Wartabuana.com — Sutradara visioner Joko Anwar kembali membuat gebrakan. Dalam film terbarunya, Ghost in the Cell, ia tak hanya menyajikan horor komedi dengan narasi kuat, tetapi juga menghadirkan kolaborasi lintas seni yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Enam ilustrator Indonesia berskala internasional diajak menciptakan konsep seni “instalasi kengerian” yang menjadi elemen penting dalam dunia visual film ini.
“Sejak awal saya ingin Ghost in the Cell tidak hanya menjadi film, tapi juga ruang kolaborasi lintas seni bagi seniman-seniman lokal,” ujar Joko Anwar.
Baginya, Indonesia memiliki banyak ilustrator dengan gaya visual kuat dan unik. Melibatkan mereka bukan sekadar memperkaya tampilan film, tetapi juga memperkuat ekosistem kreatif nasional.
Instalasi kengerian: representasi ketakutan kolektif
Konsep visual dalam Ghost in the Cell dirancang sebagai bentuk representasi dari ketakutan kolektif masyarakat. Setiap adegan instalasi horor dirumuskan lewat diskusi mendalam antara sutradara dan para ilustrator.
Hasilnya bukan hanya visual menyeramkan, tetapi karya seni yang indah sekaligus mengganggu secara emosional.
Film ini diproduksi oleh Come and See Pictures bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures, dengan Barunson E&A sebagai sales agent untuk perilisan global.
6 Ilustrator Indonesia Berskala Dunia di Balik “Ghost in the Cell”

1. Anwita Citriya: Horor psikologis yang mengguncang emosi
Ilustrator asal Bandung ini dikenal lewat pendekatan horor psikologis yang kuat. Debut internasionalnya dimulai lewat proyek Creepshow (2022), lalu berkolaborasi dengan BOOM! Studios pada 2025.
Anwita juga terlibat dalam proyek komik Universal Monsters, termasuk sebagai cover artist untuk Phantom of the Opera dan Frankenstein. Sentuhan emosional dan trauma tersembunyi menjadi ciri khasnya.
2. Benediktus Budi: Visual gelap dari Wonogiri ke panggung dunia
Ilustrator digital ini dikenal lewat karya merchandise bernuansa gelap. Ia pernah menggarap poster tur Jepang 2024 untuk band Toxicholocaust serta proyek visual untuk program Scare Tactics di USA Network.
Gaya dark visual-nya memperkuat atmosfer instalasi horor dalam film ini.
3. Benny Bennos Kusnoto: Dari Justice League Dark ke dunia horor Indonesia
Berkarier lebih dari 17 tahun, Benny pernah menjadi ghost layout artist untuk komik Justice League Dark serta bekerja sama dengan Namco Bandai dan Stone Blade Entertainment.
Ia juga dikenal sebagai creature designer, keahlian yang sangat relevan untuk menciptakan wujud-wujud mengerikan dalam film ini.
4. Coki Greenway: Ilustrator langganan musisi rock dunia
Berbasis di Purwokerto, Coki telah bekerja sama dengan band internasional seperti AC/DC, Mötley Crüe, Judas Priest, hingga DragonForce. Ia juga membuat merchandise resmi untuk MARVEL (Deadpool dan Venom).
Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di dunia dark art, sentuhan visualnya membawa nuansa klasik horor dan era slasher ke layar lebar.
5. Hafidzjudin: Detail gore dengan sentuhan hand drawing khas
Hafidzjudin dikenal lewat visual gelap dan detail intens bernuansa gore. Ia pernah bekerja sama dengan band metal Indonesia seperti Seringai dan Dead Squad.
Teknik hand drawing yang dipertahankannya memberi tekstur autentik pada elemen instalasi horor film ini.
6. Rudy AO: Hyper-realistic macabre artist untuk poster resmi
Ilustrator asal Bandung ini juga dipercaya mengerjakan poster ilustrasi resmi film. Rudy dikenal sebagai artis sampul komik DC serta IP besar seperti Red Sonja dan Vampirella.
Spesialisasinya pada teknik pensil dan pewarnaan akrilik menghasilkan karya sinematik yang terasa seperti potongan adegan film nyata.
Horor komedi dengan ambisi global
Dengan dukungan Barunson E&A sebagai sales agent dunia, Ghost in the Cell tak hanya menyasar pasar domestik tetapi juga internasional.
Kolaborasi lintas medium ini menjadi pernyataan bahwa film Indonesia mampu berdialog dengan seni visual global.
Ghost in the Cell tayang di bioskop mulai 16 April 2026.













