Wartabuana.com | Aktris Nana Mirdad ikut menyoroti persoalan harga masker di tengah situasi darurat akibat sebaran abu vulkanik. Ia mengaku geram setelah menemukan masker yang sebelumnya disebut dijual sekitar Rp12 ribu melonjak hingga Rp180 ribu per buah.
Kritik tersebut disampaikan Nana melalui akun Threads pribadinya, Senin (7/9/2026). Menurutnya, kenaikan harga secara drastis ketika masyarakat membutuhkan perlindungan dari paparan abu vulkanik merupakan hal yang patut dipertanyakan.
“Agak gila juga di saat rakyat banyak yang kesusahan lihat brand penjual masker proper malah naikin harga jadi 180 ribuan per biji. Sementara paginya masih dijual di harga 12 ribu aja,” tulis Nana.
Nana Mirdad: Cari Untung Boleh, Tapi Jangan Berlebihan
Jika mengacu pada harga yang disebut Nana, masker tersebut mengalami kenaikan sekitar 15 kali lipat, atau setara dengan kenaikan sekitar 1.400 persen dari harga sebelumnya.
Istri aktor Andrew White itu memahami bahwa keuntungan merupakan bagian dari aktivitas perdagangan. Namun, ia berharap pelaku usaha tetap mempertimbangkan kondisi masyarakat yang sedang menghadapi situasi darurat.
“Memang, jualan tujuannya profit. Tapi tidak usah securang ini pada saat bencana kali ya,” tegasnya.
Nana bahkan berharap pemerintah ikut turun tangan untuk mengawasi kondisi harga masker di pasaran. Menurut dia, lonjakan harga spontan berpotensi semakin menyulitkan masyarakat yang membutuhkan masker sebagai perlindungan tambahan dari abu vulkanik.
Tahu Harga Distributor Masker N95
Nana juga mengungkapkan alasan dirinya mengetahui kisaran harga masker N95. Menurutnya, produk masker N95 termasuk dalam daftar produk perusahaan yang berkaitan dengan pekerjaan sang suami.
“Kebetulan suami saya juga salah satu product list di perusahaannya adalah masker N95 jadi harga distributornya saya tahu persis berapa,” ungkapnya.
Ia pun kembali menyayangkan kenaikan harga yang dinilainya tidak wajar.
“Mark-up spontan kayak gini nggak berperikemanusiaan,” tandas Nana.
Unggahan tersebut kemudian memancing respons pengguna media sosial. Sejumlah netizen turut mengungkapkan keresahan terkait harga dan ketersediaan masker di tengah meningkatnya kebutuhan perlindungan akibat sebaran abu vulkanik.
Bagi Nana, persoalan tersebut bukan sekadar soal harga sebuah masker, melainkan bagaimana masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap kebutuhan penting ketika sedang menghadapi situasi darurat.













