Mbah WP
Mbah WP
FILM

Ghost in the Cell Tembus 148 Negara, Rano Karno Sebut Perfilman Indonesia Sedang Jadi Sorotan Dunia

×

Ghost in the Cell Tembus 148 Negara, Rano Karno Sebut Perfilman Indonesia Sedang Jadi Sorotan Dunia

Share this article

Wartabuana.com | Kesuksesan film Ghost in the Cell tidak hanya mencuri perhatian publik dalam negeri, tetapi juga menjadi bukti bahwa industri perfilman Indonesia semakin diperhitungkan di panggung internasional. Film karya sineas Tanah Air tersebut berhasil menembus angka 3,2 juta penonton hanya dalam 32 hari penayangan dan telah menjual hak distribusinya ke 148 negara.

Capaian itu mendapat apresiasi langsung dari Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, saat menghadiri konferensi pers dan acara nonton bareng film Ghost in the Cell di Metropole XXI, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (7/6).

Menurut Rano, keberhasilan film tersebut menjadi indikator kuat bahwa kualitas karya kreatif Indonesia kini mampu bersaing dengan produksi internasional sekaligus menjadi media promosi budaya bangsa di mata dunia.

Keberhasilan film ini menunjukkan bahwa karya kreatif Indonesia memiliki daya saing yang kuat. Apalagi hak distribusinya telah terjual ke 148 negara. Ini membuktikan bahwa karya anak bangsa mampu menembus pasar dunia dan menjadi sarana promosi budaya Indonesia di tingkat internasional,” ujarnya.

Industri film Indonesia tumbuh saat banyak negara alami penurunan penonton bioskop

Rano menilai perkembangan industri film nasional saat ini menunjukkan tren yang unik. Ketika sejumlah negara menghadapi penurunan jumlah penonton bioskop akibat perubahan pola konsumsi hiburan ke platform digital, Indonesia justru mencatat pertumbuhan yang signifikan.

Data yang disampaikannya menunjukkan jumlah penonton film di Indonesia sepanjang 2024 mencapai 122 juta orang. Angka tersebut memperlihatkan tingginya minat masyarakat terhadap film layar lebar, sekaligus membuka peluang investasi yang semakin besar bagi industri kreatif nasional.

Jumlah penonton film di Indonesia pada 2024 mencapai 122 juta orang. Jakarta masih memiliki sekitar 3.500 layar bioskop aktif. Ini menjadi anomali yang menarik perhatian investor, produser, dan sineas dunia untuk datang dan berkarya di Indonesia, khususnya Jakarta,” jelasnya.

Fenomena tersebut semakin mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pasar film paling potensial di kawasan Asia Tenggara.

Jakarta siapkan Jakarta Film Commission untuk dukung sineas

Sebagai pusat ekonomi kreatif nasional, Jakarta dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan industri perfilman. Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat ekosistem kreatif melalui berbagai program dan kebijakan pendukung.

Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan adalah pembentukan Jakarta Film Commission. Lembaga ini nantinya diharapkan menjadi fasilitator bagi para sineas untuk mendapatkan kemudahan dalam proses produksi, perizinan, hingga promosi karya.

Jakarta sedang mendesain Jakarta Film Commission. Ke depan, kami ingin menghadirkan berbagai fasilitas dan kemudahan bagi sineas Indonesia agar semakin banyak karya berkualitas lahir dari Jakarta,” ungkap Rano.

Kehadiran Jakarta Film Commission diyakini dapat memperkuat posisi Jakarta sebagai kota sinema sekaligus destinasi produksi film yang kompetitif di tingkat regional maupun global.

Ghost in the Cell dinilai hadirkan refleksi sosial bagi masyarakat

Lebih dari sekadar hiburan, Rano menilai Ghost in the Cell menghadirkan ruang refleksi yang mengangkat berbagai persoalan sosial dengan pendekatan kreatif dan konstruktif.

Menurutnya, film memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan-pesan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus membangun kesadaran publik terhadap berbagai isu yang berkembang.

Karena itu, ia berharap keberhasilan film tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi sineas muda untuk terus menghasilkan karya yang berkualitas dan relevan dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia.

Momentum Bulan Bung Karno, seni dan film disebut penting bagi pembangunan karakter bangsa

Dalam momentum Bulan Bung Karno, Rano juga mengingatkan pentingnya seni dan budaya sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa. Ia menilai pandangan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, terhadap seni dan film masih sangat relevan hingga saat ini.

Menurutnya, Bung Karno melihat seni bukan sekadar sarana hiburan, melainkan media untuk menggambarkan realitas sosial sekaligus membangkitkan kesadaran masyarakat.

Bung Karno memandang seni dan film bukan sekadar hiburan. Seni harus mampu mencerminkan realitas masyarakat dan membangkitkan kesadaran sosial. Karena itu, ada hubungan yang sangat kuat antara film dan kebudayaan,” katanya.

Perfilman nasional kian bergairah, produksi film mendekati 120 judul per tahun

Optimisme terhadap masa depan perfilman Indonesia juga terlihat dari meningkatnya jumlah produksi film nasional. Saat ini, produksi film Indonesia disebut telah mendekati 120 judul setiap tahun, sementara sejumlah film yang tayang dalam beberapa bulan terakhir berhasil meraih jumlah penonton yang tinggi.

Bagi Rano, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem perfilman Indonesia sedang berada dalam fase pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan.

Ini menunjukkan bahwa ekosistem perfilman kita terus tumbuh. Saya berharap keberhasilan Ghost in the Cell menjadi inspirasi bagi para sineas untuk terus menghasilkan karya terbaik, sehingga Jakarta dapat semakin berkembang sebagai kota kreatif dan menjadi rumah bagi kemajuan industri perfilman Indonesia,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *