Wartabuana.com — Ambisi menjadikan Jakarta sebagai pusat industri film nasional kembali digaungkan Rano Karno saat menghadiri Jakarta Youth Film Festival 2026, momentum yang dinilai krusial untuk memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong ekonomi kreatif berbasis generasi muda.
Momentum Hari Film Nasional dan kebangkitan industri layar lebar

Digelar di Perpustakaan Nasional, festival ini bukan sekadar perayaan. Kehadirannya bertepatan dengan semangat Hari Film Nasional, yang setiap tahun menjadi refleksi perjalanan industri film Tanah Air.
Dalam sambutannya, Rano Karno menegaskan bahwa industri film bukan hanya soal hiburan, tetapi juga sektor strategis dengan dampak ekonomi luas. Ia menyoroti bahwa selama ini industri film masih menghadapi tantangan klasik, terutama dalam hal pembiayaan.
“Selama puluhan tahun saya di dunia film, belum ada perbankan yang serius membiayai karena dianggap berisiko tinggi,” ujarnya.
Potensi besar film Indonesia: 122 juta penonton jadi sinyal kuat
Data terbaru menunjukkan tren yang tak bisa diabaikan. Sepanjang 2024, jumlah penonton film di Indonesia mencapai 122 juta orang, dengan sekitar 85 persen memilih film lokal.
Angka ini menegaskan bahwa film Indonesia kini bukan hanya bertahan, tetapi mulai mendominasi pasar domestik. Dalam perspektif industri, ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor perfilman memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama dari sisi intellectual property (IP).
Strategi Pemprov DKI: dari insentif pajak hingga Jakarta Film Commission

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan sejumlah langkah konkret. Salah satunya adalah pembentukan Jakarta Film Commission, lembaga yang diharapkan menjadi motor penggerak industri film di ibu kota.
Selain itu, Pemprov juga menyiapkan insentif fiskal berupa dana pengembalian pajak tontonan hingga Rp84 miliar bagi para produser.
“Dana ini akan kami kembalikan untuk mendorong produksi film. Target kami jelas: Jakarta harus menjadi kota sinema,” tegas Rano.
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menarik investasi sekaligus menciptakan ekosistem produksi yang lebih kompetitif.
Kolaborasi lintas sektor, kunci ekonomi kreatif berkelanjutan
Dukungan terhadap industri film juga datang dari Bank Indonesia. Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menegaskan bahwa film memiliki efek berganda (multiplier effect) yang signifikan.
Industri ini mampu menggerakkan berbagai sektor lain seperti pariwisata, kuliner, transportasi, hingga fesyen—menjadikannya salah satu tulang punggung ekonomi kreatif.
Festival ini sendiri menghadirkan pemutaran film pendek dan diskusi bersama tokoh perfilman nasional seperti Riri Riza dan Prilly Latuconsina, yang turut memberi perspektif industri kepada generasi muda.
Jakarta Youth Film Festival, dari lokal menuju panggung global
Mengusung tema “Jakarta Kota Kita”, festival ini diharapkan menjadi ruang lahirnya karya-karya berbasis perspektif lokal yang mampu bersaing secara global.
Lebih dari itu, Jakarta Youth Film Festival diproyeksikan berkembang menjadi ajang bertaraf internasional, memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan kreatif.
Kolaborasi antara pemerintah, regulator, pelaku industri, hingga komunitas—atau yang dikenal sebagai pentaheliks—menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem ini secara berkelanjutan.













