RAGAM

Sinematek Indonesia 51 Tahun: Menjaga Arsip Film di Tengah Ancaman Kepunahan

0
×

Sinematek Indonesia 51 Tahun: Menjaga Arsip Film di Tengah Ancaman Kepunahan

Sebarkan artikel ini

Wartabuana.com | Sinema bukan sekadar hiburan di layar lebar, melainkan rekaman perjalanan bangsa yang menyimpan sejarah, identitas, dan denyut kehidupan masyarakat. Namun, tanpa pengarsipan dan perawatan yang memadai, warisan budaya tersebut berisiko rusak, bahkan hilang sebelum sempat dinikmati generasi mendatang.

Di tengah tantangan itu, Sinematek Indonesia memasuki 51 tahun kiprahnya dengan pekerjaan besar: menyelamatkan arsip perfilman nasional sekaligus memastikan keberlanjutan lembaga yang menjaga ingatan visual bangsa.

Sinematek Indonesia, Penjaga Ingatan Kolektif Bangsa

Ketua Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI), H. Sonny Pudjisasono, SH, MBA, menegaskan bahwa Sinematek bukan sekadar tempat menyimpan gulungan film lama. Lembaga ini merupakan penjaga ingatan kolektif yang merekam perjalanan sosial dan kebudayaan Indonesia.

Gagasan pelestarian tersebut berangkat dari kesadaran tokoh perfilman, seperti Misbach Yusa Biran dan Asrul Sani, mengenai pentingnya menjaga film sebagai bagian dari kebudayaan nasional.

Kekhawatiran mereka kini semakin relevan. Sejumlah karya perfilman Indonesia telah musnah atau kehilangan jejak akibat lemahnya tradisi pengarsipan dan perawatan.

“Kalau kita abai dan lalai melakukan pengarsipan, generasi mendatang bisa kesulitan menyaksikan film-film yang saat ini populer dan ditonton jutaan orang,” ujar Sonny.

Kualitas Film Klasik Menurun, Warisan Sinema Terancam

Salah satu contoh yang disoroti Sonny adalah Darah dan Doa karya Usmar Ismail. Film bersejarah yang menjadi tonggak penetapan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional itu kini mengalami penurunan kualitas gambar maupun suara saat diputar.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa usia sebuah film bukan satu-satunya tantangan. Tanpa konservasi yang tepat, kualitas karya dapat terus menurun seiring waktu.

Sementara itu, film perintis Loetoeng Kasaroeng produksi 1926 tidak lagi tersedia secara utuh dan hanya dapat ditelusuri melalui catatan serta kliping. Kehilangan ini menjadi pengingat bahwa karya yang tidak terawat berisiko meninggalkan celah dalam sejarah perfilman Indonesia.

Selama puluhan tahun, Sinematek telah menghimpun sekitar 2.700 judul film beserta foto dan dokumen pendukung. Koleksi tersebut dirawat melalui dedikasi para pegiat, tetapi keberlanjutannya membutuhkan dukungan yang lebih luas.

Masa Depan Sinematek dan Gedung Pusat Perfilman Jadi Sorotan

Ketua Badan Pembina PPHUI, Djonny Syafruddin, mengusulkan pembaruan Sinematek agar berkembang menjadi pusat pengetahuan dan pembelajaran sejarah sinema, bukan hanya tempat penyimpanan arsip.

Menurutnya, praktik pengarsipan dari negara lain dapat menjadi referensi untuk memperkuat pengelolaan koleksi sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap sejarah film nasional.

Djonny juga menyoroti pentingnya menjaga Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail di Kuningan. Bangunan bersejarah tersebut memiliki nilai penting bagi perjalanan perfilman Indonesia, sehingga keberlanjutan fungsi dan pemanfaatannya perlu mendapat perhatian.

Pelestarian Film Membutuhkan Dukungan Bersama

Tantangan Sinematek tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan koleksi, tetapi juga bagaimana membuat arsip tetap hidup dan bermanfaat bagi masyarakat, peneliti, serta pelajar.

Budaya pengarsipan idealnya dimulai sejak proses produksi film melalui penyimpanan salinan karya dan dokumentasi pendukung. Dengan begitu, pelestarian tidak baru dipikirkan setelah film selesai ditayangkan atau meraih kesuksesan.

Dukungan pemerintah, industri perfilman, lembaga pendidikan, dan masyarakat menjadi kunci agar Sinematek mampu menjalankan tugasnya secara berkelanjutan.

Memasuki usia 51 tahun, Sinematek Indonesia menghadapi pertanyaan penting tentang masa depan warisan sinema nasional. Sebab, menjaga film bukan hanya menyelamatkan karya masa lalu, melainkan juga memastikan generasi mendatang tetap dapat mengenali sejarah, kebudayaan, dan jati diri bangsanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *