Oleh: Nasaruddin Siradz*
Hubungan antara pemerintah Indonesia dan Taiwan begitu erat. Beberapa kerja sama dalam bidang ekonomi, pertanian, pendidikan dan kebudayaan adalah segelintir dari upaya kedua negara untuk menciptakan hubungan bilateral yang baik dan harmonis.
Selain beberapa bidang tersebut, Taiwan merupakan salah satu negara tujuan terbesar bagi tenaga kerja Indonesia (TKI), kini disebut Pekerja Migran Indonesia (PMI). Menurut keterangan BP2MI, Taiwan berada di posisi kedua sebagai negara tujuan terbesar bagi tenaga kerja Indonesia atau pekerja migran Indonesia (PMI). Posisi pertama ditempati Malaysia.
Hingga saat ini, jumlah PMI yang ada di Taiwan menyentuh angka 250 ribu-an orang. Menurut BP2MI, salah satu alasan para TKI menyukai Taiwan, karena negara tersebut dianggap ramah, dan relatif lebih aman bagi para PMI.
Permasalahan yang kadang dialami oleh para pahlawan devisa ini memang tidak mudah. Kasus penyiksaan dan tak diberi gaji secara tepat waktu oleh majikan kerap kita dengar lewat media massa maupun media sosial.
Namun, tak semua PMI mengalami permasalahan seperti itu. Masih banyak para PMI dan WNI di luar negeri yang berprestasi dan memberi inspirasi bagi banyak orang.
Lewat wawancara sederhana kepada beberapa calon tenaga kerja wanita (TKW) yang pernah bekerja di luar negeri, terutama yang pernah bekerja di Taiwan dan Hongkong. untuk mendengar cerita WNI dimaksud, berikut kami turunkan hasil wawancara singkat dengan kedua PMI dimaksud.
Kami menghadirkan dua wanita Indonesia dari latar belakang yang relatif sama, dua wanita tersebut adalah Darmi dan Ema, keduanya eks-TKW yang kini sedang mempersiapkan diri kembali berangkat ke Taiwan melalui PJTKI atau P3MI Hasratanda Sejahtera yang berlokasi di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Kisah Pertama
Kisah inspiratif pertama datang dari Darmi, seorang eks-TKW asal Subang, Jawa Barat yang dikenal gigih dan pekerja keras. Selama tinggal di Hongkong pada tahun 1999 hingga 2001, hari-hari Darmi dihabiskan untuk bekerja keras dan hidup hemat sehingga dalam kurun waktu 2 tahun selama bekerja di Hongkong, ia telah dapat membeli rumah sederhana seluas 60 M2 di kampungnya (Subang) pada tahun 2001 dengan harga Rp. 10 juta secara tunai. Jika dikomparasi dengan kondisi saat ini rumah tersebut dinilai seharga +/- Rp. 250 juta.
Ketika bekerja di Hongkong, Darmi kadang dihantui rasa sedih karena harus meninggalkan jauh anak yang sedang lucu-lucunya, namun tekad untuk mandiri dan membiayai anak serta keluarganya lebih besar ketimbang rasa ”kangen” itu sendiri. Kadang untuk membunuh rasa ”suntuk” yang ada padanya, Darmi meluangkan waktu untuk berkumpul bersama teman-teman sesama PMI di sekitaran Victoria park yang banyak menawarkan panganan asal Indonesia, terutama pada hari-hari Libur Sabtu / Minggu.
Menarik untuk disimak bahwa untuk mengatasi rasa duka bekerja di negeri orang, Darmi semakin giat bekerja karena menurutnya dengan bekerja lebih giat/rajin maka waktu akan terasa lebih cepat berlalu. Menurutnya lagi, dengan dapat berbahasa asing Hidup itu terasa lebih Indah dan Mudah.
Penghasilan Darmi bekerja di Hongkong selama 2 tahun pada saat itu (tahun 2001) membawa pulang uang Rp. 100 juta, sebagian dibelanjakan untuk membeli rumah sederhana, sebagian lagi digunakannya untuk menopang kehidupan keluarganya. Membeli rumah sederhana merupakan kebutuhan sangat vital bagi Darmi dan keluarga kecilnya, karena sebelumnya ia ikut mertua atau tinggal bersama di rumah orang tuanya.
Setelah pulang dari Hongkong, Darmi mencoba bekerja di Indonesia selama 8 tahun, namun selama bekerja di Indonesia ternyata belum mencukupi untuk membiayai anak-anaknya yang kini menanjak remaja/dewasa dan bermaksud bersekolah ke perguruan tinggi. Karenanya Darmi memutuskan kembali untuk berangkat ke Taiwan Selama dua tahun dalam waktu dekat.
