WARTABUANA – Dikalangan pecinta batik, sosok Hartono Sumarsono sangat populer. Sukses bisnis batik dengan label Batik Kencana Ungu sejak 1972, dia mulai melirik menjadi seorang kolektor sekaligus pecinta dan pelestari kain tradisional Indonesia ini dengan cara menerbitkan buku tentang batik.
Debut Hatono dimulai dari berburu kain batik lawas dan langka, serta mencari narasumber yang mumpuni dalam hal perbatikan, Hartono pun sudah berhasil membuat empat buku sebelumnya, mulai dari Batik Pesisir Pusaka Indonesia, Benang Raja Menyimpul Keelokan Batik Pesisir, Batik Garutan, Batik Betawi.
Dan ditahun ini, ia pun kembali mengeluarkan buku ke 5 nya yang bertajuk “Batik Sudagaran Surakarta“, bertempat di acara Adiwastra Nusantara 2019 yang berlangsung di panggung utama hall B, JCC Senayan, Jakarta mulai 20 – 24 Maret 2019.

“Buku terbaru ini tentang batik Sudagaran Solo. Ini koleksi batik yang dibuat oleh saudagar di luar keraton. Di keraton sendiri tak sembarangan orang boleh menggunakan batik khas keraton. Dan ternyata batik karya saudagar ini tak kalah bagusnya dengan keraton,” kata Hartono.
Menyesuaikan tema yang diangkat oleh Adiwastra Nusantara 2019 yaitu Wastra adati generasi milenial, Hartono pun berharap kalau bukunya ini bisa menjadi sebagai salah satu pondasi bagi kaum milenial untuk aware terhadap budaya nusantara, dalam hal ini batik. Ia pun mengaku membuat buku tentang batik itu sebagai wujud dari keinginan untuk membantu kaum milenial mencari referensi dalam hal batik.
Dalam buku-buku batik yang dikeluarkan oleh Hartono, memang mempunyai ciri khas dalam tampilan dan isi buku yang hampir 80% memuat gambar-gambar batik, dan sedikitnya ada sekitar 200 motif batik yang ditampilkan dari berbagai referensi. Ia memang mengutamakan untuk lebih memperlihat seperti apa bentuk kain juga gambar dan detail kain batik tersebut. []