potret

Jembatan Emas, Ikon Baru Provinsi Babel

Anggi SS | Senin, 18 Desember 2017 10:25 WIB | PRINT BERITA

Erzaldi Rosman Djohan dan Jembatan Emas /ist

 

WARTABUANA -  Jika selama ini Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dikenal sebagai penghasil timah, lima tahun mendatang kawasan ini bakal menjadi destinasi wisatawan mancanegara. Tidak mustahil, nantinya kepulauan ini akan disinggahi kapal-kapal pesiar.

 

Perubahan itu menjadi `amanat` yang harus dikerjakan oleh Gubernur Bangka Belitung DR. Erzaldi Rosman Djohan, S.E., M.M. selama masa jabatannya. Meski waktu yang dimiliki relatif singkat, namun Erzaldi yakin, masyarakat Babel akan mendukung penuh upaya itu demi kesejahteraan bersama.

 

 

Erzaldi menyadari, tidak mudah mengubah kebiasaan yang sudah dilakukan sekian lama dalam waktu singkat. Namun demikian, menurutnya bukan berarti Babel hanya tergantung dari tambang timah untuk selamanya.

 

“Maka itu harus kita mulai sedikit demi sedikit sektor pertambangan dikurangi dan diganti ke sektor pariwisata. Apalagi pemerintah pusat telah menunjuk Pulau Belitung sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata,” ujar Erzaldi saat dijumpai di Bandara Soetta, Tangerang, Banten, Minggu (17/12/2017) .

 

Erzaldi juga mensayangkan ketika kepulauan Bangka Belitung yang notabene sangat banyak unsur lautnya ketimbang daratnya, tetapi kebijakannya tidak menyentuh kelautannya.

 

 

Pembangunan di Babel menitik beratkan pada tiga program unggulan, yakni  pariwisata, pertanian dan kelautan. “Untuk mewujudkan itu semua kita sangat butuh konektifitas Bangka Belitung  dengan daerah luar.  Selain konektifitas udara, kita sangat perlu konektifitas laut yang bagus dan baik,” jelasnya.

 

Selain terkenal dengan kisah “Laskar Pelangi”nya, kawasan Babel juga memiliki ikon berupa jembatan yang hanya satu-satunya di kawasan Asia, yakni “Jembatan Emas” yang akan diresmikan pada Jumat, 29 Desember nanti.

 

Jembatan yang terbentang di atas sungai Batu Rusa dan memiliki panjang hingga 784 dan lebar 24 meter ini menghubungkan Kelurahan Ketapang, Pangkalpinang dengan Desa Air Anyer, Merawang.

 

Jembatan ini dibangun Hutama Karya menggunakan konstruksi cable stay dan sistem bascule (jungkit) pada bentang tengahnya. Sistem jungkit digunakan untuk mendukung lalu lintas kapal di Sungai Batu Rusa menuju pelabuhan Pangkalan Balam, sekaligus sebagai pengamanan lalulintas kapal.

 

Sistem jungkit digunakan untuk mendukung lalu lintas kapal di Sungai Batu Rusa menuju pelabuhan Pangkalan Balam. Dengan sistim ini, Jembatan Emas dapat dibuka hingga 70 derajat sehingga memungkinkan kapal bergerak dengan ruang bebas horizontal 70 meter.

 

Sistem jungkit Jembatan Emas dapat dioperasikan dengan tiga  cara. Pertama dengan sistem manual, kedua sistem komputerisasi, dan ketiga sistem automatic sensor pendeteksi kapal. Dengan menggunakan sistem ini, otomatis tidak mengganggu arus kapal yang melintasi Sungai Batu Rusa.

 

Saat peresmian nanti, jembatan yang sudah dihiasi lampu-lapmu LED ini akan dikemas sedemikian rupa menggunakan teknologi video mapping dan tata cahaya yang apik. Warga dapat menikmati langsung acara peresmian jembatan tersebut sambil menikmati konser musik jazz yang dikemas dalam tema Jazz On The Bridge 2017.

