Friday, 10 June 2011 09:44

Tuhan Ampuni Setan

Editor  Soenarwoto Prono Leksono
Rate this item
(0 votes)

 

 

 

Oleh: H Soenarwoto Prono Leksono (Pimred WARTABUANA.COM)

 

Seorang lelaki memasuki rumah kediaman Kyai Sepuh—pada sebuah malam. Lelaki berpenampilan klimis berbaju gamis itu adalah anggota dewan. Setelah uluk salam dan berjabat tangan,  ia segera duduk bersimpuh dengan takzim di depan kyai. Seperti ada wigati, penampilannya dibuat tenang tapi terlihat resah dan gelisah mengapung di raut mukanya. Sementara dengan wajah teduh Kyai Sepuh hanya mesem.

 

Si tamu tampak segan melihat Kyai sepuh duduk jumawa. Begitu acuh tangannya tetap mengitarkan biji tasbih. Berdzikir. Setelah diam sejenak disertai menarik nafas dalam-dalam lelaki itu memberanikan angkat bicara. Lelaki itu nguda rasa, mendedah segenap beban rasa hatinya. Diungkapkan secara blak-blakan kepada kyai, dengan harapan bisa berkurang bebannya.

 

Syukur-syukur Kyai Sepuh bisa memberi pencerahan batinnya sekaligus memberi solusi yang menyejukkan. ‘’Hidup saya sekarang tak pernah tenang dan tentram, kyai. Ini saya rasakan sejak duduk jadi anggota dewan,’’ keluh lelaki itu dengan wajah lesu.

 

Udara malam berhembus memasuki balai ruang tamu kediaman kyai. Kyai Sepuh menatap dalam-dalam ceruk mata lelaki itu. Dan tak seberapa lama Kyai Sepuh bertanya,’’Mengapa, kok begitu..?’’

 

Pertanyaan kyai ini terasa hendak menginterogasi lebih dalam meski hanya terucap tiga suku kata. Dan pertanyaan yang hanya tiga suku kata itu membuat lelaki anggota dewan gelagaban. Ia kesulitan harus darimana untuk memulainya. ‘’Anu...kyai,...anu,’’ jawabnya gagap dan gemetaran.

 

’Kok anu...anu... bagaimana toh? Ayo, santai saja nak mas,’’ pinta Kyai Sepuh sambil berdehem. Dalam adat jawa apalagi yang melakukan Kyai Sepuh, berdehem merupakan isyarat sudah mengetahui isi hati dari lawan bicara.

 

Lelaki itu pun akhirnya menceritakan persoalan sebenarnya. Niatan datang kepada kyai juga ingin melakukan “pengakuan dosa” dan bagaimana cara taubatnya. ‘’Begini kyai, sejak duduk jadi anggota dewan saya telah melakukan banyak dosa,’’ jawabnya.

 

Tanpa diminta merinci, ia pun menguraikan satu per satu tindakan dosa yang telah dilakukan. Utamanya, ia sering terlibat praktik tindak korupsi bersama teman (anggota dewan). Suka menggelembungkan atau menyunat uang anggaran bermacam program yang dicanangkan pemerintah. Berkolusi dengan pihak eksekutif dalam menetapkan perda atau produk perundang-undangan, kebijakan dan semacamnya.

 

Selain itu suka ber-cincai dengan para pengusaha nakal. ‘’Jadi.., saya ini sudah sering  makan hasil uang haram, kyai,’’ jelasnya. Ia juga mengaku sering bersama teman-teman nenggak minuman keras di kafe, diskotek, atau tempat-tempat hiburan yang menjajakan minuman keras. Ia sering mabuk-mabukan.

 

Kalau sudah begini ia pun suka tidur bersama penjaja seks komersial (PSK) alias pelacur. Tentu bukan di lokalisasi murahan, dengan hasil uang korupsi yang berlimpah, ia menyewa tempat mewah dan wangi--misalnya di hotel atau vila. Wanita yang diajaknya kencan pun pelacur berkelas mahal.

 

Celakanya, perbuatan yang dibilang “buang hajat” ini kerap dilakukan pula saat menjalankan tugas, seperti kunjungan kerja (kunker) dewan--di luar kota atau luar negeri. Pendek kata sesuai pengakuannya perbuatan molimo seperti maling, mendem, madon telah semua dilakukan. ‘’Saat ini, hanya membunuh saja yang belum saya lakukan, kyai,’’ jelasnya.