Dalam persiapan keberangkatannya ke Taiwan, Darmi mempunyai satu tekad agar dapat berangkat secepatnya dan kelak jika telah selesai bekerja di Taiwan, dengan etos kerja, kedisiplinan dan kejujuran yang telah tertanam selama bekerja di negeri orang, ditambah modal yang ia miliki nantinya, niscaya menjadi bekal yang baik untuk membuka usaha (UKM) kelak di kampung halamannya.
Kisah Kedua
Selain Darmi ada pula Ema (35 tahun), seorang eks-TKW asal Cianjur yang kini juga sedang mempersiapkan diri ke Taiwan. Ema sebelumnya pernah menetap di Taiwan selama 2 tahun, bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) dengan gaji +/- 17 ribu NT hingga 20 ribu NT setiap bulannya. Jika dikurs dengan rupiah (1 NT berkisar +/- 493 rupiah) maka para ART di Taiwan rata-rata memperoleh Rp.9,8 –10 juta-an per bulan.
“Alhamdulillah mendapat majikan baik, jadi saya merasa betah bekerja di Taiwan, penuh semangat, gaji tepat waktu dan seluruh kebutuhan saya dipenuhi” ungkapnya. Menurutnya, meski rasa duka kadang menghantui karena jauh dari keluarga, terutama pada saat mendengar ada keluarga yang sakit karena ia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya berdoa dan mengirim uang guna membantu pengobatan keluarganya.
Ketika ditanya tentang kiat-kiat dalam mengatasi rasa duka karena jauh dari keluarga ketika di Taiwan, Ema yang dikenal penyabar dan pekerja keras dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. ”kadang saya harus menelpon keluarga, tentunya dengan seijin majikan, untuk mengobati rasa rindu akan keluarga agar timbul kembali rasa happy sehingga dapat bekerja kembali dengan semangat”. Diungkapkannya juga bahwa menetap di Taiwan mengajarkannya nilai-nilai kedisiplinan, etos kerja dan kejujuran dalam melakukan pekerjaan. Selain tentunya penggunaan bahasa Mandarin sehari-hari secara lebih tepat, sebagaimana umumnya digunakan oleh masyarakat Taiwan.
Sebagaimana seniornya, Darmi, Ema pun mempunyai satu tekad yang sama agar dapat berangkat kembali ke Taiwan secepatnya dan dengan modal kedisiplinan dan etos kerja yang ia dapatkan selama bekerja di Taiwan ditambah modal dari hasil bekerja selama dua tahun, sebagai bekal yang cukup untuk merintis usaha (UKM) guna menopang kehidupan keluarganya kelak di kampung halamannya.
Apresiasi
Pada dasarnya peluang kerja di Indonesia bagi eks-TKW seperti Darmi dan Ema yang hanya berpendidikan SMA dan/atau SMP tidaklah banyak. Sektor-sektor yang dapat diakses antara lain adalah ASN (jika berpendidikan SMA), karyawan swasta, asisten rumah tangga (ART) dan bekerja di luar negeri sebagai TKW, kini dikenal dengan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Jika masuk ASN ada berbagai kendala yang dihadapi oleh orang seperti Darmi dan Ema. Pertama harus punya ”koneksi” dan ”modal” yang cukup serta keterampilan yang di atas rata-rata agar dapat lulus seleksi ASN. Meski hal tersebut kadang dibantah oleh pejabat yang berwenang karena sesungguhnya yang bermain adalah ”oknum”, namun rahasia umum mengatakan bahwa tanpa ”modal” dan ”koneksi” mustahil orang seperti Darmi dan Ema dapat meniti karier menjadi ASN.
Sebagai ilustrasi, perolehan gaji ASN yang lulusan SMA/SMK atau yang sederajat dengan: Gaji Pokok Rp. 2.022.200 ditambah uang makan Rp. 19.000. per hari untuk DKI Jakarta x 22 hari = Rp, 418.000. ditambah tunjangan kinerja minimal sebesar Rp. 5.361.800. sehingga total peneriman ASN golongan II A dengan asumsi belum berkeluarga dan masa kerja 0 tahun sebesar Rp. +/- 7.802.000. per bulan.
Impian Darmi dan Erna untuk memasuki dunia kerja menjadi karyawan swasta, juga diperlukan ”koneksi” ditambah keterampilan yang memadai. Meski ”modal” tidak terlalu memainkan peranan penting karena sektor swasta umumnya mengutamakan calon pekerja yang terampil.
Bila jadi karyawan swasta pun komponen gaji yang akan diterimanya sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam menawarkan gaji kepada karyawannya. Patokan utama dalam sistem penggajian karyawan swasta berdasaarkan Upah Minimum Regional (UMR), kini Upah Minimum Provinsi (UMP), ditambah tunjangan tetap. Di Jakarta UMP tahun 2023 ditetapkan sebesar Rp. 4,9 juta.
