NEWS

Pemuda Jadi Kunci Swasembada Energi, Ini 4 Peran Strategisnya

×

Pemuda Jadi Kunci Swasembada Energi, Ini 4 Peran Strategisnya

Share this article

Wartabuana.com | Generasi muda dinilai bukan sekadar penerus bangsa, tetapi dapat menjadi salah satu penentu masa depan kedaulatan energi Indonesia. Potensi tersebut perlu diarahkan melalui inovasi, penguasaan teknologi, kewirausahaan hingga partisipasi dalam pengawasan tata kelola energi.

Pandangan itu disampaikan Akademisi Universitas Muhammadiyah Indonesia, Dr. Rasminto, saat memberikan materi kepada peserta Pertamina Youth Program 2026 di Bogor, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Rasminto, Indonesia memiliki sumber energi yang beragam, baik fosil maupun energi baru terbarukan (EBT). Tantangan berikutnya adalah mengubah potensi tersebut menjadi produksi, pembangkit, jaringan, hilirisasi, serta nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Empat Peran Pemuda di Sektor Energi

Rasminto menyebut sedikitnya ada empat peran strategis yang dapat dijalankan generasi muda, yakni inovator, penggerak, talenta, dan pengawas kebijakan.

Sebagai inovator, pemuda dapat mengembangkan startup energi, digitalisasi, teknologi penyimpanan energi, bioenergi, EBT, hingga teknologi efisiensi energi. Sementara sebagai penggerak, mereka dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai hemat energi, elektrifikasi, dan penggunaan produk energi nasional.

Pemuda harus kita dorong menjadi pencipta solusi energi,” ujar Rasminto.

Di sisi lain, kebutuhan terhadap talenta energi masa depan juga semakin besar. Pendidikan vokasi, riset, sertifikasi, green jobs, dan kewirausahaan dinilai perlu diperkuat agar kompetensi generasi muda sesuai dengan kebutuhan transformasi energi.

Literasi Data Jadi Modal Pengawasan

Peran pemuda tidak berhenti pada inovasi. Rasminto juga mendorong generasi muda ikut memperkuat pengawasan publik terhadap tata kelola energi.

Kemampuan membaca data, memahami kebijakan, melakukan social audit, serta menyampaikan kritik konstruktif dinilai penting untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas.

Menurutnya, ketergantungan terhadap impor energi juga perlu menjadi perhatian karena dapat memberikan tekanan terhadap devisa, nilai tambah ekonomi, dan ketahanan fiskal.

Karena itu, agenda swasembada energi harus berjalan beriringan dengan pembangunan sumber daya manusia.

Kita tidak cukup hanya membangun infrastruktur energi. Kita juga harus membangun manusia yang mampu menciptakan, mengelola, mengembangkan dan mengawasi sektor energi,” katanya.

Rasminto berharap pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya membuka ruang lebih luas bagi pemuda untuk terlibat dalam riset, inovasi, kewirausahaan, pendidikan vokasi, dan pengawasan kebijakan energi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *