Pendiri DH Institute, Dina Hidayana, mengungkapkan, Metafora atau istilah baru “Mental Strawberry” yang belakangan cenderung disematkan pada generasi muda, nampaknya berpotensi dialami pejabat yang belum matang (mature), alih-alih mewakili kepentingan masyarakat kebanyakan dan memperjuangkan solusi persoalan bangsa, kerentanan juga bisa menggerogoti sebagian pejabat yang terkena strawberry syndrome, ujar Dina.
Dina mengingatkan bahwa pejabat bermental strawberry atau dalam ilmu psikologi dikenal juga dengan istilah instan gratification ini jauh lebih berbahaya. Dari beberapa literasi, ciri-ciri pejabat yang bermental strawberry dianggap rentan, rapuh, kurang tahan banting, tidak kompeten dan kurang tanggung jawab, diantaranya:
- Sulit mengontrol diri, mudah emosi dan cepat tersinggung;
- Selalu mengandalkan atasan dalam mengambil keputusan;
- Tidak berani mengambil resiko dan mudah menyerah;
- Kurang fokus, kurang sabar dan sulit menghadapi tantangan besar;
- Menuntut hak fasilitas istimewa, ingin serba instan tanpa kerja keras yang signifikan.
Sementara kondisi lingkungan strategis telah bergeser menjadi sangat dinamis, sejak 2016 terjadi perubahan signifikan era baru dari VUCA ( Volatility Uncertainty Complexity Ambiquity ), BANI ( Brittle Anxious NonLinier Incomprehensible ) dan RUPT ( Rapid Unpredictable Paradoxical Tangled ) menuju masa Turbulency, Uncertainty, Novelty and Ambiquity (TUNA). Hal ini berkonsekuensi serius bagi Indonesia yang memiliki kompleksitas kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia berikut dengan seluruh muatan problematikanya. Berbagai tantangan dan peluang dalam mengelola ketidakpastian yang semakin menggurita di semua sendi kehidupan baik itu di tingkat domestik, regional maupun internasional menjadi keniscayaan yang perlu dihadapi, tegas Dina.
Direktur Eksekutif Mardani Foundation ini melihat pengelolaan Indonesia yang multikompleks dalam kondisi stabil saja belum tentu ringan, apalagi di era TUNA. Karenanya, perlu kehandalan pemimpin yang bermental kokoh dan visioner di semua tingkatan. Bahkan, mengingat masa depan yang semakin sulit diproyeksikan, perlu kepiawaian yang melampaui kadar prasyarat kepemimpinan strategis, disamping pentingnya kolaborasi yang sistematis dan terkontrol baik, tegas Dina.
Lebih lanjut, Dina menambahkan, sementara di Tahun 2045, dicanangkan sebagai Indonesia Emas, tonggak impian yang diharapkan menggambarkan kemajuan Indonesia setelah 100 tahun kemerdekaan. Akankah kejayaan itu sekedar mimpi atau dapat terwujud sebagai kenyataan? Faktanya, saat ini kita masih dihadapkan dengan Situasi penegakan hukum atau tebang pilih yang tidak mudah, Konsistensi dan disparitas kebijakan, Dilema target dan keberpihakan anggaran, Pemilihan fokus dan harmonisasi kebijakan serta Daya internasionalisasi kompetensi SDM, teknologi dan produk Indonesia yang belum kompetitif.
Gagasan besar yang secara fundamendal telah disampaikan Presiden Prabowo perlu diejawantahkan secara proporsional melalui perangkatnya.
Pejabat bermental strawberry, karenanya, dalam jangka tertentu bukan sekedar menjadi parasit yang akan memperburuk kinerja Pemerintahan Presiden Prabowo, namun secara jamak dapat merugikan kepentingan rakyat kebanyakan dan generasi masa depan akibat mengutamakan pragmatisme (semu) dan meniadakan nasionalisme demi mereguk kenikmatan pribadi semata, yang serba instan, pungkas Dina, putri Alm Mardani Alumni Akabri AD’74.