 

Mendengar ungkapan ini setelah sekian saat diam, Kyai Sepuh nyletuk. ‘’Siapa bilang sampean belum pernah membunuh orang. Akibat anggaran pertanian, kesehatan, dan pendidikan dikorupsi itu banyak rakyat jadi susah, ada yang mati ngenes. Malah ada yang gantung diri. Apa itu tak membunuh orang?’’

 

Dan inilah yang tak pernah disadari oleh para koruptor. Karenanya, Kyai Sepuh memastikan bahwa uang hasil korupsi itu haram. Tidak mbarokahi. Korupsi telah membuat hidup rakyat jadi sengsara dan menderita. ‘’Betul kyai, uang itu tak berbentuk apa-apa kecuali kami buat untuk hura-hura’’ tukasnya.

 

Mendengar jawaban ini Kyai Sepuh kembali mesem. ‘’Ya...iyalah, masak iya donk. Uang korupsi itu, ibaratnya uang dari Setan diambil Demit,’’ ujar Kyai Sepuh dengan tutur gaul bak anak muda tapi terasa nylenthik di kuping.

 

Dan lelaki itu, yang biasa berkata lantang di podium atau di panggung politik, langsung mengkeret. Surut ucap tak berani berkata-kata lagi. Kyai Sepuh tahu akan hal itu. ‘’Lalu bagaimana sekarang setelah sampean mengakui dosa-dosanya. Hendak lanjut, atau bertaubat?’’ tanya Kyai Sepuh membuat pilihan.

 

Lelaki itu kian tak bernyali. Akan tetapi, ia tetap berharap mendapat pengayoman dari Kyai Sepuh. Setidaknya ingin mendapat fatwa yang menyejukkan. Dengan begitu ia bisa hidup kembali dengan tenang dan tenteram. ‘’Agar hidup saya tak resah dan gelisah, ya tentu ingin bertaubat toh kyai,’’ jawabnya meyakinkan.

 

Kali ini Kyai Sepuh tersenyum renyah. ‘’Kalau gitu, ya cepat sana bertaubat. Gitu saja kok repot,’’ perintah Kyai Sepuh dengan enteng. Tapi lelaki itu mengiba bertanya,’’Taubat saya apa bisa diterima. Kalau dikalkulasi jumlah dosa saya sangat berat lho, kyai.’’

 

Mendengarnya Kyai Sepuh malah terkekeh-kekeh. ‘’Jangankan kamu masih manusia sebagai keturunan Adam, belum menjadi Setan. Sedangkan Setan saja sudah diampuni oleh Allah,’’ jelas Kyai Sepuh mengutip sebuah hadis. ’’Itu asalkan taubatnya bersungguh-sungguh dan hanya berharap ridla-Nya.’’

 

Lalu, Kyai Sepuh pun bercerita tentang kisah “persahabatan” antara Nabi Musa dan Setan. Suatu kali Setan pernah menyatakan insaf. Tidak ingin menggoda manusia untuk mengajak ke neraka. Maka, Setan minta bantuan kepada Nabi Musa agar Allah mengampuninya. Nabi Musa lalu menghadap kepada Allah dan mengutarakan niatan Setan. Apa kata Allah? ‘’Bilang kepada Setan, sekarang dia saya ampuni. Asal dia sekarang mau bersujud di makam Nabi Adam,’’ perintah Allah.

 

Seruan Allah tersebut langsung disampaikan kepada Setan. Tapi apa kata Setan,’’Adam semasih hidup, aku tak sudi bersujud kepadanya, apalagi sekarang sudah mati aku disuruh sujud di makamnya.’’ Setan tetap menolak perintah Allah. Dan entah, apa lelaki anggota dewan yang datang kepada Kyai Sepuh itu sekarang sudah benar-benar bertaubat (berhenti korupsi) atau tidak?

 

 

 

ShareShare on LinkedIn
Last modified on Saturday, 11 June 2011 16:34

Leave a comment

Pastikan Anda mengisi kolom yang diberi tanda asterik (*)