Wartabuana.com — Di tengah perubahan besar industri media akibat digitalisasi, sebagian pelaku usaha memilih bertahan. Namun bagi Ko Amirullah, perubahan justru menjadi pintu untuk memulai langkah baru.
CEO sekaligus Founder Media8 Indonesia itu kini semakin serius menapaki industri film nasional. Dengan membawa delapan judul film sekaligus ke meja produksi, Ko Amirullah menunjukkan optimisme besar terhadap masa depan perfilman Indonesia yang dinilai semakin menjanjikan.
Langkah tersebut ia ceritakan saat hadir dalam acara Ruang Rindu “Ramadhan Berbagi” yang digelar di RRI Jakarta pada Rabu, 4 Maret 2026.
Media8 Indonesia, holding bisnis dengan fokus baru di film
Ko Amirullah menjelaskan bahwa Media8 Indonesia merupakan holding company dengan berbagai lini bisnis. Perusahaan ini memiliki diversifikasi usaha mulai dari produk kesehatan hingga nutrisi keluarga.
Beberapa produk yang berada di bawah naungan PT Ami Rafllindo Sukses Makmur antara lain SKS (Susu Keluarga Sehat), susu etawa, serta produk fiber.
Namun belakangan, perhatian publik lebih banyak tertuju pada divisi film mereka, Arta Media Indonesia atau Media8 Pictures, yang menjadi kendaraan baru perusahaan untuk masuk ke industri perfilman nasional.
Pandemi jadi titik balik karier
Perjalanan Ko Amirullah menuju industri film bermula dari dampak pandemi terhadap dunia periklanan. Selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai konsultan media yang menangani berbagai brand besar seperti Texas Fried Chicken, Saudi Airlines, Sophie Martin, Nyonya Meneer hingga Dancow.
Namun ketika pandemi membuat iklan televisi menurun drastis karena pergeseran ke platform digital, ia melihat peluang baru.
“Saya kan awalnya di advertising dan kita sering syuting tapi dalam bentuk iklan TV. Karena setelah pandemi ada penurunan luar biasa di TV, akhirnya beralihlah ke film,” ujar Ko Amirullah.
Langkah pertamanya dimulai pada 2019 melalui produksi film Petualangan Dinos yang ditayangkan di Teater IMAX Keong Mas Jakarta.
Dari proyek itulah lahir Media8 Pictures, yang hingga kini telah memproduksi hampir 11 film.
Sekuel Petualangan Dinos hadir dengan teknologi Hybrid AI
Salah satu proyek yang paling dinantikan adalah kelanjutan film Petualangan Dinos, yang dijadwalkan tayang pada 14 Maret 2026 di Keong Mas Jakarta.
Menariknya, film ini menghadirkan pendekatan teknologi baru dalam proses produksinya.
“Nyaris full Artificial Intelligence (AI), kami memberikan istilah baru namanya Hybrid AI. Jadi tidak semuanya AI, namun kita kombinasi dengan orang aslinya,” jelas Ko Amirullah.
Pendekatan tersebut menjadi eksperimen menarik dalam produksi film lokal, terutama dalam memanfaatkan teknologi digital untuk memperkaya pengalaman visual penonton.
Delapan film dengan beragam genre siap masuk bioskop
Media8 Pictures saat ini juga tengah menyiapkan delapan film lain dengan berbagai genre.
Salah satu yang paling dekat dengan penayangan adalah film drama Cinta yang Terendah, yang kini berada pada tahap final mixing dan mastering sebelum diajukan ke jaringan bioskop XXI menjelang Lebaran.
Selain itu, ada film Ala Aladin, serta dua film horor yang digadang-gadang menjadi andalan:
Kualat Alas Roban, adaptasi legenda mistis Alas Roban yang dikemas dalam balutan komedi-horor.
Sulur, film bertema pesugihan yang menjalani proses syuting pada Januari lalu di Sukabumi.
Strategi memproduksi banyak film sekaligus mungkin terlihat berisiko, namun Ko Amirullah menegaskan bahwa langkah tersebut bukan keputusan spekulatif.
Lonjakan penonton bioskop jadi alasan investasi
Menurutnya, keputusan berinvestasi di industri film didasarkan pada data pertumbuhan penonton bioskop Indonesia.
Jumlah penonton bioskop nasional disebut meningkat signifikan, dari sekitar 83 juta pada 2024 menjadi hampir 125 juta pada 2025, dengan sekitar 60 persen di antaranya merupakan penonton film lokal.
“Makanya, saya berani investasi di film karena melihat peluang itu,” ujarnya.
Ia juga menilai bioskop menjadi salah satu medium hiburan yang tetap bertahan di tengah gempuran digitalisasi.
Berbeda dengan televisi, radio, dan media cetak yang banyak tergeser oleh YouTube dan platform streaming, pengalaman menonton film di bioskop dinilai tetap memiliki daya tarik tersendiri.
“Bioskop itu lah yang jadi hiburan, seperti arena untuk melepas kepenatan dan mencari kepuasan visualisasi, audio, dan sebagainya,” kata Ko Amirullah.
Optimistis film Indonesia tetap berkembang
Meski optimistis, Ko Amirullah tetap realistis melihat kondisi ekonomi Indonesia pada 2026 yang masih dalam masa pemulihan pascapolitik.
Namun ia meyakini industri hiburan, khususnya bioskop, akan tetap bergerak dan bahkan tumbuh.
“Penonton di bioskop ini cukup tinggi, sehingga saya optimis film-film saya mungkin ada yang box office,” ujarnya sambil tersenyum.
Ekspansi ke bisnis herbal dan kesehatan
Selain fokus di dunia film, Media8 Indonesia juga menyiapkan langkah ekspansi di sektor kesehatan berbasis herbal.
Salah satu produk yang tengah disiapkan adalah Benvit Collagen, yang menyasar pasar suplemen kesehatan yang terus berkembang.
“Masyarakat sekarang konsern dengan kesehatan, jadi produk kita kebetulan fokus di herbal juga; ada nutrisi, susu, suplemen, dan semua based on herbal,” paparnya.
Produk-produk tersebut ditargetkan memiliki distribusi yang menjangkau pasar nasional.
Menulis ulang perjalanan entrepreneur media
Perjalanan Ko Amirullah mencerminkan bagaimana seorang pelaku industri media beradaptasi di era disrupsi.
Dari dunia iklan televisi menuju produksi film layar lebar, ia mencoba memanfaatkan perubahan industri sebagai peluang untuk membangun brand dan karya miliknya sendiri.
Dan dengan delapan film yang tengah disiapkan, langkah Media8 Pictures tampaknya baru saja memasuki babak awal.