Sebagai gambaran, seorang karyawan swasta yang hidup di Jakarta tentunya kurang memadai dengan penghasilan tersebut, sehingga jika ia menjadi karyawan swasta, maka harus bekerja ”dobel” atau suami-isteri bekerja agar dapat menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Bila membandingkan dengan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga (ART) di Jakarta yang berkisar Rp. 2 – 2,5 juta per bulan, tentunya bukan menjadi impian orang seperti Darmi atau Ema, karena gaji yang diperolehnya tidak cukup untuk menopang kebutuhan dasarnya, apalagi jika harus ”menyisihkan” sebagian gajinya untuk keluarganya di kampung.
Dari ilustrasi tersebut nampak bahwa gaji asisten rumah tangga (ART) yang bekerja di Taiwan lebih tinggi Rp. 2 juta dibandingkan gaji ASN golongan II A (lulusan SMA/SMK dan yang sederajat dengan masa kerja 0 tahun). Perbedaan tersebut belum dihitung komponen pengeluaran ASN berupa makan sehari-hari, tagihan listrik, tagihan air, telepon/komunikasi, transportasi kerja, cicilan kendaraan, dll yang rata-rata akan menyedot 50% lebih dari penghasilannya setiap bulan.
Sementara ART di Taiwan dapat dikatakan gaji yang diterimanya sekira +/- Rp. 9,8 hingga Rp.10 juta per bulan (belum termasuk tip dan lembur). Pengeluaran ART di Taiwan cenderung ”utuh” karena hanya pengeluaran yang sifatnya tertier, seperti jika ingin beli pakaian sendiri, sepatu pribadi dan kebutuhan pribadi lainnya seperti souvenir buat oleh-oleh/buah tangan, kadang barang tersebut dapat ia belikan dari hasil tip/kerja lembur setiap bulannya.
Sementara pengeluaran pokok lainnya seperti makan, minum dan perumahan ditanggung karena tinggal bersama majikan. Bila mendapatkan majikan yang baik, mereka akan memberikan semua kebutuhan pokok para ART seperti sabun, shampoo, serta pakaian kerja yang layak, sebagaimana diutarakan oleh TKW Ema di atas.
Sebagai jalan keluarnya, angkatan kerja seperti Darmi dan Ema yang berpendidikan SMA serta tidak mempunyai ”modal” besar dan ”koneksi” adalah sektor informal bekerja di luar negeri sebagai ART di Taiwan atau di tempat lain di luar negeri yang memungkinkan untuk itu, seperti di Singapura, Hongkong, dll.
Dapat dibayangkan dengan angkatan kerja di Indonesia (sebagaimana survei angkatan kerja nasional) per Agustus 2022 sebesar 143,72 juta orang, meningkat rata-rata 3,5 juta orang setiap tahunnya. Sementara daya tampung di sektor ASN hanya 1.031.751 untuk tahun 2023. maka ada sekira +/- 2,5 juta angkatan kerja yang tidak tertampung setiap tahunnya dan harus dicarikan jalan keluarnya.
Sesuai data BPS yang mengungkapkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia kini mencapai lebih dari 8,42 juta orang (5,86%), angka dan prosentase tersebut merupakan angka dan prosentase pengangguran tertinggi di ASEAN. Disusul Filipina dengan tingkat pengangguran (5,4%), Malaysia (4,3%), Vietnam (2,4%), Singapura (2,1%) dan terakhir Thailand yang tingkat penganggurannya hanya (1%).
Jika UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, kini UU Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja, menggariskan antara lain bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan untuk memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi, mewujudkan pemerataan kesempatan kerja serta penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan serta memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan dan meningkatkan kesejahteraannya. Maka sudah seyogianya sektor informal dan sektor formal pengiriman tenaga kerja ke luar negeri menjadi prioritas utama pemerintah saat ini.
Selain gaji yang relatif lebih besar dan “utuh” jika bekerja di sektor informal di luar negeri, etos kerja dan kedisiplinan serta kejujuran yang telah tertanam selama bekerja di luar negeri menjadi modal dasar positif dalam merintis usaha (UKM) sehingga kelak dapat lebih cepat maju dan berkembang.
Dengan adanya Direktorat Perlindungan WNI dan BHI-Kemlu serta kantor-kantor Perwakilan RI seperti KBRI/Konsulat Jenderal/Konsulat di luar negeri dan aktifnya peran-serta BP2MI, kini masalah perlindungan WNI di luar negeri semakin meningkat/terjamin.
Jika para pejuang devisa kelak usaha UKM-nya dapat maju dan berkembang di kampungnya, maka salah satu tujuan dalam memajukan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya sebagaimana yang digariskan dalam UU Ketenagakerjaan No. 3 Tahun 2003/ kini UU No, 2 tentang Cipta Kerja dapat terwujud. Semoga kedepannya Pemerintah berhasil membuat makin banyak orang yang menjadi pahlawan devisa yang berangkat ke luar negeri sebagai salah satu alternatif upaya pengentasan kemiskinan keluarga di Indonesia.
*Penulis adalah pemerhati masalah ketenagakerjaan, tinggal di Jakarta.