Wartabuana.com | Film horor Indonesia kini tidak lagi sekadar mengandalkan penampakan makhluk gaib untuk menghadirkan rasa takut. Mitos, ritual, spiritualitas, budaya lokal hingga trauma psikologis semakin banyak diolah menjadi sumber cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam Festival Film Horor (FFHoror) IX melalui diskusi bertajuk “Sinkretisme dan Fenomena Film Horor Indonesia”.
Ketika Mitos Lokal Bertemu Dunia Modern

Diskusi yang menghadirkan produser sekaligus penulis skenario Budi Sumarno, sutradara Hasto Broto, serta jurnalis senior dan pengamat film Didang Prajasasmita sebagai moderator itu membedah bagaimana kekayaan budaya Indonesia membentuk cerita horor.
Budi menjelaskan, keragaman mitos, tradisi, agama dan kepercayaan lokal dapat bertemu dalam satu cerita. Pertemuan berbagai unsur tersebut dikenal sebagai sinkretisme.
Bagi sineas, mitologi tidak harus dipindahkan begitu saja ke layar. Cerita lama dapat dikembangkan menjadi konflik baru dengan mempertemukan keyakinan leluhur dan kehidupan modern.
Tempat keramat, ritual, sejarah lokal hingga cerita turun-temurun pun bisa menjadi sumber ide. Namun, ketakutan dalam film tidak selalu harus berbentuk hantu.
Dari Setan hingga Trauma Psikologis

Perkembangan genre membuat sumber ketakutan semakin beragam. Ada apocalyptic horror yang mengangkat ancaman kehancuran, demonic horror yang berkaitan dengan iblis dan kerasukan, hingga psychological horror yang mengeksplorasi trauma, paranoia dan rasa bersalah.
Dengan demikian, sesuatu yang menakutkan bisa berasal dari makhluk gaib, lingkungan, pengalaman masa lalu, bahkan pikiran manusia sendiri.
Ketua Dewan Juri FFHoror IX, Ncank Mail, turut menyoroti bagaimana film horor berada di antara kreativitas, perspektif penonton dan industri.
Saat Budaya Menjadi Komoditas Film
Penggunaan mitologi lokal juga menghadirkan tantangan. Ketika cerita rakyat dan ritual masuk ke industri hiburan, makna budaya berpotensi mengalami perubahan agar lebih sesuai dengan kebutuhan cerita dan pasar.
Sementara itu, Hasto Broto melihat adanya pembagian peran dalam produksi. Sutradara fokus pada cerita, penyutradaraan dan visual, sedangkan produser turut memikirkan strategi bisnis, pemasaran serta cara mempertemukan film dengan penonton.
Pada akhirnya, FFHoror IX memperlihatkan bahwa horor Indonesia dapat menjadi cermin masyarakat. Ketakutan terhadap kematian, perubahan zaman, spiritualitas, keluarga hingga trauma dapat menemukan bentuknya di layar lebar.













