Mbah WP
Mbah WP
FILM

Bukan Hantu atau Setan, ‘Monster Pabrik Rambut’ Hadirkan Teror Dunia Kerja: Film Horor Retro Edwin Siap Mengusik Penonton

×

Bukan Hantu atau Setan, ‘Monster Pabrik Rambut’ Hadirkan Teror Dunia Kerja: Film Horor Retro Edwin Siap Mengusik Penonton

Share this article

Wartabuana.com | Mimpi buruk ternyata tidak selalu datang dari rumah kosong, sosok gaib, atau penampakan menyeramkan. Kadang, sumber teror justru lahir dari tempat yang sangat akrab: ruang kerja, tumpukan target, dan kelelahan yang dianggap biasa.

Lewat film terbaru Monster Pabrik Rambut, sutradara Edwin menghadirkan bentuk horor yang berbeda dari pakem horor Indonesia pada umumnya. Film produksi Palari Films yang tayang mulai 4 Juni 2026 ini membawa penonton memasuki dunia pabrik rambut yang penuh keanehan, ketegangan, sekaligus kritik sosial yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dibintangi Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, hingga Kev, film ini menjanjikan pengalaman horor fantasi retro dengan atmosfer yang tidak biasa.

Horor dari Lembur dan Budaya Kerja Berlebihan

Di tengah dominasi film horor Indonesia yang identik dengan makhluk supranatural, Edwin justru memilih jalur berbeda.

Alih-alih menghadirkan hantu atau setan sebagai sumber ketakutan utama, Monster Pabrik Rambut menempatkan rutinitas kerja sebagai akar dari teror.

Atmosfer menyeramkan dibangun melalui kondisi para pekerja yang kurang tidur, lingkungan pabrik yang terasa mencekam, hingga kehadiran Bos Maryati yang diperankan Didik Nini Thowok—sosok yang terlihat ramah dengan senyum manis, tetapi menyimpan sisi manipulatif dan eksploitatif.

Sutradara Edwin menjelaskan bahwa ketegangan dalam film ini lahir dari pengalaman yang sesungguhnya dekat dengan kehidupan banyak orang.

“Ketegangan dan teror horor di Monster Pabrik Rambut tercipta dari situasi kita bekerja sehari-hari yang kita hadapi, tanpa harus bersinggungan dengan setan. Ada bentuk lain yang menjadi sumber teror,” ujar Edwin.

Pesan tersebut terasa relevan di tengah realitas dunia kerja modern, ketika budaya lembur kerap dianggap simbol dedikasi dan produktivitas.

Film ini seperti meneriakkan keresahan yang selama ini diam-diam dirasakan banyak pekerja: apakah bekerja tanpa henti memang sesuatu yang patut dibanggakan?

Eksperimen Visual Edwin: Tanpa CGI, Andalkan Efek Praktis

Salah satu daya tarik utama Monster Pabrik Rambut terletak pada pendekatan visualnya.

Edwin memilih menggunakan practical effect alih-alih efek visual berbasis CGI. Keputusan ini sengaja diambil untuk memperkuat nuansa horor fantasi retro ala film-film Indonesia era 1980-an.

Untuk mewujudkannya, Edwin menggandeng Menfo Tantono, peraih Piala Citra FFI 2024 kategori Penata Artistik Terbaik.

Studio PFN bahkan disulap menjadi pabrik rambut raksasa dengan menghadirkan sekitar dua truk rambut asli, lengkap dengan manekin, prostetik, sisir paku, hingga berbagai elemen yang biasa ditemukan di industri pembuatan wig.

Pendekatan tersebut menghasilkan dunia visual yang terasa liar, eksentrik, sekaligus unik—ciri khas yang selama ini melekat pada karya-karya Edwin.

Karakter Bona dan Monster yang Tidak Biasa

Salah satu karakter yang menarik perhatian adalah Bona yang diperankan Iqbaal Ramadhan.

Bona digambarkan sebagai sosok unik dengan kemampuan regenerasi tubuh yang tak biasa. Karakter ini juga memiliki makna simbolis yang lebih dalam.

Iqbaal mengungkapkan bahwa karakter yang ia perankan merupakan representasi perlawanan terhadap tekanan produktivitas berlebihan.

“Bona adalah karakter yang unik, ajaib, fantastis, dan aneh. Bentuknya berbeda tapi tetap punya keterkaitan penting dengan cerita film ini,” kata Iqbaal.

Ia menambahkan: “Bona juga menjadi simbol resistansi terhadap standar produktivitas gila-gilaan yang dipaksakan oleh sebuah sistem kepada diri kita yang banyak terjadi saat ini.”

Rachel Amanda: Dunia Kerja Kadang Lebih Menakutkan dari Film Horor

Rachel Amanda yang memerankan Putri menilai tema yang dibawa film ini terasa sangat dekat dengan realitas para pekerja.

Menurutnya, banyak orang sering kali harus mengorbankan waktu pribadi demi pekerjaan, sesuatu yang lambat laun dianggap normal.

“Paling relate dari film ini adalah kita para pekerja sering sekali lembur, bahkan sampai harus mengorbankan waktu dengan keluarga atau waktu luang,” ujarnya.

“Cerita dan karakter dalam film ini memperlihatkan betapa horornya dunia kerja yang terkadang bahkan dinormalisasi. Sakit dianggap kerja keras, tapi apakah sistem kerjanya benar?”

Tayang Perdana di Festival Internasional Sebelum Masuk Bioskop Indonesia

Sebelum menyapa penonton Indonesia, Monster Pabrik Rambut telah lebih dulu melakukan penayangan perdana dunia di Berlin International Film Festival 2026.

Film ko-produksi lima negara—Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis—ini juga telah tampil di berbagai festival internasional seperti Brussels Fantastic Film Festival dan Hong Kong International Film Festival (HKIFF) 2026.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa film ini bukan sekadar menawarkan horor biasa, tetapi juga membawa eksplorasi sinematik yang memiliki daya tarik global.

Mulai 4 Juni 2026, penonton Indonesia akhirnya dapat menyaksikan sendiri: ketika monster paling menakutkan ternyata bukan berasal dari dunia gaib, melainkan dari sistem yang diam-diam menguras hidup manusia

[Ib / Foto: Dok. Publicist]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *