaan.
“Bantuan ini sangat berarti untuk mendukung sarana pelatihan dan pengembangan kapasitas,” ungkapnya.
Dampak Jangka Panjang: Dari Pelatihan ke Kemandirian Finansial
Secara ekonomi, investasi dalam pelatihan keterampilan memiliki efek berganda (multiplier effect).
Peningkatan skill akan membuka akses kerja atau wirausaha, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan individu dan memperluas basis ekonomi produktif. Dalam konteks ini, langkah Bank Jakarta dapat dilihat sebagai strategi memperkuat fondasi ekonomi inklusif jangka panjang.
Sekretaris Perusahaan, Arie Rinaldi, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian HUT yang berfokus pada kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat.
Momentum HUT ke-65: Arah Baru CSR Perbankan
Perayaan HUT ke-65 Bank Jakarta menjadi refleksi bahwa institusi keuangan kini dituntut berperan lebih luas, tidak hanya sebagai motor ekonomi, tetapi juga agen perubahan sosial.
Pendekatan berbasis inklusi seperti ini berpotensi memperkuat reputasi perusahaan sekaligus menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan—sebuah kombinasi yang semakin relevan di era ekonomi modern.













