Wartabuana.com — Valentine identik dengan bunga, cokelat, dan makan malam romantis. Namun bagi sebagian orang, 14 Februari justru menjadi ruang sunyi untuk mengingat—tentang seseorang yang pernah ada, percakapan yang tak selesai, dan rindu yang diam-diam masih tinggal.
Di momentum itulah Eileen Pandjaitan, yang dikenal dengan nama panggung Ei, merilis single terbarunya berjudul Shooting Star. Lagu ini bukan sekadar pop ballad biasa, melainkan ruang personal yang terasa seperti surat yang tak pernah terkirim.
Tentang kehilangan yang belum selesai

“Shooting Star” bercerita tentang seseorang yang terus kembali ke tempat yang sama, di waktu yang sama, berharap ada keajaiban kecil yang membawa sosok yang dicinta kembali pulang.
Narasi visualnya sederhana namun kuat: seorang perempuan berdiri di kafe tempat mereka dulu bertemu, meyakinkan diri bahwa ia melihat mobil seseorang itu lewat. Mungkin hanya halusinasi. Mungkin harapan.
Dari titik itu, lagu mengalir seperti percakapan batin tanpa filter—jujur, intim, dan menghantam pelan-pelan.
“‘Shooting Star’ itu semacam percakapan batin yang nggak pernah sempat tersampaikan,” ungkap Ei.
Produksi minimalis, emosi maksimal
Secara musikal, pendekatan produksi lagu ini sengaja dibuat intimate. Tidak banyak layer instrumen, tidak ada dramatisasi berlebihan. Hanya ruang kosong yang memberi tempat bagi vokal lembut Ei untuk benar-benar berbicara.
Kolaborasinya bersama Bowo Soulmate sebagai vocal director, serta Ankadiov dan Andreas Arianto sebagai produser, menghasilkan soundscape yang bersih dan resonan. Pendengar seolah diajak duduk di meja kafe itu, menyaksikan langsung percakapan batin yang terjadi.
Tidak berlebihan. Tidak dramatis secara artifisial. Hanya kejujuran.
Soundtrack Valentine untuk yang belum move on

Berbeda dari lagu-lagu cinta yang merayakan kebersamaan, “Shooting Star” justru menjadi anthem bagi mereka yang:
Masih menyimpan satu nama di playlist khusus
Pernah kehilangan tapi tetap percaya pada keajaiban kecil
Sedang berdamai dengan rasa sakitnya sendiri
Memilih mencintai tanpa harus memiliki
Lagu ini tidak memaksa pendengar untuk segera move on. Sebaliknya, ia menemani proses mengakui bahwa rasa itu masih ada.
Musisi muda dengan kedalaman rasa
Lahir pada 2003, Ei merupakan singer-songwriter muda yang kini menempuh pendidikan di Berklee College of Music melalui jalur beasiswa. Di usia yang relatif muda, kedalaman emosi dalam karya-karyanya terasa matang dan reflektif.
Di tengah era digital yang serba cepat—scroll, swipe, skip—kehadiran lagu yang mampu membuat pendengar berhenti dan benar-benar merasakan sesuatu menjadi semakin langka. “Shooting Star” menawarkan pengalaman itu.
Lebih dari sekadar lagu, ini ruang untuk pulang
Valentine tahun ini mungkin tidak semua orang merayakan dengan unggahan romantis atau bunga mawar. Namun cinta, dalam bentuk apa pun, tetap layak dirayakan—termasuk cinta yang belum selesai.
Dan ketika malam datang, saat seseorang menatap langit dan melihat bintang jatuh, “Shooting Star” hadir sebagai pengingat bahwa bahkan bintang yang jatuh pun bisa menuntun seseorang pulang—setidaknya, pulang pada dirinya sendiri.













