PHNOM PENH, 26 Februari (Xinhua) — Nilai pasar perdagangan elektronik (e-commerce) Kamboja diperkirakan mencapai 1,51 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp16.316) pada 2024, naik dari 1,29 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya, demikian menurut sebuah laporan pada Selasa (25/2).
Laporan tersebut mengungkapkan pendapatan e-commerce di negara Asia Tenggara itu akan mencapai 1,78 miliar dolar AS pada 2025.
“Pasar e-commerce yang sedang berkembang (emerging) di Kamboja hanya menyumbang 4 hingga 5 persen dari produk domestik bruto (PDB),” ungkap laporan tersebut.
Laporan itu menambahkan pendapatan e-commerce sebagian besar di antaranya berasal dari sektor makanan dan bahan makanan, fesyen, elektronik, kecantikan dan kosmetik, perawatan kesehatan, media dan hiburan, serta layanan transportasi daring (ride-hailing), transportasi dan logistik.
Facebook dan TikTok telah mengubah lanskap penjualan dan periklanan Kamboja, memberdayakan bisnis dan mendorong perdagangan daring (online) baik bagi perusahaan besar maupun usaha kecil dan menengah (UKM), kata laporan itu.
Namun, kerangka kerja regulasi diperlukan untuk memastikan perlindungan konsumen dan keamanan pembayaran guna membangun kepercayaan dan pertumbuhan yang berkelanjutan, papar laporan tersebut.
Dengan total populasi 17 juta jiwa, negara kerajaan itu memiliki 11,65 juta pengguna Facebook dan 9,96 juta pengguna TikTok per 2024, ungkap laporan tersebut.
“Adopsi pembayaran digital yang cepat, populasi kaum muda yang paham teknologi, meningkatnya penetrasi smartphone, dan dukungan kuat pemerintah mempercepat ekspansi e-commerce Kamboja,” lanjut laporan itu.
Negara tersebut telah mendaftarkan sekitar 30 juta akun dompet elektronik (e-wallet) per 2024, papar Bank Nasional Kamboja.
Laporan itu disusun oleh firma keuangan perusahaan Profitence dengan dukungan dari Kementerian Perdagangan Kamboja.
Menteri Perdagangan Kamboja Cham Nimul mengatakan dalam laporan tersebut bahwa e-commerce telah muncul sebagai sebuah pendorong utama pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing bisnis, memperluas akses pasar, dan menciptakan peluang-peluang baru bagi perusahaan dari semua skala.
“Kemajuan signifikan telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir, dengan peningkatan dalam pembayaran digital, logistik, dan mekanisme kepercayaan konsumen,” katanya.
Nimul menuturkan evolusi dari e-commerce ke ekosistem perdagangan digital yang lebih luas akan berperan penting dalam memastikan ketahanan ekonomi dan daya saing global jangka panjang.
Jack Lee, sekretaris Asosiasi Profesional Ekonomi Digital dari Kamar Dagang China di Kamboja, mengatakan e-commerce telah menjadi populer di Kamboja dalam beberapa tahun terakhir berkat peningkatan pesat dalam hal pengguna internet dan pembayaran digital.
Dia mengatakan tingkat cakupan pengguna platform digital di negara kerajaan ini bervariasi pada berbagai sektor e-commerce.
“Pembayaran seluler dan perdagangan sosial memiliki tingkat penetrasi tertinggi, melampaui 50 persen,” ujarnya kepada Xinhua. “Layanan pesan-antar makanan dan layanan ride-hailing mayoritas menargetkan penduduk perkotaan, dengan tingkat penetrasi lebih dari 20 persen.”
“Banyak bisnis Kamboja mengandalkan Facebook, TikTok, dan Telegram untuk menjual produk, menjadikan perdagangan sosial sebagai tren yang dominan,” imbuhnya. Selesai