Wartabuana.com — Di tengah kembalinya waralaba horor legendaris Indonesia, Clift Sangra menghadirkan momen yang tak kalah menyentuh. Lewat sebuah puisi, ia mengenang sang istri, Suzzanna—membuka kembali kisah cinta yang tak lekang oleh waktu.
Puisi penuh rindu untuk sang ratu horor
Clift menuliskan puisi yang sarat emosi, menggambarkan kerinduan mendalam kepada Suzzanna yang telah lama berpulang. Bagi publik, Suzzanna adalah ikon horor yang melegenda. Namun bagi Clift, ia adalah sosok sederhana yang penuh kasih.
“Orang-orang mengenangmu sebagai legenda ratu horor Indonesia. Tapi bagiku, kau hanyalah perempuan yang tertawa pelan di ruang tamu,” tulis Clift.
Dalam bait lain, ia mengungkapkan ketakutan paling personal—bukan kehilangan sosok, melainkan kenangan kecil yang perlahan memudar.
“Aku justru takut pada satu hal: takut lupa suara tawamu yang paling sederhana.”
Puisi ini pun menyentuh banyak penggemar, karena memperlihatkan sisi lain dari kehidupan pribadi sang legenda.
Cinta yang tak pernah berpamitan

Clift juga menegaskan bahwa cinta yang ia miliki untuk Suzzanna tidak pernah benar-benar berakhir, meski waktu telah memisahkan mereka.
“Waktu boleh memisahkan ragamu dariku, tapi cintaku tak pernah belajar cara berpamitan.”
Ungkapan tersebut menjadi refleksi cinta sejati yang tetap hidup, bahkan setelah puluhan tahun kepergian sang istri.
Dari pasangan layar ke “lawan” di film terbaru
Menariknya, di masa lalu Clift dan Suzzanna dikenal sebagai pasangan ikonik di layar lebar. Mereka pernah bermain bersama dalam sejumlah film legendaris seperti Sangkuriang, Nyi Blorong, Perkawinan Nyi Blorong, hingga Ajian Ratu Laut Kidul.
Kini, dalam film terbaru Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Clift justru memerankan karakter Bisman—tokoh yang menjadi “lawan” Suzzanna.
Peran ini menjadi simbol perjalanan panjang karier sekaligus penghormatan terhadap legacy sang istri.
Hidupkan kembali warisan Suzzanna di layar lebar
Film produksi Soraya Intercine Films yang diproduseri Sunil Soraya ini turut dibintangi Luna Maya dan Reza Rahadian.
Dirilis mulai 18 Maret 2026, film ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali IP horor legendaris Indonesia untuk generasi baru.
Clift pun mengajak masyarakat untuk menonton film tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap karya-karya Suzzanna.
“Suzzanna, karyamu kekal abadi. Rayakan Lebaran di bioskop bersama Bunda Suzzanna,” ujarnya.
Lebaran, cinta, dan kenangan yang abadi
Kehadiran film ini di momen Lebaran bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ruang nostalgia bagi penonton lintas generasi.
Di balik gemerlap layar, kisah cinta Clift dan Suzzanna justru menjadi cerita yang paling membekas—tentang rindu, kehilangan, dan cinta yang tak pernah benar-benar pergi.









