Wartabuana.com | Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di Shelter Pemulung Humaniora Rumah Kemanusiaan, kawasan pemakaman Tarikolot, Jatisampurna, Kota Bekasi, Rabu (27/05/2026). Di tengah perayaan Idul Kurban, puluhan keluarga pemulung tampak menikmati hidangan daging kurban bersama, sebuah momen sederhana yang menyimpan pesan kemanusiaan mendalam.
Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Eddie Karsito, menegaskan bahwa ibadah kurban sejatinya bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga sarana membangun empati sosial dan memperkuat solidaritas terhadap kelompok masyarakat yang termarjinalkan.
Kurban Bukan Sekadar Ritual, Tapi Latihan Peduli Sesama

Menurut Eddie Karsito, esensi ibadah kurban terletak pada nilai memberi, ketaatan, dan kedekatan dengan realitas sosial masyarakat.
“Orang yang melaksanakan ibadah kurban berarti berlatih menjadi orang yang suka memberi. Melatih ketaatan kepada Allah SWT, serta senantiasa berusaha dekat dengan realitas sosial,” ujarnya kepada media.
Ia menilai, makna kurban seharusnya tidak berhenti pada prosesi penyembelihan hewan semata. Lebih dari itu, kurban menjadi instrumen filantropi sosial yang mampu memperkuat rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.
Menurutnya, semangat berkurban juga dapat menumbuhkan kepekaan hati dan kemampuan memahami penderitaan orang lain, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan.
“Kesadaran keberagamaan tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi menghayati maknanya. Berkurban secara makna dalam rangka menumbuhkan ketajaman hati, pikiran, dan perasaan,” ungkap Eddie Karsito.
Pemulung Kerap Terlupakan Saat Pembagian Daging Kurban
Dalam kesempatan tersebut, Eddie Karsito juga menyoroti kenyataan yang kerap dialami para pemulung setiap Hari Raya Idul Kurban. Banyak dari mereka, kata dia, justru tidak ikut merasakan pembagian daging kurban meski hidup dalam kondisi serba kekurangan.
Sebagian besar pemulung hanya menyaksikan pembagian daging dari kejauhan karena terkendala status administrasi kependudukan. Banyak di antara mereka bukan warga setempat dan tidak memiliki KTP sesuai domisili lingkungan tempat distribusi kurban dilakukan.
Padahal, menurut Eddie, pemulung termasuk kelompok fakir dan miskin yang seharusnya menjadi prioritas utama penerima manfaat kurban.
“Pemulung termasuk kategori fakir dan miskin. Kelompok ini menempati urutan paling utama, karena tujuan utama kurban adalah membantu dan berbagi kebahagiaan dengan mereka yang berkekurangan,” katanya.
Daging Kurban Dimasak dan Dimakan Bersama

Berbeda dari pembagian daging kurban pada umumnya, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan memilih memasak langsung daging kurban dan menyantapnya bersama keluarga pemulung.
Langkah ini dinilai lebih menghadirkan kedekatan emosional sekaligus mempererat silaturahmi kemanusiaan antara relawan dan penerima manfaat.
Eddie Karsito menegaskan bahwa pembagian daging kurban dalam bentuk matang dan disantap bersama merupakan hal yang sah dan diperbolehkan dalam syariat.
Momentum makan bersama tersebut juga menjadi ruang berbagi cerita, perhatian, dan rasa kebersamaan yang selama ini jarang dirasakan kelompok marginal.
Bina Ratusan Kaum Rentan dan Anak Terlantar
Saat ini, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan membina sedikitnya 273 warga rentan sosial yang terdiri dari pemulung, pengamen, pedagang asongan, janda lanjut usia, hingga tunas wisma.
Tak hanya itu, lembaga sosial tersebut juga mendampingi 99 anak terlantar, termasuk anak jalanan, pengamen anak, dan pemulung anak. Sebagian dari mereka bahkan berstatus yatim piatu.
Mereka tersebar di beberapa wilayah, mulai dari Jatisampurna Kota Bekasi, Pondok Rangon Jakarta Timur, Harjamukti Cimanggis Kota Depok, hingga Gunung Putri dan Cileungsi Kabupaten Bogor.
Sebagian di antaranya tinggal di shelter binaan yayasan yang berada di area pemakaman Tarikolot Jatisampurna dan Jalan Nilam II No.126 Jatiraden, Kota Bekasi.
Bantu Urus KTP dan Akta Lahir Anak Pemulung
Selain bantuan pangan dan pembinaan sosial, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan juga aktif membantu pengurusan administrasi kependudukan masyarakat rentan.
Saat ini terdapat 38 pemulung, pengamen, dan anggota keluarganya yang tengah dibantu proses pembuatan KTP, Kartu Keluarga, hingga akta kelahiran anak-anak mereka.
Dokumen tersebut dinilai sangat penting, terutama sebagai syarat utama anak-anak mereka agar bisa mengakses pendidikan formal.
“Akta lahir ini urgen untuk persyaratan mereka masuk sekolah tahun ini,” pungkas Eddie Karsito.
Harapan Kurban yang Lebih Inklusif
Eddie Karsito berharap semangat berbagi pada Hari Raya Idul Kurban ke depan dapat semakin inklusif dan menjangkau kelompok-kelompok marginal yang selama ini luput dari perhatian.
Menurutnya, Idul Kurban seharusnya menjadi momentum menghadirkan keadilan sosial dan kebahagiaan yang benar-benar dirasakan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.













