Wartabuana.com — Di tengah semarak Ramadan yang identik dengan berbagai aksi sosial, ada satu kisah konsistensi yang berjalan nyaris tiga dekade tanpa banyak sorotan. Mayjen TNI (Purn) Drs. Hendardji Soepandji, S.H. memilih “jalan sunyi” dalam berbagi—menyalurkan bantuan kemanusiaan secara diam-diam selama 28 tahun kepada masyarakat prasejahtera dan pelaku seni budaya.
Ramadan dan Momentum Solidaritas Sosial

Bulan suci Ramadan tak hanya menjadi ruang ibadah personal, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas sosial. Beragam aksi seperti pembagian sembako, santunan anak yatim, hingga bantuan bagi kaum duafa menjadi cerminan nyata nilai kemanusiaan.
Hal ini yang secara konsisten dilakukan Hendardji bersama keluarganya. Selama hampir tiga dekade, bantuan diberikan kepada masyarakat fakir miskin di lima wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
“Sudah berjalan selama 28 tahun. Bantuan kemanusiaan ini kami berikan kepada fakir miskin dan duafa,” ujar Hendardji.
Filosofi “Jalan Sunyi” dan Sedekah Khafiyyah
Menariknya, perjalanan panjang tersebut dijalankan dengan prinsip khafiyyah—bersedekah secara sembunyi-sembunyi.
Bagi Hendardji, memberi bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan wujud cinta yang tulus. Dengan memilih “jalan sunyi”, ia menjaga kemurnian niat agar tetap menjadi hubungan personal antara manusia dan Sang Pencipta.
“Praktik keagamaan tidak cukup hanya ritual, tapi harus diwujudkan dalam kesalehan sosial,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa esensi agama adalah memanusiakan manusia—sebuah nilai yang diterjemahkan dalam tindakan nyata membantu sesama.
Santuni Seniman Wayang Orang Bharata

Pada Ramadan 2026, Hendardji kembali melanjutkan tradisi berbagi dengan menyalurkan 150 paket sembako kepada para seniman tradisi Wayang Orang (WO) Bharata di kawasan Sunter Agung, Jakarta Utara.
Aksi ini menjadi simbol kepedulian terhadap pelaku seni tradisi yang kerap luput dari perhatian, terutama dalam aspek kesejahteraan ekonomi.
Tak hanya itu, sebelumnya ia juga memberikan santunan kepada 100 anak jalanan, pemulung anak, dan yatim-piatu binaan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan di Bekasi.
Kepedulian pada Seniman dan Budaya Nusantara
Melalui organisasi yang didirikannya, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), Hendardji aktif mendukung para seniman dan penggiat budaya.
Menurutnya, seniman memiliki peran penting dalam menjaga identitas bangsa, namun sering berada dalam kondisi ekonomi yang rentan.
“Potensi mereka besar, tetapi masih menghadapi kendala dalam perlindungan sosial dan stabilitas pendapatan,” jelasnya.
Ia pun mendorong pemerintah untuk menghadirkan kebijakan lintas sektor guna memperkuat kesejahteraan pelaku seni budaya.
Agama dan Budaya: Dua Pilar yang Saling Menguatkan
Hendardji memandang agama dan budaya sebagai dua entitas yang saling melengkapi. Agama menghadirkan nilai universal, sementara budaya menjadi medium ekspresi sosial yang membumi.
Dalam perspektifnya, aksi kemanusiaan bukan sekadar distribusi bantuan, tetapi juga sarana menanamkan nilai moral, etika, dan spiritualitas yang inklusif.
“Nilai keagamaan harus diterjemahkan menjadi aksi sosial yang menekankan kasih sayang dan solidaritas,” ujarnya.
Dakwah Kemanusiaan dan Martabat Manusia
Lebih jauh, pembagian sembako juga dimaknai sebagai bentuk dakwah kemanusiaan berbasis budaya. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menanamkan nilai penghormatan terhadap martabat manusia secara lebih relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Hendardji, budaya Indonesia yang kaya akan nilai kemanusiaan dan kasih sayang harus terus dilestarikan, bahkan hingga ke tingkat global.
“Spirit ini penting untuk menjaga kemanusiaan dan mencegah konflik,” tegasnya. (Ib / artwork: Dok. Pribadi Hendardji Soepandji)