 

Sederet musisi dan penyanyi jazz seperti Rieka Roeslan, Tompi, Fariz RM, Mus Mujiono dan artis lokal Pangkalpinang akan menghibur warga babel diiringi kelompok musik Idang Rasjidi Syndicate.

 

 

Kapal pesiar

Keberadaan “Jembatan Emas” menjadi salah satu upaya Babel meningkatkan sektor pariwisata pengganti tambang timah sebagai Penghasilan Asli Daerah (PAD). Penunjang lain adalah pelabuhan yang representatif yang dapat disinggahi kapal pesiar.

 

“Sekarang sudah ada pelabuhan, namun sangat dangkal, draft-nya hanya 5 meter sehingga kapal yang masuk hanya yang bertonase kecil, sehingga mempengaruhi proses distribusi barang yang berimbang kepada harga barang yang tinggi,” ungkap Erzaldi yang kelahiran Pangkalpinang, 31 Oktober 1969 ini.

 

Jika harga barang tinggi, inflasi ikut tinggi, menurut Erzaldi akibatnya kondisi itu tidak bisa mendukung program pariwisata. Karena pariwisata akan mahal sehingga tidak bisa bersaing dengan daerah lain.

 

“Alhamdulillah kita sudah punya program pembangunan pelabuhan skala besar dengan draft air di atas 13 meter yaitu di Tanjung Berikat atau di Belinyu. Kita sedang menganalisa amdalnya agar pembangunan pelabuhan tidak merusak lingkungan,” ungkap suami dari Melati Erzaldi, S.H ini.

 

Menurut gubernur yang diusung Partai Golkar dan Partai Gerindra ini, sudah terjadi kesepahaman antara para pelaku bisnis di Babel untuk bersinergi mewujudkan kawasan yang semula pertambangan menjadi kawasan industri.

 

“Jika sudah hadir pelabuhan yang bisa dimasuki kapal pesiar, otomatis banyaknya   wisatawan yang datang menjadi sumber penghasilan yang baru dan berjangka panjang. Untuk mewujudkan itu, kita harus mensikronisasikan antara program parisiwata dengan program pertambangan. Nantinya, usaha tambang akan berkurang, sektor pariwisata akan naik. Memang ini bukan perkejaan yang mudah,” ungkap Erzaldi.

 

Dengan kehadiran pelabuhan yang representatif, Erzaldi sangat yakin pariwisata di Babel akan berkembang pesat. “Saya sudah membuka komunikasi dengan para pelaku bisnis di Singapura. Mereka akan membuka link Singapura, Bangka, Belitung, Serawak dan kembali ke Singapura. Itu butuh waktu enam hari,” jelasnya.

 

Erzaldi memaparkan, pihaknya telah menjalin komunikasi bisnis dengan para pengelola kapal pesiar taraf internasional  seperti  Holland American Cruise Line, Gueen Ellizabeth Cruise Lione, Carnivalle Cruise Line dan masih banyak lagi pengelola kapal pesiar untuk singgah di Babel. 

 

Selain menambah jumlah penyeberangan dari Bangka ke Belitung dan sebaliknya, jalur penerbangan juga ditambah destinasinya. “Saya targetkan, tahun ini tambah dua penerbangan.  Jogja - Bangka dan Bandung - Bangka. Tahun depan saya berharap ada rute Bali - Bangka, Medan - Bangka, dan Lampung  - Bangka. Semua yang ke Bangka pasti harus ke Belitung,” ujar Erzaldi.

 

Erzaldi sangat yakin belasan destinasi wisata di Babel mampu menyedot wisatawan mancanegara sehingga target pemerintah menghadirkan 20 juta wisatawan akan tercapai. Namun semua itu harus ditunjang sarana dan infrastruktur yang memadai, salah satunya pelabuhan.

 

Menurutnya, jika satu pesawat itu hanya mampu membawa sekitar 300 penumpang, namun sebuah kapal pesiar kapasitasnya bisa mencapai 10.000 orang. Jika satu hari ada 10 kapal pesiar yang datang, tentu ini menjadi harapan besar kemajuan Babel.[]

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber