komunitas

Ada 19 Profesor Jadi Pengurus Ikatan Apoteker Indonesia

Anggi SS | Senin, 21 Mei 2018 17:20 WIB | PRINT BERITA

ist

 

JAKARTA, WB - Ketua Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI), Drs. Nurul Falah Eddy Pariang, Apt, melantik 118 orang pengurus pusat IAI periode 2018-2022. Kepengurusan IAI kali ini lebih beragam dan dari banyak kalangan, mulai praktisi, profesor sampai direktur perusahaan.

 

“Ada sesuatu yang baru karena sekarang ini merupakan gabungan antara praktisi, perguruan tinggi dan perusahaan. Selain praktisi, ada 19 profesor dan banyak doktor serta beberapa direktur perusahaan farmasi. Dengan komposisi seperti ini diharapkan akan melahirkan kerja sama yang lebih mix dengan lintas profesi yang ada dimana-mana,” ujar Nurul Falah di Hotel JS Luwansa, Jakarta (19/5/2018).

 

Nurul Falah yang  menjabat untuk periode kedua ini dibantu Sekretaris Jenderal, Noffendri, S.Si., Apt, Bendahara Umum, Dra. Ellen Wijaya, Apt., MS., MM, dan beberapa nama lainnya masih melanjutkan kepengurusan sebelumnya.

 

Menurut Nurul Falah, ada empat tantangan yang menjadi masalah yang harus mendapatkan perhatian besar para pengurus dan anggota IAI seperti masalah praktik kefarmasian, peningkatan kesejahteraan terkait  Jaminan Kesejahteraan Nasional (JKN), tranformasi pendidikan dan digitalisasi penjualan obat.

 

 Drs. Nurul Falah Eddy Pariang, Apt

“Kami ingin para apoteker lebih profesional dan bertanggung jawab terutama sekali yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat, seperti di apotek.  Kami sepakat bahwa apotek adalah tempat pengabdian profesi,” ujar Nurul Falah yang mengaku masih terus melakukan perbaikan agar di setiap apotek harus ada apotekernya selama melayani konsumen.

 

Terkait JKN, Nurul menyimpulkan, sekarang ini para apoteker terutama yang berkerja di apotek mendapatkan gaji dari harga obat, bukan dari keterampilannya melakukan praktek kefarmasian. “Kami ingin sekali para apoteker diberikan kesempatan mempraktekan kefarmasian dengan baik,  dan juga diberi imbalan yang memadai sesuai profesinya,” harap Nurul Falah.

 

Menurut Nurul Falah, apotek itu bukan semata-mata tempat penjualan obat, tetapi tempat pengabdian profesi para apoteker untuk melakukan praktek kefarmasian, sehingga harus dihargai.

 

 

Nurul Falah tidak menampik kehadiran teknologi informasi, terutama internet sangat membantu perkembangan dunia kefarmasian. Namun dia khawatir jika penjualan obat secara online tanpa keterlibatan apoteker bisa berdampak buruk terhadap masyarakat.

 

Data IAI mencatat penjualan obat secara online sangat marak.  IAI mengusulkan adanya peraturan Menteri Kesehatan tentang e-farmasi agar  penjualan secara online memiliki aturan yang jelas. Seharusnya penjualan obat-obatan secara online ada apotekernya.

 

 

“Sehingga obat itu dijamin keasliannya, konsumen mendapat informasi yang memadai dari apoteker. Tidak seperti sekarang, banyak online yang  jualan obat-obatan, tetapi kita tidak tahu keasliannya,” tegas Nurul Falah.

 

Tantangan lain yang juga penting yang harus di tuntaskan pengurus IAI adalah masalah transformasi pendidikan apoteker. Mestinya lulusan kefarmasian secara otomatis adalah berprofesi sebagai apoteker. Selama ini dua kali ijin, pertama sarjana farmasi dan ijin apoteker. ”Padahal orang yang masuk fakultas farmasi, mestinya menjadi seorang apoteker, kata Nurul Falah.

 

Kepengurusan IAI sekarang memiliki beberapa program baru, namuan secara umum masih terus melanjutkan dan menuntaskan program lama yang masih berjalan, seperti penuntasan Rancangan Undang-undang Framasi.

 

“Kita ingin menyampaikan kepada DPR dan Pemerintah  tentang perlunya memiliki Undang-undang Farmasi, sebab negara sebesar ini sudah seharusnya memiliki undang-undang farmasi. Farmasi adalah salah satu unsur ketahanan bangsa, jika ada persoalan dikefarmasian seperti peredaran obat atau vaksin palsu, negara bisa terancam,”  ungkap Nurul Falah.

 

Nurul Falah berharap lembaga yang dipimpinnya ini bisa memberikan manfaat kepada masyarakat, khusunya  pada semua anggota. []

 

 

 

 

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

Lepas 4.000 Burung, Cara Wirdha Sylvana Rayakan Ulang Tahun

22 Juli 2018 | 17:42 WIB

Di tengah persoalan keluarga dan kasus narkoba yang menjerat beberapa kerabatnya, Wirdha Sylvana,  putri kedua Ratu Dangdut Elvy Sukaesih ini menggelar syukuran Milad-nya yang ke-40 bersama puluhan anak yatim dan melepas 4.000 ekor burung.

Petarung Isu Kebangsaan dan Marketing Gagasan

19 Juli 2018 | 13:21 WIB

Itu sudah menjadi hukum besi sejarah. Hal baik yang tidak diorganisir akan dikalahkan oleh hal buruk yang diorganisir. Gagasan baik yang tidak diperjuangkan, digaungkan, disosialisasi bisa dikalahkan oleh gagasan buruk yang dimarketingkan secara efektif.

 

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber