Wartabuana.com — Di balik hiruk pikuk kehidupan kota, masih banyak anak yang tumbuh tanpa rumah layak. Sebagian dari mereka bahkan harus menjalani hari-hari di kolong jembatan, bedeng sederhana, atau gubuk darurat di pinggir kota.
Kondisi inilah yang mendorong Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan untuk terus memperjuangkan hadirnya rumah singgah (shelter) bagi anak-anak jalanan, pemulung anak, pengamen anak, dan anak terlantar di kawasan perkotaan.
Harapan tersebut kembali disuarakan dalam peringatan HUT ke-31 Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan yang digelar di Perumahan Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi, Jumat (6/3/2026).
Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Eddie Karsito, menegaskan bahwa rumah singgah bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol perlindungan dan kesempatan hidup yang lebih baik.
“Bantu kami agar anak-anak jalanan, pengamen anak, pemulung anak, dan anak terlantar tidak lagi tinggal di jalanan atau di kolong jembatan,” ujar Eddie.
Menggalang donasi untuk pembangunan rumah singgah

Peringatan ulang tahun ke-31 yayasan ini sekaligus menjadi momentum pembukaan donasi untuk mewujudkan Humaniora Rumah Singgah (Shelter).
Menurut Eddie, rumah singgah tersebut dirancang sebagai fasilitas dasar tempat tinggal sementara yang sehat sekaligus ruang pembinaan bagi anak-anak dari keluarga miskin perkotaan.
Saat ini yayasan membina lebih dari 90 anak terlantar, sebagian besar berasal dari keluarga pemulung. Banyak dari mereka terpaksa putus sekolah, bahkan ada yang belum pernah merasakan bangku pendidikan.
“Ada anak-anak yang harus ikut memulung atau mengamen untuk membantu orang tua. Padahal mereka sebenarnya ingin sekolah,” jelas Eddie.
Tidak hanya anak-anak, yayasan juga melakukan pembinaan terhadap sekitar 257 orang dewasa kategori terlantar, termasuk pemulung dan pengamen jalanan.
Sebagian dari mereka hidup secara nomaden, berpindah-pindah tempat tinggal. Ada yang menetap di bedeng-bedeng sederhana, kolong jembatan Kali Sunter yang berbatasan antara Kota Bekasi dan Depok, hingga gubuk di sekitar area pemakaman Tarikolot, Jatisampurna.
Membuka jalan pendidikan dan masa depan anak

Bagi Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, anak-anak bukan sekadar objek bantuan sosial. Mereka dipandang sebagai individu yang memiliki potensi dan masa depan.
Eddie menegaskan, setiap anak memiliki kemampuan alami yang perlu dibimbing dan dikembangkan.
Dengan adanya rumah singgah, anak-anak akan memiliki ruang belajar, tempat tinggal yang sehat, serta lingkungan pembinaan yang lebih aman.
“Anak-anak ini memiliki ketekunan luar biasa. Banyak dari mereka sebenarnya ingin sekolah, tetapi membutuhkan dukungan dari banyak pihak,” katanya.
Santunan anak jalanan dan buka puasa bersama

Rangkaian peringatan HUT ke-31 yayasan juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial, termasuk santunan kepada anak-anak jalanan dan keluarga pemulung.
Sekitar 90 anak menerima santunan, sebagian di antaranya merupakan yatim piatu.
Acara tersebut juga dirangkai dengan doa bersama dan buka puasa bersama dalam suasana Ramadan.
Sebelumnya, pengurus yayasan juga memberikan bantuan kepada janda lanjut usia yang bekerja sebagai pemulung dalam kegiatan yang digelar di Sanggar Humaniora, Kranggan Permai, Jatisampurna.
Menguatkan solidaritas dan empati sosial

Tema HUT ke-31 tahun ini adalah “Karya Bakti Sisi Manusiawi Kita untuk Pemulung Anak dan Anak Terlantar.”
Tema tersebut menegaskan pentingnya tanggung jawab sosial serta empati terhadap kelompok masyarakat yang kurang beruntung.
Ketua Umum Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), Mayjen TNI (Purn) Drs. Hendardji Soepandji, dalam sambutan tertulisnya menekankan pentingnya solidaritas berbasis nilai kemanusiaan.
“Semoga kegiatan mulia ini membawa keberkahan dan menjadi inspirasi bagi organisasi kemanusiaan lainnya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Agus Santosa, penanggung jawab Program Jumat Berkah Wartawan, yang menilai Yayasan Humaniora telah menjadi pionir gerakan sosial selama lebih dari seperempat abad.
“Selama 31 tahun, yayasan ini konsisten bergerak dalam aksi nyata, edukasi, dan filantropi inklusif,” ujarnya.
Sementara itu, Gamal Putra, Dewan Penasehat Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, menilai keberadaan lembaga seperti Yayasan Humaniora sangat penting dalam melindungi anak-anak dari eksploitasi dan kekerasan.
“Lembaga ini berperan krusial menyelamatkan anak-anak dari jalanan serta memberikan perlindungan dan pendidikan bagi masa depan mereka,” katanya.
Lahir dari semangat kemanusiaan sejak 1995

Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan didirikan di Bekasi pada 17 Februari 1995, bertepatan dengan 17 Ramadan 1415 Hijriah, oleh Eddie Karsito bersama para seniman, budayawan, wartawan, pendidik, dan aktivis sosial.
Momentum berdirinya yayasan bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran, yang menjadi inspirasi nilai moral dan kemanusiaan dalam setiap gerakannya.
Menurut Eddie, Ramadan menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial merupakan bagian dari nilai spiritual yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Ramadan adalah bulan sedekah. Wujud iman adalah memanusiakan manusia,” ujarnya.
Gerakan kemanusiaan lintas bidang
Dalam perjalanannya, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan juga membentuk sejumlah unit kegiatan untuk memperluas gerakan sosial, antara lain:
Humaniora Rumah Aktor
Humaniora Rumah Budaya
Humaniora Rumah Film
Humaniora Rumah Musik
Humaniora Rumah Niaga
Humaniora Rumah Singgah
Humaniora Malaysia Filantropi
Selain itu, yayasan juga mendirikan Humaniora Rumah Media, yang mengelola portal berita humaniora.id dan harianbekasi.com.













