Wartabuana.com — Perekonomian DKI Jakarta menunjukkan performa solid sepanjang 2025. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Februari 2026, ekonomi Jakarta tumbuh 5,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,11 persen.
Tak hanya tumbuh lebih cepat, kontribusi Jakarta terhadap perekonomian nasional juga tetap dominan, mencapai 16,61 persen, menegaskan posisi ibu kota sebagai motor utama ekonomi Indonesia.
Pramono: Hasil Kerja Bersama Semua Elemen Kota

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai capaian tersebut merupakan buah kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga partisipasi aktif masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi Jakarta yang melampaui rata-rata nasional adalah buah dari kolaborasi. Pemerintah menjaga iklim usaha, dunia usaha menciptakan nilai tambah, dan warga tetap percaya serta aktif berpartisipasi dalam perekonomian kota,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Kamis (5/2).
Sektor Pariwisata dan Mobilitas Jadi Penopang Utama
Sepanjang 2025, hampir seluruh lapangan usaha di Jakarta mencatatkan pertumbuhan positif. Tiga sektor dengan kinerja tertinggi adalah:
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum: tumbuh 9,33 persen
Transportasi dan Pergudangan: tumbuh 8,69 persen
Jasa Lainnya: tumbuh 8,46 persen
Tren ini menunjukkan kuatnya pemulihan sektor berbasis mobilitas, pariwisata, dan konsumsi masyarakat, seiring meningkatnya aktivitas warga dan kunjungan ke pusat-pusat ekonomi.
Konsumsi Rumah Tangga Masih Jadi Tulang Punggung
Dari sisi pengeluaran, struktur ekonomi Jakarta masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 62,80 persen, disusul Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 33,79 persen, serta konsumsi pemerintah sebesar 13,20 persen.
Struktur tersebut menegaskan pentingnya menjaga daya beli masyarakat, sekaligus mendorong investasi yang berkelanjutan agar pertumbuhan tetap stabil.
Akhir Tahun 2025 Jadi Momentum Penguatan Ekonomi
Momentum pertumbuhan ekonomi Jakarta semakin menguat pada Triwulan IV-2025, dengan laju pertumbuhan mencapai 5,71 persen (year on year). Pada periode ini, sektor:
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 8,40 persen,
Jasa Lainnya 8,32 persen,
Jasa Perusahaan 8,11 persen.
Menurut Pramono, kinerja positif di akhir tahun tak lepas dari kebijakan stimulus yang dirancang untuk menggerakkan aktivitas ekonomi sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.
“Kami mendorong stimulus di periode akhir tahun bukan sekadar mengejar angka, tetapi memastikan roda ekonomi berputar dan lapangan kerja tetap terjaga,” jelasnya.
Jakarta Festive Wonders dan Insentif Pajak Dongkrak Aktivitas
Salah satu kebijakan strategis tersebut diwujudkan melalui Jakarta Festive Wonders 2025, ajang lomba digitalisasi transaksi dan dekorasi pusat perbelanjaan serta hotel di Jakarta. Program ini diikuti 81 peserta dan menargetkan nilai transaksi sekitar Rp15,25 triliun, atau meningkat 15 persen dibandingkan periode normal.
Selama periode Natal dan Tahun Baru, kunjungan ke pusat perbelanjaan naik sekitar 20 persen, sementara tingkat okupansi hotel meningkat dari 85 persen menjadi 90 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Keringanan Pajak Capai Rp495 Miliar
Pemprov DKI Jakarta juga memberikan keringanan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) untuk sektor makanan-minuman dan perhotelan. Insentif diberikan sebesar 50 persen pada Agustus–September dan 20 persen pada Oktober–Desember 2025.
Kebijakan yang tertuang dalam Keputusan Gubernur Nomor 722 Tahun 2025 ini mencatatkan total keringanan pajak sebesar Rp495 miliar, yang dinikmati oleh 45.248 objek pajak, sebagai respons atas kenaikan biaya produksi dan upaya mencegah pemutusan hubungan kerja.
Insentif Tak Hambat Penerimaan Daerah
Menariknya, pemberian insentif tersebut tidak menggerus penerimaan daerah. Realisasi pajak reklame justru tumbuh 8,85 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pembebasan pajak reklame di pusat perbelanjaan juga mendorong kenaikan PBJT Makanan dan Minuman sebesar 7,73 persen serta PBJT Jasa Perhotelan sebesar 9,18 persen dibandingkan November 2025.
Komitmen Pertumbuhan Inklusif
Gubernur Pramono menegaskan, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.
“Ke depan, kami memastikan kebijakan fiskal dan program pembangunan berpihak pada penguatan daya beli warga, penciptaan lapangan kerja, dan keberlanjutan usaha. Pertumbuhan ekonomi harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga Jakarta,” pungkasnya.













