Wartabuana.com — Lampu temaram menyapu panggung Gedung Kesenian Jakarta. Dua tokoh berdiri saling berhadapan—Basukarna dan Kresna—sementara Dewi Kunti menatap dengan wajah sendu. Dalam senyap yang penuh duka, kisah besar tentang kesetiaan, dharma, dan takdir manusia kembali dihidupkan lewat pergelaran Wayang Orang Basukarna yang memikat sekaligus menggugah.
Pergelaran Wayang Orang Basukarna Tampil Megah di GKJ
Fragmen pembuka pertunjukan menampilkan kilas balik lakon Kresna Duta, ketika Kresna gagal membujuk Karna untuk berpihak pada Pandawa. Adegan ini menjadi pintu masuk menuju kisah besar Karna Tanding, lakon klasik yang menempatkan dua ksatria sakti—Arjuna dan Karna—sebagai “matahari kembar” di medan Kurusetra.
Pergelaran Wayang Orang produksi Satya Budaya Indonesia (SBI) ini dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada Sabtu, 17 Januari 2026. Garapan disutradarai maestro Wayang Orang Bharata, Mudjo Setiyo, dengan koreografi Nanang Ruswandi dan Ayok Prasetyo, serta iringan musik oleh Ragil Handoko
Patronase Sosialita: Ketika Budaya dan Profesionalisme Bertemu

Menariknya, pergelaran ini bukan sekadar pementasan seni, melainkan model patronase budaya yang memadukan sosialita ibu kota dengan pemain profesional Wayang Orang Bharata. Para pemain amatir dari kalangan eksekutif muda dan sosialita tampil disiplin dan bertanggung jawab, bahkan disebut tampil “lebih profesional dari yang profesional”.
Komunitas Satya Budaya Indonesia, yang diprakarsai Endang Purnomo—pengusaha transportasi ternama di Jakarta—menjadi motor utama kolaborasi ini.
Peran Dewi Kunti dimainkan oleh Exacty, puteri almarhum Sahid Gitosardjono, pendiri Hotel Sahid. Tokoh Kresna diperankan Marsma (Purn) Mulyono, sementara Karna dimainkan oleh Mikki, seorang eksekutif muda. Noni Sri Aryanti Purnomo tampil sebagai Bambang Irawan, didukung deretan pemain amatir SBI dan aktor profesional Bharata.
CSR atau CCR? Seni sebagai Tanggung Jawab Budaya
Pergelaran ini juga memantik diskusi menarik soal tanggung jawab korporasi terhadap seni. Budayawan Luluk Sumiarso menilai istilah CSR (Corporate Social Responsibility) belum sepenuhnya mengakomodasi kegiatan budaya.
“Yang tepat seharusnya CCR, Corporate Cultural Responsibility,” ujarnya. Menurutnya, seni tradisi kerap terpinggirkan karena tak dianggap sebagai kegiatan sosial saat audit, padahal nilai budayanya sangat besar bagi keberlanjutan bangsa.
Model patronase seperti ini dinilai bisa menjadi terobosan pelestarian seni tradisi di Jakarta—menghidupkan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan seniman.
Banjaran Basukarna: Riwayat Hidup Sang Ksatria Setia

Lakon Basukarna mengusung format banjaran, istilah yang diperkenalkan maestro Ki Nartosabdho—sejenis biografi panggung yang merangkai potongan penting perjalanan hidup tokoh.
Kisah dimulai dari kelahiran Karna, putra Dewi Kunti dan Batara Surya, yang lahir melalui telinga akibat mantra sakti Aji Kunta Wekasing Rahsa. Demi menjaga martabat Mandura, bayi Karna dihanyutkan di sungai, tanpa pernah tahu jati dirinya yang sesungguhnya.
Perjalanan hidup Karna berlanjut hingga pendadaran di padepokan Begawan Drona, ketika kemampuannya memanah menyamai Arjuna. Kesetiaannya kepada Duryudana kemudian membawanya menjadi Adipati Awangga—sebuah keputusan hidup yang kelak membawanya ke medan perang melawan saudara kandungnya sendiri.
Karna Tanding: Matahari Kembar di Kurusetra
Puncak pertunjukan adalah duel Karna dan Arjuna di Padang Kurusetra. Dua ksatria, dua matahari—Surya dan Baskara—sama-sama bersinar, sama-sama benar, namun berdiri di jalan dharma yang berbeda.
Arjuna membela tanah air dari angkara murka, sementara Karna teguh pada nilai kesetiaan dan pengabdian kepada negara. Filosofi Jawa merangkumnya dalam satu kalimat abadi: Tan Hana Dharma Mangrwa—tidak ada dharma yang mendua.
Di tengah pertarungan itu, Dewi Kunti terjebak antara bangga, sedih, dan penyesalan. Sebuah tragedi batin yang membuat kisah ini terasa begitu manusiawi, filosofis, dan relevan lintas zaman.
Inspirasi “Matahari Kembar” untuk Konflik Zaman Kini
Filosofi Surya Baskara dalam lakon ini bahkan ditarik ke konteks kekinian. Konsep dua matahari yang sama-sama bersinar tanpa saling memadamkan dinilai relevan untuk menyelesaikan konflik budaya, termasuk kisruh internal Keraton Surakarta.
Nilai Jawa “Wani Ngalah Luhur Wekasane”—berani mengalah demi kemuliaan bersama—menjadi pesan kuat dari panggung wayang orang ini: menang tanpa mengalahkan, rukun tanpa saling meniadakan.
Pergelaran Wayang Orang Basukarna bukan sekadar tontonan seni tradisi, melainkan refleksi mendalam tentang kepemimpinan, kesetiaan, dan kemanusiaan. Dalam balutan patronase sosialita dan profesionalisme seniman Bharata, seni tradisi kembali menemukan relevansinya—hidup, bermakna, dan menyapa zaman.
Oleh: Undung Wiyono, adalahBudayawan, Dalang Wayang Orang Bharata, dan Sekretaris Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan












