RAGAM

Polimedia Ubah Limbah Jadi Filamen 3D Printing, Ini Inovasinya

0
×

Polimedia Ubah Limbah Jadi Filamen 3D Printing, Ini Inovasinya

Sebarkan artikel ini

Wartabuana.com | Limbah plastik kemasan dan tandan kosong kelapa sawit dikembangkan menjadi bahan baku pencetakan tiga dimensi (3D printing), sementara kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dimanfaatkan untuk membuat animasi bertema budaya Indonesia. Kedua inovasi ini menjadi bagian dari hasil penelitian dosen Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Jakarta yang dipamerkan dalam rangka Dies Natalis ke-18.

Pameran tersebut juga menampilkan platform pembelajaran digital gratis, tepung talas, dan produk terkait pengolahan limbah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Beragam karya ini menunjukkan upaya pengembangan teknologi dan kreativitas untuk menghasilkan produk yang berpotensi dimanfaatkan masyarakat.

Animasi AI Angkat Budaya Indonesia

Tim dosen Polimedia mengembangkan animasi dua dimensi berbasis AI dengan mengangkat unsur budaya Indonesia, antara lain wayang. Karya ini melibatkan Handika, Freddy, Soehardi, dan Antonius, dengan waktu pengerjaan sekitar dua hingga tiga bulan.

Penggunaan AI membuka peluang eksplorasi teknologi dalam produksi audiovisual, sedangkan tema budaya Indonesia menjadi sarana memperkenalkan kekayaan nasional melalui media digital. Karya ini sekaligus dapat menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa untuk memadukan keterampilan artistik dengan teknologi baru.

Limbah Plastik Jadi Filamen 3D Printing

Dosen Program Studi Teknik Grafika Polimedia mengembangkan filamen 3D printing dengan memanfaatkan limbah plastik dari proses produksi kemasan.

Filamen merupakan bahan baku mesin pencetak tiga dimensi untuk membentuk objek berdasarkan desain digital. Dalam penelitian ini, material dibuat dari campuran 25 persen limbah plastik kemasan dan 75 persen biji plastik polylactic acid (PLA). Kedua bahan dilebur dan diproses menjadi filamen, kemudian digunakan untuk mencetak sejumlah produk.

Mahasiswa Program Studi Teknik Grafika, Agung Zaid, mengatakan penelitian tersebut masih menghadapi kendala dalam menjaga keseragaman diameter filamen. Meski demikian, material hasil pengembangan telah dicoba untuk mencetak beberapa produk.

“Harapannya, mahasiswa bisa lebih mengembangkan teknologi ini dan belajar lebih intensif sehingga dapat semakin mewujudkan industri kreatif,” ujar Agung.

Pemanfaatan limbah plastik ini berpotensi memberikan nilai tambah pada material sisa produksi sekaligus memperluas pilihan bahan untuk pembuatan prototipe dan produk kreatif. Namun, konsistensi diameter dan kualitas hasil cetak masih perlu disempurnakan.

Penelitian lain menggunakan tandan kosong kelapa sawit sebagai campuran filamen. Limbah tersebut dihaluskan dan dikeringkan sebelum dicampur dengan plastik, dipanaskan, lalu dibentuk menjadi filamen.

Material ini diarahkan menjadi alternatif yang diharapkan lebih mudah terurai dibandingkan plastik konvensional. Namun, karena masih mengandung plastik dan memiliki keterbatasan kekuatan serta daya tahan, pengujian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan kesesuaian penggunaannya.

E-MOC Buka Akses Belajar Gratis bagi UMKM

Polimedia juga memperkenalkan E-MOC, platform pembelajaran digital gratis yang menyediakan materi pemasaran digital (digital marketing), fotografi, hingga kuliner.

Platform ini dapat diakses melalui telepon seluler maupun laptop dan dilengkapi kuis serta sertifikasi. E-MOC ditujukan antara lain bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ingin meningkatkan keterampilan tanpa harus mengikuti pelatihan secara langsung.

Materi pemasaran digital dapat membantu pengguna mempelajari promosi daring, sementara fotografi memberikan bekal untuk menghasilkan gambar produk yang lebih baik. Pengguna dapat memilih materi sesuai kebutuhan masing-masing.

Sebelum diperkenalkan, website tersebut telah melalui tahap perancangan, pengembangan, dan pengujian untuk memperoleh masukan mengenai kemudahan akses serta fungsinya.

Tepung Talas dan Pengolahan Limbah MBG

Di bidang pangan, pameran menampilkan tepung talas yang diperkenalkan dengan karakteristik bebas gluten (gluten-free), rendah indeks glikemik (low-glycemic), dan tinggi serat (high-fiber).

Produk ini berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif berbasis talas. Namun, klaim kandungan gizi dan indeks glikemiknya perlu didukung pengujian yang sesuai sebelum digunakan sebagai dasar promosi atau rekomendasi konsumsi.

Pameran juga menampilkan produk terkait pengelolaan limbah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penelitian ini diarahkan untuk meningkatkan nilai guna limbah, meskipun informasi terperinci mengenai bahan, proses pengolahan, dan bentuk produk akhirnya masih perlu dikonfirmasi kepada tim peneliti.

Mendorong Penerapan Hasil Riset

Berbagai inovasi yang dipamerkan memperlihatkan cakupan penelitian Polimedia, mulai dari teknologi animasi dan material alternatif hingga pangan dan pembelajaran digital. Tantangan berikutnya adalah menyempurnakan kualitas produk, melakukan pengujian yang diperlukan, serta menjajaki kerja sama dengan industri dan masyarakat agar hasil riset dapat diterapkan sesuai kebutuhan.

Selain pameran penelitian, Dies Natalis ke-18 Polimedia yang dibuka oleh Direktur Utama Polimedia, Dwi Riyono, dimeriahkan dengan lomba fotografi, kompetisi kostum paling menarik, lomba desain logo ulang tahun Polimedia, dan pemilihan Duta Polimedia.

Perayaan tersebut juga menghadirkan grup musik J-Rocks yang membawakan sejumlah lagu populer, antara lain Ceria, Tinggalkan Aku, dan Falling in Love.

Penulis : Sikarini Sasikirana (Mahasiswa Prodi Fotografi, 
          Politeknik Negeri Media Kreatif, Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *