Wartabuana.com — Setelah lama dikenal lewat karya-karya pop emosional dan eksplorasi musikal yang berani, Isyana Sarasvati kembali membuat gebrakan. Musisi multitalenta itu resmi merilis album studio kelimanya bertajuk EKLEKTIKO pada 21 Mei 2026 di seluruh platform digital.
Namun kali ini, Isyana tidak hanya menghadirkan kumpulan lagu. EKLEKTIKO dirancang sebagai sebuah conceptual album lengkap dengan narasi visual, koreografi, hingga puluhan karya kreatif pendukung yang membentuk sebuah “universe” khas Isyana.
Album ini menjadi refleksi perjalanan emosional, eksplorasi artistik, sekaligus pencarian identitas diri sang musisi dalam memaknai kehidupan.
“Aku selalu ingin menggambarkan hidup lewat karya-karya aku. Kehidupan itu enggak selalu baik, enggak selalu bahagia. Ada spektrum rasa lain yang harus kita alami untuk menjadi manusia yang utuh,” ujar Isyana dalam jumpa pers di CGV FX Sudirman, Jakarta.
EKLEKTIKO Dibagi Jadi Empat Babak Emosi dan Warna Musik

Nama EKLEKTIKO dipilih bukan tanpa makna. Isyana menyebut istilah tersebut merepresentasikan peleburan berbagai gaya, emosi, warna musik, hingga perspektif hidup menjadi satu identitas yang autentik.
“EKLEKTIKO itu penggabungan berbagai macam gaya, pemahaman, rasa, warna, yang akhirnya aku leburkan menjadi satu kesatuan yang unik, tapi tetap satu Isyana,” jelas pelantun lagu “Tetap Dalam Jiwa” itu.
Album ini terbagi menjadi empat bab utama, yakni LUNORA, MAMIU, CECILIA, dan ABADHI. Masing-masing menghadirkan nuansa musikal, visual, dan emosional yang berbeda.
LUNORA: Kolaborasi dan Semangat Keberagaman
Bab pertama, LUNORA, menghadirkan energi kolaboratif dengan sejumlah musisi ternama Indonesia. Dalam bagian ini, Isyana bekerja sama dengan Hindia lewat lagu Hari Ini, VIDI dalam Frenemy, Afgan lewat Something New, serta Kamga di lagu Be Alright.
Nuansa R&B easy listening di Be Alright menjadi salah satu warna paling ringan dalam album yang penuh eksplorasi tersebut.
MAMIU hingga ABADHI: Imajinatif, Dewasa, dan Reflektif
Sementara itu, MAMIU menghadirkan sisi imajinatif dengan pesan tentang kemurnian dan kebaikan. CECILIA menampilkan karakter dewasa, feminin, dan reflektif dari Isyana.
Adapun ABADHI menjadi fase klimaks sekaligus penyatuan seluruh energi emosional yang dibangun sejak awal album — tentang penerimaan, keseimbangan, dan kekuatan diri.
Lagu BURN Jadi Fokus Utama, Isyana Perkenalkan Genre “Trance Metal”

Di antara 18 lagu yang ada dalam album ini, BURN dipilih sebagai focus track sekaligus simbol energi paling eksplosif dari EKLEKTIKO.
Menariknya, lagu tersebut memadukan unsur elektronik, metal, dan dance music hingga melahirkan warna baru yang disebut Isyana sebagai Trance Metal atau Dance Metal.
“Aku pengen punya anthem buat olahraga. Aku pengen orang masukin lagu ini ke playlist workout mereka,” kata Isyana.
Inspirasi lagu BURN ternyata lahir dari kebiasaan pribadi Isyana yang aktif bergerak dan gemar berolahraga sejak kecil.
Tak hanya secara musikal, video musik BURN juga digarap dalam skala besar. MV tersebut melibatkan sekitar 60 penari dengan konsep visual sinematik dan koreografi intens yang disebut menjadi salah satu produksi video musik terbesar sepanjang karier Isyana.
Proses syuting bahkan berlangsung hingga dini hari dalam kondisi hujan demi mendapatkan visual maksimal.
Libatkan Musisi hingga Orkestra Swedia
Untuk membangun dunia EKLEKTIKO, Isyana menggandeng banyak kolaborator lintas disiplin. Mulai dari produser, komposer, penulis lagu, hingga visual director turut terlibat membentuk identitas album ini.
Beberapa nama yang ikut berkontribusi antara lain Petra Sihombing, Kamga, Lafa Pratomo, hingga grup orkestra dari Swedia.
Manajer Isyana, Sarah Kasenda, mengungkapkan bahwa proyek ini sebenarnya telah dipersiapkan jauh sebelum konser Lexiconcert berlangsung.
“Kami ingin album ini bukan hanya jadi kumpulan lagu, tetapi menjadi sebuah universe yang punya cerita dan rasa,” ujar Sarah.
Album Paling Personal dalam Karier Isyana
Lewat EKLEKTIKO, Isyana mengajak para pendengar, termasuk komunitas penggemarnya Isyanation, untuk memahami bahwa kehidupan tidak hanya dipenuhi kebahagiaan, tetapi juga dinamika emosi yang membentuk manusia menjadi lebih utuh.
Album ini sekaligus mempertegas posisi Isyana sebagai salah satu musisi Indonesia yang konsisten menghadirkan eksplorasi artistik di luar arus utama industri musik pop nasional.
“Album ini adalah bentuk terima kasihku atas setiap proses kehidupan. Kita hadir di dunia untuk belajar merasakan keberagaman dan menemukan makna di setiap perjalanan yang tidak semuanya mulus,” pungkasnya.













